Bagikan

Buat pendatang yang pernah jalan-jalan ke Surabaya, pasti langsung kerasan sama kota ini. Wes panganane enak-enak, taman hijaunya terawat, indah, asri dan bersemi sepanjang hari. Pokoke Mbetahno

Arek-arek Suroboyo juga lucu-lucu lho #promosi.

Makanya, jangan langsung nge-judge sembarangan soal arek Suroboyo. Kalau ada yang bilang arek Suroboyo itu kasar dan sekarepe dewe, berarti dia belum kenal dengan kultur Surabaya: tak kenal maka tak sayang.

Oleh sebab itu, wahai saudara-saudara yang budiman. Untuk mengetahui sekelumit tentang karakter arek Suroboyo, khususnya bagi kamu yang sedang naksir, PDKT, atau dimabuk asmara bergejolak dan bergelora dengan pemuda/pemudi asal kota pahlawan, pas kiranya jika dikau menuntaskan bacaan ini sampai habis.

Iki Suroboyo, bukan Solo, Rek!

Jangan pernah membandingkan Surabaya dan Solo. Meski sama-sama berakar dari kebudayaan Jawa, dua kutub kawasan ini jelas jauh berbeda.

Kalau mbak dan mas asal Solo kan dikenal halus dan kalem. Sementara arek Suroboyo populer dengan sikapnya yang cengengesan, grapyak, terkesan nggak tahu malu, dan berbicara dengan nada tinggi.

Meskipun demikian, bukan berarti mereka tidak sopan. Ini hanya soal pembawaan orok dan kebiasaan. Makanya, jangan terburu-buru ilfil, gak mood, males¸dengan mereka.

Terlebih, jika paras dan tampilan mereka manis memikat hati. Suasaken ae ojok kesuwen! Laksana pengendara sepeda motor yang nekat melalui celah sempit di antara dua mobil dalam kemacetan Jalan A. Yani di jam pulang kantor (halah).

Doyan misuh, hobi guyon

“Hoi cuk, yo opo kabarmu? Jik urip tibake,
“Jangkrik, kopine
ceg panase,
“Lucu
ne raimu, Su!”

(yang tidak tahu arti tiga kalimat langsung di atas, silakan bertanya pada orang-orang Jawa di sekitar Anda)

Arek Suroboyo itu memang gampang misuh. Misuh layaknya nafas yang ditarik dan dilepas setiap hari. Lagi senang, misuh. Lagi sedih, tambah misuh.

Lagi nangis, disisipi pisuhan. Sedang tertawa, dilengkapi dengan kata pisuhan dengan derajat ejekan tertinggi. Dan seterusnya, dan sebagainya.

Tiga kalimat tidak langsung di atas adalah contoh bahasa khas arek Suroboyo yang kerap terdengar.

Di kota ini, misuh tak selamanya berarti jelek. Ungkapan itu adalah ekspresi semangat yang mungkin berbeda dengan orang-orang dari kawasan lain.

Nggak laki-laki, nggak perempuan, semua gampang mengungkapkan ekspresinya dengan cara tersebut.

Arek Suroboyo juga suka guyon. Lok-lokan alias gojlok-gojlokan. Saling mengejek dan kemudian tertawa bersama merayakan kenistaan diri masing-masing atas hasil ejeken tersebut.

Makanya, kalau disindir, dihujat, diumpat, jangan terburu-terburu sakit hati. Apalagi, kalau atmosfer percakapan atau obrolannya adalah kebersamaan. Anggap saja itu hiburan dan penguat mental.

Kalau imanmu tidak kuat, imronmu juga lemah (halah), siap-siap saja pertemanan, PDKT, atau asmara yang sedang tumbuh di hatimu buyar seperti sego kucing bungkus nggak dikareti.

Oh iyo, Rek. Beberapa kata ajaib khas Suroboyo bisa kamu baca di halaman lain website ini. Atau bisa lihat di link ini, tulisan karya Cak Aga, idola masa gitu, eh, masa kini.

Doyan cangkruk, senang dolan

Cangkruk punya istilah yang lebih umum: nongkrong. Lelaki maupun perempuan muda di kota ini biasanya senang cangkruk. Mulai di tempat ber-AC seperti mal dan kafe/resto, hingga warung kopi pinggir jalan yang bertebaran di seantero kota.

