Bagikan

Memperingati hari pahlawan adalah keharusan bagi para pemuda. Aktifitas ini sangat jauh lebih bermanfaat daripada mengenang mantan pacarmu. Lapo mok kenang-kenang iku?! Koyok wong lembeng ae baper-baper terus.

Menariknya, saat ini sudah banyak media belajar tentang sejarah kepahlawanan. Termasuk, soal perjuangan dan upaya mempertahankan kemerdekaan di Surabaya.

Kita tak lagi hanya duduk di bangku dan mendengarkan Ibu guru ndongeng tentang pertempuran 10 November. Kita juga tak harus nggetu membaca buku paket IPS atau PSPB (Onok sing ngerti gak singkatan zaman mbiyen iku? Browsingo, Rek).

Belakangan sudah banyak teater atau drama kolosal yang menceritakan semangat kepahlawanan dengan cara yang gampang dinikmati dan dipahami. Buku sejarah pun sudah banyak yang dibumbui cerita atau gambar yang lebih menarik. Makin mbois pokoke!

Membaca, menggambar, dan bermain

Bila berjalan sesuai rencana, pada Minggu 29 November mendatang, acara Surabaya dalam Kertas: Baca, Gambar, dan Bermain akan digelar di Museum 10 November Tugu Pahlawan.

Gelaran ini digagas oleh Surabaya Punya Cerita, PADAS (Papan Dodolan Arek Suroboyo), dan Scribble Mania. Event akan dilaksanakan mulai pukul 10.00 hingga pukul 16.00 WIB (Waktu Indah Bersamamu #eh).

Bakal ada suguhan sejumlah karya kreatif di dalamnya. Misalnya, launching buku Surabaya Punya Cerita Volume 21/2 , pameran Scribble, permainan card game Waroong Wars dari PADAS, pemutaran video dokumenter “Mengenang Iqbal Rais” dari dulur-dulur Sinematografi UNAIR, dan lain-lain.

Sekelumit tentang buku Surabaya Punya Cerita Volume 21/2 karya Dhahana Adi alias Ipung. Mungkin akan ada pertanyaan, mengapa volume 21/2 ? Padahal, buku sebelumnya, volume 1.

Ternyata, ini hanya upaya Ipung membuat pembeda dengan buku-buku yang lain. Jadi, setelah volume 1, tidak harus volume 2, kan? Jangan kaku-kaku gitu lah, jangan possesif, kasihan kekasihmu. #oposeh.

Ipung ingin membuat sekuel yang segar dan lain dari yang lain. Sejarah dan cerita tentang kota, tambah Ipung, harus dikemas dengan baik. Tujuannya, jangan sampai orang menjadi jenuh dan malas untuk memahami topik ini.

poster
Courtesy Surabaya Dalam Kertas

Surabaya, kota yang tak pernah miskin cerita

Sek sek, apa kamu tahu asal mula inspirasi buku Ipung yang berjudul Surabaya Punya Cerita? Jangan menjawab, kalau Surabaya punya cerita iku berawal dari kisah aku dan kamu saat memadu kasih di Kota Pahlawan #gulunggulungmanja.

Ngene, inspirasi Surabaya Punya Cerita tercetus saat Ipung yang hobi bawa tas ransel ini ingat pada masa kecilnya. Pas dheweke sek cilik (sek polos karo umbel kentel lan kathok kolor), dia sering diperdengarkan cerita nabi-nabi *lhak gak nyambung maneh.

Yang benar, dia sering mendapat cerita tentang Surabaya dari ayah dan Ibunya. Hal itu berlanjut ketika dia mulai berangkat remaja dan menjadi mahasiswa. Pria yang murah senyum dan betah melek bengi ini pun kerap saling berbagi cerita tentang kota berlambang hiu dan buaya bersama kawan-kawan.

Nah, amergo wes keseringen mendengar dan membagi cerita, muncullah ide untuk mengabadikan momen-momen dan kisah tentang Surabaya dalam kumpulan mushaf.

Hingga saat ini, sudah ada dua volume buku, yang salah satunya akan dilaunching Minggu (29/11) mendatang. Tidak menutup kemungkinan, akan ada buku-buku lain sebagai sambungannya.

Ehm, saya sempat bertanya, “Cak Ipung, opo o sampeyan memilih ungkapan “cerita”, bukan misalnya, Surabaya punya “sejarah” atau Surabaya punya “kenangan”, kan idiom-idiom itu terasa lebih berbobot?”

Seperti biasa, dengan santainya Ipung menjawab, “Jajal iling-iling, koen lhak seneng ndenger cerito, kan? Sakliyane iku, awakmu yo seneng curhat alias bercerita, kan? Nah, idiom “cerita” itu, memiliki kedekatan psikologis dengan manusia secara umum,” ujar dia.

Buku Ipung memiliki tagline. (Wong iku koyoke gak gelem kalah ambek MakNews sing nduwe tagline Mediane Arek Suroboyo). Taglinenya tentu berbau kesurabayaan. Yakni, Sudut Berbagi Cerita dan Sisik Melik Surabaya.

Berdasar pencarianku di Mbah Google, sisik melik itu berarti jejak. Di sisi lain, Ipung ingin para pembaca akan menjadi lebih melek terhadap kota tercinta ini.

Sementara itu, cerita yang dibagikan melalui buku ini berasal dari banyak aspek. Misalnya, sejarah, pengalaman, mitos, isu kekinian, dan lain sebagainya.

Termasuk, impian di masa depan dan nostalgia. Eruh artine nostalgia? Yes, nostalgia yang dimaksud memang mirip-mirip dengan kebiasaanmu sing sering mengenang mantan. Dheke wes kape rabi, lhah dalah, peno saiki jik cekelan tisu butuh sandaran. Saknone…

Dalam buku ini juga disisipkan setengah biografi Almarhum Iqbal Rais. Dia merupakan salah satu pemuda kreatif Surabaya di bidang sinematografi.

Kerjasama dengan pemkot

Event ini bekerjasama dengan Pemkot Surabaya, dan didukung penuh oleh Indie Book Corner, Mechanimotion, Yayasan Peduli Kanker Anak indonesia (YPKAI), Sekolah Galuh Handayani, Gardenish Surabaya, Animasub, serta Ayorek.

Tampil sebagai media partnerMakNews, 98,8 M Radio, 87,7 Colours Radio Surabaya, Event Surabaya dan Biostv Surabaya.

So, awakmu ngenteni opo saiki? Ngenteni tak bbm terus tak ajak nang Museum 10 November ta? #halah

Sempatkan waktu di hari liburmu dengan datang dan menjadi bagian dari Surabaya Dalam Kertas. Lumayan, dino minggumu gak sia sia koyok nek nglemprek nang kasur tangi awan.

Di era kekinian, koen kudu nduwe wawasan tentang Surabaya. Tidak hanya yang lagi hits, namun juga yang berupa sejarah masa lampau.

Ingat, banyak survey membuktikan, arek Suroboyo, mbuh lanang, mbuh wedok, berprinsip kuat dan pekerja keras. Kuat ingatannya tentang sejarah, dan keras (nyel) kebanggaannya pada kota tercinta.


Bagikan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here