Bagikan

Tionghoa dan Jawa adalah dua suku yang ikut membangun Surabaya. Dan, dua-duanya ikut membuat kota ini berjaya. Di semua bidang. Dari lapangan sepak bola, ada klub internal Persebaya bernama Naga Kuning yang kemudian berganti nama menjadi Naga Surya dan sekarang Suryanaga.

Konon pergantian nama dari Naga Kuning hingga jadi Suryanaga juga karena ada semangat untuk blending alias melebur.

Di dunia surat kabar ada koran Jawa Pos yang dulu bahkan didirikan oleh The Chung Sen untuk melayani komunitas Tionghoa di Surabaya. Sekarang, ya untuk semua kalangan.

Tapi, dua masyarakat ini sangat berbeda pandangannya. Terutama dalam mengelola usaha. Orang Tionghoa sangat optimis. Sebaliknya, orang Jawa kok cenderung (malu-malu) untuk optimis. Atau dalam istilah yang lebih vulgar: minder.

Paling tidak itu yang ndewor lihat dari beberapa jenis usaha di Kota Pahlawan ini. Tidak percaya? Mari kita dingkik!

Banyak warung-warung milik orang Jawa yang bahkan “judulnya” sangat nanggung. Misalnya, ada warung pecel di kawasan Kebraon yang bernama “Warung Pecel Lumayan”.

((((Lumayan)))

Kenapa sih kok tidak sekalian diberi nama “Warung Pecel Enak Tenan” atau “Warung Pecel Paling Enak Se-Asia Tenggara” atau “Warung Pecel Paling Enak di Dunia dan Akhirat”.

Oke, keber-nya mungkin gak cukup gede. Tapi, mosok kok jenenge lumayan? Kalau kata Enrile Fahmi Fahreza, satu-satunya arek MakNews yang diimpor dari Jakarta, “Mending Lumayan, Bro, daripada Lu manyun.” Hadeehhh! Dasar anak Kelapa Gading!

Ada lagi sebuah Warung Kopi (Warkop) di kawasan Kebonsari. Namanya, “Warung Kopi Sudi Mampir”. Sudi Mampir? Lha nek aku gak sudi koen arep lapo?

Plis, Rek. Kenapa kok tidak ada optimisme dalam nama-nama usaha kita? Lantas, bagaimana arek Suroboyo menghadapi MEA kalau tidak penuh percaya diri? Ingat, saiki Indonesia wes menghadapi MEA lho.

Cak, Cak, MEA iku opo?

Jarene singkatane Merana karena Enggak punya Ayang? Padahal, di era MEA, UKM (Usaha Keras Move on) adalah salah satu kekuatan Indonesia.

Itu masih dua contoh. Ada lagi sebuah warung di kawasan Kertajaya namanya Warung Sederhana. Padahal, hidup ini nggak ada yang sederhana. Apalagi sudah ganti tahun dan kamu masih suka stalking foto mantan di Instagram terus diam-diam tanya kabar ke teman-temannya. Suwedih yo? Podo!

Ada lagi yang buka toko dengan nama “Lumintu”. Ini juga malu-malu dan sungkan. Arti Lumintu kan sedikit-sedikit tapi utun alias terus menerus. Kenapa tidak berharap pembeli banyak dan terus menerus. Yo, gak sampek kudu ngingu thuyul sih

Bandingkan dengan warga Tionghoa. Saya punya teman Tionghoa yang berjualan timbangan. Dari timbangan gula sampai timbangan truk. Dari timbangan laboratorium sampek timbangan arek-arek galau berat badan—yang setiap kali angka timbangannya muncul selalu diteriaki, “Kamu bohong!” Semuanya ada.

Dan tokonya dia namai “Raja Timbangan”. Sangar, gak?

Ada kutipan bijak (bukan dari Mario Teguh) yang bilang, kalau mimpimu itu tidak bikin awakmu ndredeg, berarti mimpimu nanggung!

