Bagikan

Lok-lokan khas Surabaya itu jauuuh lebih banyak dari yang ditulis Cak Aga. Karena itu, begitu saya membaca tulisan tersebut, hati saya meronta-ronta, jantung saya berdegup keras (bukan karena lapar atau jatuh cinta), saya ingin menambahkan daftar lok-lokan langka itu!

(Baca seri 1-nya: 4 Olok-olok Surabaya yang Mulai Langka dan Cara Penggunaannya)

Apa saja lok-lokan itu. Mari kita kemon!

1. Njemamus

Kata njemamus ini awalnya lebih populer di daerah Surabaya pinggiran bagian utara. Kata ini berarti keadaan yg mengenaskan. Kalau digambarkan ke orang, ya orangnya yang ngenes. Wes pokoke apes lah.

Penggunaanya, gampang.

“Jangkrik! Tiwas tak enteni 2 jam tibake ditinggal turu. Aku njemamus nang lapangan jeeeh

“Eh, delokan ta. Cek emane cewek iku. Areke uaayu ngunu, lanangane njemamus.” (maaf, contoh kalimat ini tidak mengandung iri dan dengki)

Bisa juga seperti ini.

2. Makmu Sempakan Seng

Kata ini hampir sama dengan Makmu Kiper. Maknanya, kekesalan karena sesuatu hal yang tidak mungkin. Kalo diartikan satu-satu, makmu berarti ibumu sedangkan sempakan berarti memakai sempak (celana dalam). Seng adalah sejenis logam tipis yang biasa dipakai untuk atap kandang ayam atau warung-warung kaki lima di pinggir jalan.

Kalau diartikan memang sangat mustahil. Bisa dibayangkan bagaimana jadinya kalau ibu-ibu memakai celana dalam dari seng. Bisa kebeler. Penggunaannya bisa seperti ini.

Bagi yang tidak siap, Makmu Sempakan Seng memang sangat kontroversial. Apalagi ini sudah melibatkan ibu kita. Karena itu, ada versi lain yang menjadi alternatif. Misalnya, Makmu Sempakan Asbes. Tentu ini lebih tidak mungkin lagi.

Ada lagi yang lebih melunak maknanya. Yakni, Makmu Sempakan Kanebo.

Bagi yang tidak biasa dengan lok-lokan Suroboyo ini memang dianjurkan untuk tidak menggunakannya. Sebab, bisa-bisa Anda memicu pertengkaran hebat. Apalagi jika lok-lokan ini Anda lakukan kepada istri Anda. Tentu ibu mertua akan menyerbu Anda dan bilang, “Mantu kurang ajar. Aku gak sempakan seng. Aku sempakan levis!” Duh!

3. Nggatheli

Nggatheli adalah jenis makian atau umpatan yang hampir sama dengan kata jancuk, jancok, atau dancuk (ejaan ini dikoreksi langsung oleh Cak Ipung). Nggatheli bisa digolongkan ke dalam kata sifat yang berasal dari kata gathel. Ingat, ini bukan gatel yang berarti ingin digaruk lho yah.

Biasanya nggatheli digunakan karena merasa kecewa terhadap satu orang. Tapi kekecewaannya masih dalam batas wajar. Seperti contoh di bawah ini.

Koen iku ojok nggatheli ta. Wes ditulung malah aku mbok pisuhi jeeeh.”

Eh. Wong iku lho nggatheli koen. Mosok sing liyane antri, eh wong iku malah nyerobot. Mentolo tak gibeng ae…”

Bisa juga seperti ini.

 4. Kaspo

Kata kaspo ini paling gampang dipakai, tapi juga mulai jarang digunakan. Sauwedih sih sakjane. Padahal, artinya sangat gampang. Yakni, berbohong. Sebut saja seseorang kaspo, berarti orang itu pembohong. Contoh kalimatnya bisa seperti ini.

Koen jare arep dolen nang omah tibakno kaspo!”

Tidak hanya manusia yang bisa kaspo. Film juga bisa kaspo. Seperti ungkapan berikut ini.

Demikian 4 butir lok-lokan langka yang perlu dilestarikan. Saya juga masih sangat yakin banyak di luar sana yang belum diungkapkan di sini. Sementara ini, saya akan banyak gumbul wong-wong lawas biar bisa nambah lagi lok-lokan langka lebih banyak. Walaupun saya memang sudah lawas orangnya…


Bagikan

3 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here