Bagikan

Malam itu lain dari malam biasanya di Bulan Januari. Langit cerah dengan bintang bertaburan indah. Mirip langit di tepi laut Banyuwangi pada pertengahan tahun.

Suro CS yang lagi cangkruk di warkop lesehan tepi danau Unesa Lidah menikmati panaroma alam yang aduhai itu. Menariknya, saat mata dilemparkan jauh ke arah utara, terdapat bentuk gedung-gedung tinggi. Ya, banyak apartemen atau flat di daerah itu. Misalnya, di dekat PTC dan Lenmarc. Megah sekali.

Gedung serupa tertanam (dan mulai dibangun pula) di daerah lain. Contohnya, di sekitar Rungkut Megah, dekat Stikom, dan seputar kawasan Surabaya Timur lainnya.

“Orang-orang kaya itu dapat duit darimana ya mbangun apartemen banyak sekali,” celetuk Bolang. “Nah itu dia, padahal kalau kita amati, gedung-gedung itu kosong, lho. Tidak penuh pelanggan,” sambung Bembem. “Sok tahu! Memangnya kamu pernah ke sana?,” sergah Bolang. “Nggak juga sih. Tapi, aku sudah melakukan pengamatan mendalam,” seloroh Bembem.

Suro menyeruput kopi susu di hadapannya. Di mau ngomong, tapi keduluan Comel yang nyerocos, “Itu namanya orang-orang berduit itu sanggup melihat masa depan. Bisa berpikir panjang,” ungkap dia sok menganalisa. “Aku punya beberapa teman yang hidup di beberapa apartemen. Memang, tidak semua apartemen penuh sesak oleh penghuni. Banyak yang masih kosong. Beri garis bawah untuk kata masih,” dia mengutarakan panjang lebar.

Empat sekawan itu tampak sesekali menepuk-nepuk bagian tubuh. Bukan apa-apa, tapi segeromboan nyamuk menjadikan mereka sasaran santap malam. Oleh karena itu, Suro merogoh kantong. Mengeluarkan dua sachet lotion anti nyamuk rasa jeruk.

Mereka bergiliran membaluri bagian tubuh yang tak tertutup pakaian dengan pasta tersebut. Termasuk, pada bagian wajah.

“Yang aku maksud sanggup beripikir panjang itu seperti Suro ini. Dia tahu kalau kita akan cangkruk di kawasan banyak nyamuk. Dia pun bawa lotion anti nyamuk,” celetuk Comel. “Kamu habis disuwuk siapa, Mel? Kok, jadi doyan mengobservasi seperti ini,” sahut Suro.

“Ini sekadar analogi, kawan-kawan. Investor itu menanam modal di Surabaya untuk hotel dan apartemen. Sebab, mereka tahu dalam beberapa tahun ke depan, tempat ini bakal jadi primadona orang-orang dari luar daerah bahkan luar negeri. Saat ini, sampai dua atau tiga tahun lagi, apartemen dan flat yang mereka buat mungkin masih belum terlalu laku. Namun, setelahnya, pasti permintaan melonjak drastis,” tegas Comel.

Njancuki tenan. Omonganmu sudah mirip pakar ekonomi dan pembangunan dari Unair, Mel,” Bembem sinis.

“Bagaimana kalau ternyata sampai ke depan dan ke depan, bangunan itu tetap kosong?” Bolang bertanya seraya bersedekap untuk memerangi angin malam yang tiba-tiba bertiup agak kencang. “Tidak mungkin! Ini sudah diperhitungkan matang. Buktinya, pembangunan gencar sekali dan berada di simpul-simpul tertentu. Artinya, para investor itu memang sudah melakukan kajian mendalam,” Comel ngotot.

“Tapi, kan tidak ada yang tahu masa depan. Bisa saja terjadi hal-hal yang di luar dugaan,” Bolang tak mau kalah.

“Ya, kalau ternyata bisnis itu tidak berkembang di kemudian hari, berarti sudah nasib investor itu gigit jari. Takdir. Ya, mau bagaimana lagi. Mereka bakal rugi besar. Tapi, toh, kita nggak ikut-ikutan rugi. Dan apapun yang terjadi, asal kita giat berkarya dan mengoptimalkan potensi diri, kita gak bakal merugi sampai kapan pun,” ganti Suro yang berceramah. (*)


Bagikan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here