Makanya, kalau ada warung kopi ramai pengunjung, jangan langsung berpikir pemiliknya pakai pesugihan. Mungkin mereka ngingu tuyul. 😀

Berpikir positiflah, bahwa itu adalah imbas kemampuan membaca kondisi pasar.

Dan akhir-akhir ini, keramaian tersebut juga disumbang oleh kebiasaan orang-orang nggosok akik bareng-bareng di warung kopi. Bahkan, ada yang dibelani nggowo gerindo barang lho!

Intinya, arek Suroboyo itu senang keramaian, kebersamaan, dan berbagi (bukan berbagi pasangan lho yo).

Jadi, kalau kamu sedang naksir arek Suroboyo, boleh lah stalking area check-in si dia. Pasti tampak di mana dia biasa cangkruk.

Sesekali, ikutlah menikmati kopi hangat yang nikmat diselingi obrolan santai tentang kehidupan yang keras ini (opo maksude iki). Bukan tidak mungkin, rutinitas cangkruk bersama akan menambah kedekatan personal antara kamu dan dia.

Suroboyo nggak ndeso lho yo!

Surabaya sudah maju dan modern. Memang, orang-orangnya masih medhok dan misuhnya masih sangat fasih. Tapi, mereka gemar bergotong-royong membangun kota yang tercinta ini.

Para anak muda kreatif terus unjuk gigi. Anak-anak dan remaja terus berprestasi. Wali Kotanya, Bu Risma, tergolong suka mengeksplorasi inovasi untuk pengembangan kota.

Maka dari itu, wahai sahabat-sahabat yang suka menabung, jangan pernah terbersit di pikiranmu bahwa kota ini ndeso hanya karena logat medhok dan kultur misuh belaka.

Arek Suroboyo itu apa adanya: tidak berlebih-lebihan, bertinggi-tinggian, berkurang-kurangan, maupun berendah-rendahan. Semuanya, pas! Pas-pasan. Hahaha.

Dolly sudah mati, tapi tetap di hati

Gang Dolly yang legendaris itu memang wes kukut lan matek (salut buat gebrakan Bu Risma). Tapi, cerita dan sejarahnya akan abadi dan selalu terkenang. Mungkin kisahnya bakal setara Mahabarata atau Jodha Akbar.

Semua arek Suroboyo pasti kenal dengan tempat ini. Namun, sekadar saran, tidak perlu juga kamu iseng bertanya:

“Rumahmu dekat nggak sama Dolly? Anterin aku dong,”
“Cewek-cewek Dolly sekarang kerja di mana, ya?”
“Wisma Barbara masih ada nggak, ya?”

Karena bisa saja, kamu langsung dipisuhi karena dianggap menilai orang itu suka berdolly-dolly ria.

Wani naksir arek Suroboyo?

Dari zaman perjuangan dulu, arek Suroboyo terkenal berani dan pantang menyerah. Watak inilah yang harusnya kamu miliki kalau kamu benar-benar naksir arek Suroboyo.

Salam satu nyali, wani!

Kalau usahamu tidak digubris, coba lagi. Masih ditolak, coba lagi. Coba terus, maksimal sebanyak tujuh kali serupa bilangan thowaf keliling Kakbah.

Nah, kalau sudah berkali-kali masih ditolak, yo lupakan dia. Jaga harga dirimu. Mungkin sudah takdir, kalian tidak bisa bersama.

Yang jelas, perjuanganmu mendapatkan jodoh arek Suroboyo nggak akan sia-sia. Walau sekarang mungkin pahit, paling tidak, ini akan menjadi pengalaman guna pelajaran untuk masa datang.

Jadi, apakah sudah siap ngesiri arek Suroboyo? Wani!


Bagikan

5 COMMENTS

  1. Sepertinya saya termasuk orang yang gak kuat dengan gaya ucapan yang menurut saya agak kasar dan cenderung lebay kalo lagi cerita ala orang suroboyoan, mungkin karena saya berasal dari jawa tengah yang cenderung kalem dan “opo onone” jadi pas hijrah ke surabaya ngalami “culture shock” heheh.. Jadi walaupun kota surabaya termasuk keren bahkan dibanding jakarta yang macetnya naudzubillah, saya cuman kuat bertahan kerja di surabaya ( wtc lebih tepate ) selama 6 bulan dan akhirnya pindah dari surabaya..heheh..

  2. Juanc*k….temenan reek…bojoku pas awal2 pindah suroboyo juga shock….sampek nangis2 curhat nang ibuke…saiki dekne ga kuciwa kawin ambek arek suroboyo….

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here