Bagikan

Rabu lalu (24/2) terjadi fenomena luar biasa di kawasan Wiyung dan sekitarnya. Konon, hal ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Apakah itu, saudara-saudara? Banjir yang kabarnya sepinggang orang dewasa di seputaran Babatan Pratama.

Baiklah, kalau banjir segitu mungkin pernah terjadi di masa lampau. Yang juga luar biasa itu imbasnya. Apakah itu wahai bapak-bapak dan ibu-ibu? Macet panjang.

Bembem, apesnya, ikut kena macet di pertigaan Kedurus-Mastrip. Mandek jegrek sekitar dua jam setengah. Satu jam, jalan merambat-rambat. Dari titik itu, dia butuh waktu tiga jam setengah untuk sampai Warkop Klutak Lidah.

rio-oke
Rio F. Rachman. (Ilustrasi: Iwan Iwe/MakNews)

Di kawasan perumahan dekat Unesa Lidah, Comel juga kena banjir. Tingginya sampai merendam jok sepeda motor matic kesayangannya. Apakah motornya mogok? Alhamdulillah. Mogok. Yo mesti ae!

Baik Bembem dan Comel speechless. Bahkan, saat itu sudah berlalu beberapa hari, mereka tidak mau berkomentar tentang banjir dan macet tersebut. Kala kumpul-kumpul di Warkop Klutak tadi malam, mereka pun memilih irit bicara.

“Hujan-hujan saja. Asal tidak banjir, tidak apa-apa. Karena kalau banjir, macetnya minta ampun. Dan kalau banjir, ya banjir. Bukan genangan dong namanya,” gerutu Bolang sambil membenarkan topi barunya yang dibeli di distro depan Babatan Mukti. “Si Bembem dan Comel ini sampai nggak mau komentar apa-apa tentang banjir dan macet tempo hari, Sur. Konon, mereka tersentak dan terhipnotis,” sambung Bolang.

“Mungin mereka merasa, pemkot yang selalu mereka puja-puji akhirnya kalah juga dengan alam,” ujar Suro. “Atau bukan kalah karena alam. Tapi, yak arena tidak siap melawan alam. Menata kota tidak hanya soal taman, kan?! Tapi, soal banjir juga. Ini fenomena yang luar biasa, lho. Seharusnya, pemkot yang kabarnya di-back up banyak orang ITS itu sudah bisa memprediksi sejak jauh hari, ” sambut Bolang.

Bembem dan Comel yang dijadikan bahan rerasan masih tidak mau berujar. Mereka hanya mendengar sambil sesekali mata menerawang. Hujan turun lumayan banyak. Tapi, belum bisa dikatakan lebat.

“Pemkot tidak boleh kecolongan lagi. Sebelumnya kan sudah ada banjir di sekitar Karang Pilang. Seharusnya, itu menjadi pertanda pula. Komplekslah perkara banjir dan macet ini. Kita tentu tidak ingin menjadi seperti Jakarta,” Bolang menuliskan.

“Cangkemmu selalu kemeruh, Lang. Coba catat analisamu itu, jadikan artikel opini. Kirim ke Jawa Pos atau Kompas. Pasti dimuat!” Bembem tiba-tiba meledak. “Kok, kamu seperti emosi begitu, Bem. Aku kan mengkritik Pemkot. Bukan mengkritik keluargamu. Atau keluargamu ada yang kerja di Pemkot?” Bolang merasa heran.

“Mungkin Pemkot terlalu merasa aman dengan kondisi cuaca tahun ini. Jadi, kurang antisipasi,” Suro berasumsi. “Memang, yang paling mudah itu menyalahkan pemerintah,” Comel nyeletuk.

“Lho, mulai mau bicara mereka,” Bolang menyergah lalu nguntal tahu petis. “Aku hanya membayangkan, kalau-kalau penyebab banjir itu adalah sampah. Dan sampah tersebut, ternyata aku yang membuang. Hitungannya, aku kan sering lewat Wiyung. Bisa saja, tanpa sadar aku membuang bungkus kerupuk. Lalu, bungkus kerupuk itu ikut berkontribusi membuat aliran mampet. Mampet, banjir, macet. Rumah-rumah orang terendam. Melekan ngangkat perkakas ke ranjang rumah atau bahkan atap. Duh, betapa berdosanya,” Comel tumben-tumbenan jadi melow begini.

“Maka itu, konon di akhirat kelak, pemerintah yang bekerja dengan giat, akan dapat pahala sangat banyak. Soalnya, mereka mengatasi persoalan-persoalan yang sejatinya diakibatkan oleh masyarakat. Misalnya, masalah Comel yang membuang sampah sembarangan. Yang salah Comel. Tapi, pemkot yang memberi solusi dan menanganinya. Mengantisipasi. Tidak ada banjir, tidak ada macet, tidak ada orang usung-usung perkakas. Luar biasa mulianya orang pemkot kelak,” Suro berdalil.

“Terus, kalau mereka tidak bisa mengantisipasi. Gimana dong, Pak Ustad Suro Al Babatani?” Bolang bertanya sambil setengah mengejek. “Yo mbuh. Wallahua’alam,” Suro menjawab sekenanya. (*)


Bagikan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here