Begitu juga ada sebuah usaha milik warga Tionghoa lainnya yang bernama “Jaya Abadi”. Sudah jaya, abadi lagi. Sampek kiamat harapannya ya jaya terus. Gak isin-isin. Gak magak. Langsung nggepuk duwur.

Ya, memang, ini dipengaruhi kultur Jawa yang tidak mau menonjol, tidak mau sombong, sopan santun, dan merendah lebih baik daripada menampilkan diri. Tapi coba deh baca buku Benedict Anderson atau novel Pramoedya Ananta Toer. Sikap-sikap seperti itu warisan penjajahan Belanda, lho.

Merendahkan nilai benda dengan kata “Jowo”

Sikap minder ala Jawa juga terlihat dalam penggunaan istilah “Jowo”. Imbuhan Jowo selalu dipakai untuk merendahkan nilai dari satu benda tertentu.

Coba lihat buah juwet alias jamblang. Apa sebutan gaul di kalangan arek-arek? Anggur Jowo!

((((Anggur Jowo))))

Kenapa Jowo seolah-olah hanya dipakai sebagai “versi rendah” daripada anggur? Padahal, juwet itu buah yang bisa melawan sel-sel kanker, lho.

Saya membayangkan dialog soal juwet itu dengan teman saya, Rio F. Rahman.

“Kenapa sih kita tidak menyebutnya juwet saja?”
“Maksude sampeyan jenenge dadi ‘juwet saja’ ngono ta?”
“Bukaan, ya, juwet tok!”
“Ooo, ‘juwet tok’ bukan ‘juwet saja’.
“Bukaan, ya, juwet titik!”
“Ooo, ‘juwet titik’.”
“Hadehh, gak mari-mari. Angel men se ngomong karo koen!”
*Kemudian dipisah Pak RT

Itu baru soal juwet. Belum lagi soal mobil. Apa sebutan untuk mobil Suzuki Carry di kalangan arek-arek? Alphard Jowo! Dulu ngetren minuman murah bersoda produksi UKM namanya limun. Apa sebutannya? Sprite Jowo! Itu belum termasuk Cukrik (Bir Jowo), Nasi Goreng bumbu antimainstream (Nasi Goreng Jawa), Liga Indonesia (Bal-balan Jowo), gimbal jagung (Nugget Jowo), dan masih banyak lagi.

Lama-lama Getek, alat transportasi untuk menyeberang kali-kali di Surabaya itu, disebut Yacht Jowo! Terus arek-arek Kebraon seng biasa nyeberang dari Karangpilang ke Jambangan disebut Roman Abramovich Jowo! Soale bendino numpak Yacht Jowo.

Temenan, Rek, koen wes kebangeten!

Tapi, tapi, tapi, tapi. Tidak semua orang Jawa seperti itu, Rek. Begitu juga tidak semua warga Tionghoa koyok ngono. Toko bangunan di dekat rumah saya namanya ya Sumber Rejeki. Bukan Sumber Gebetan. Apalagi Sumber PHP. Dan yang punya juga orang Jawa.

Tulisan ini tidak ada maksud lain. Apalagi ingin memprovokasi SARA (Suku, Agama, Ras, dan Anatomi). Atau demi mendukung Ahok jadi Presiden Republik Indonesia 2019.

Awak dewe hanya membagi apa yang ndewor temui di lapangan. Tidak ada kepentingan tertentu. Ya, meskipun saya pernah naksir arek Tionghoa. Pindo maneh. Dan dua-duanya gagal.

 

Jadi kalau tulisan ini bikin kamu tersinggung, fix kamu kurang piknik! Dolenmu kurang adoh. Makanya, mari gini kamu perlu waktu main seng jauh. Pigi ndek mana gitu lho. Rekenne cek gak stres nemen gara-gara kesuwen urip dewekan. Hiks.


Bagikan

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here