Bagikan

Selama banteng-banteng Indonesia masih mempoenjai darah merah jang dapat membikin setjarik kain poetih mendjadi merah dan putih, maka selama itoe tidak akan kita maoe menjerah kepada siapa poen djoega!

MakNews – Demikianlah salah satu kalimat penyemangat rakyat Surabaya yang dikumandangkan Bung Tomo beberapa saat sebelum pertempuran akbar 10 November 1945. Hari Itu, rakyat Surabaya yang juga diperkuat oleh pemuda-pemuda dari berbagai pelosok nusantara, dari sabang sampai merauke, bersatu padu berjuang mempertahankan kedaulatan negeri.

Lhah, kenopo aku moro-moro nulis iki? Ya, meskipun belum November, kan tidak ada salahnya kalau kita membicarakan Bung Tomo, Perjuangan, dan 1945. Sekelumit cerita yang akan saya sampaikan adalah nukilan demi nukilan dari sebuah buku berjudul “Pertempuran 10 November 1945” yang ditulis Bung Tomo, dan diterbitkan pertama kali pada 1951 silam. Lantas, diluncurkan ulang pada 2008 lalu oleh Visimedia, Jakarta.

Al kisah, buku ini bisa membuat kita belajar, bahwa perbedaan kelas persenjataan tidak jadi soal pada masa itu. Sebab, semangat juang telah berkobar mencapai langit. Ketidakinginan kemerdekaannya direbut, telah membuat bangsa Indonesia beringas dan menerima tantangan bala tentara Inggris yang pada 9 November 1945 menyebarkan pamflet berisi seruan agar rakyat Surabaya menyerah pada mereka.

Gubernur Suryo, seorang pemimpin bijak Surabaya, pada waktu itu telah memberikan restu secara lisan pada rakyat untuk berjuang mempertahankan kota. Hal tersebut  turut melecut semangat juang putra-putri bangsa untuk hanya mengambil satu dari dua pilihan: merdeka atau mati.

Yang berjuang sejatinya bukan hanya para pemuda. Orang-orang tua yang penuh ambisi membela tanah air, para pemudi dan ibu-ibu yang mengikhlaskan waktu dan tenaganya di dapur umum atau bagian P3K serta anak-anak yang tak gentar melempar  granat tangan ke arah tank-tank musuh, juga merupakan bukti bahwa kemerdekaan dicapai dengan persatuan bangsa tanpa pandang bulu.

Dari kisah itu, dulur sekalian, seharusnya kita sadar, bahwa keyakinan dan sinergitas itu lebih penting dari segala. Wes ta lah, tidak perlu sibuk mengurus perbedaan. Tidak ada habisnya. Saling manghargai saja, dan hindari anarakistis.

Nek ada dulur dari kawasan lain ingin merdeka dari Indonesia, ojok langsung mok kepung mok gepuki. Keluarga sendiri, harus diajak ngomong. Jangan diajak mabuk, apalagi dihajar dan dihabiskan. Ojok emosian, Rek.

Tapi, Insya Allah, hal seperti itu tidak akan terjadi di Surabaya. Tidak di Surabaya! Karena di kota ini, negeri ini dipertahankan.

Tidak hanya oleh orang Surabaya, boloku rahimakumullah. Namun juga, oleh semua orang Indonesia yang ada di sini dari berbagai latar belakang. Bahkan konon, kawan-kawan dari luar kota dan luar pulau sengaja hadir untuk ikut berperang di kawasan para pemberani ini.

Kembali soal buku

Pembeli buku ini akan mendapatkan sekeping compact disc yang berisi suara pidato Bung Tomo ketika membangkitkan gairah juang rakyat di tahun 1945. Serta, pidato beliau di tahun 1970 pada sebuah acara peringatan hari pahlawan. Buku yang merupakan cetakan kedua ini juga menyuguhkan desain sampul semi horor yang lebih “berwarna” dibandingkan dengan cover pada cetakan pertamanya di tahun 1951.

Maklum, perkembangan tekhnologi selama lima puluh tujuh tahun sangat pesat. Foto-foto dan gambar-gambar dokumenter di masa perjuangan kemerdekaan menambah semarak buku yang terbagi atas delapan belas bab ini.

Kepiawaian Sutomo yang berprofesi sebagai wartawan terlihat kala dia mampu menginformasikan situasi yang terjadi pada masa itu dengan sistematis dan gampang dipahami. Pemilihan kata yang diselingi dengan pendeskripsian yang sastrawi semakin membius pembaca sehingga enggan beranjak sebelum menghabiskan seluruh tulisan dalam buku ini. Gaya bahasa yang variatif dan brilian terkesan lihai mengaduk perasaan pembaca yang terkadang dibawa terharu, serius, menggebu, sampai tersenyum takjub.

Buku yang dilengkapi lampiran naskah pidato bung Tomo menjelang pertempuran 10 november 1945 ini akan turut menambah wawasan pembacanya mengenai peristiwa-peristiwa bersejarah pada masa itu. Terdapat kronologis-kronologis tentang perobekan bendera Belanda di Hotel Yamato alias Hotel Oranye (sekarang hotel Majapahit), insiden tewasnya Brigjen Mallaby beserta polemik opini seputarnya, pembentukan organisasi pemberontakan dan radio pemberontakan.

Walaupun untuk mengenal dan tahu tentang sejarah diperlukan banyak saksi dan bukti otentik, namun, keterangan sejarah yang diberikan seorang pejuang hidup semacam Bung Tomo, tetap layak disimak. (*)


Bagikan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here