Bagikan

Siang tadi SiKemprut sama SiKemprit terkekeh-kekeh saat melintasi mushola SDN Wadung Asri Waru Sidoarjo. Betapa tidak!

Saat melintas di mushola dekat perumahan Pondok Candra Indah itu ada murid SD tengah belajar mengaji. SiKemprut sengaja berhenti sejenak ketika mendengar salah seorang diantara mereka suaranya bindeng.

Bindeng adalah cacat suara yang tidak sempurna. Nada bicaranya lebih banyak menggunakan nafas hidung alias sengau. Sedangkan murid berikutnya lidahnya cadal atau suaranya pelat.

Kedengarannya memang aneh. Tentu saja tajuwidnya tidak bagus. Mulai ejaan sampai lafal dan qoriknya tidak sesuai dengan orang membaca al Quran umumnya. Lantas?

Itulah yang membuat SiKemprut perhatian. Siswa SMA swasta di kawasan yang sama ini akhirnya mendiskusikan masalah itu dengan SiKemprit.

“Aku tadi koq gak dengar ustadnya negur dua siswa yang bindeng sama pelat yoo Prit..,” cerita SiKemprut. Lalu? “Semestinya ejaan dan tajuwidnya dibenerin donk,” imbuhnya.

Mendengar ocehan temannya,SiKemprit malah tawanya meledak. Ngakak get! Soalnya SiKemprut mencoba menirukan bacaan dua bocah tadi, persis nada suara kiroahnya. “Koen iki isooo ae…wkwkwk.”

SiKemprut lantas tanya SiKemprit, yang memang anak pondokan sejak SD itu. “Apakah tidak berdosa Prit, Ustad yang mengajari sama dua muridnya itu?” yang langsung dijawab SiKemprit, “Itu perkecualian Prut.,”

Sebab, jelas SiKemprit, orang yang.memiliki kekurangan itu pasti diberi kelebihan oleh Allah. Pendengaran anak bindeng dan pelat itu pasti sempurna. “Sehingga apa yang diucapkannya pasti berasal dari pendengarannya.”

Terlebih lagi, sambung SiKemprit, membaca ayat suci AL Quran itu harus dengan hatinya. Orang yang membaca ayat-ayat Allah dengan hatinya akan jauh terasa khusuk ketimbang dengan suara keras tapi tidak enak didengar. “Seperti orang pelat dan bindeng itu..Prit,” SiKemprit ganti terkekeh karena masih ingat suara ngaji anak SD tadi.

Karena itu, SiKemprit lebih suka mengaji Al Quran pelan pelan seperti yang pernah diceritakan ustadnya saat berada di Masjidil Haram dan Nabawi. “Akan lebih terasa Prut, kalau ngerti sak maknane tambah siip. Maksudku membaca al Quran serta artine,” SiKemprut manggut-manggut.

Kedua sejawat ini kemudian meninggalkan SDN itu. Sembari jalan kaki menuju warung pecel langganannya, mereka masih tampak serius membicara fenomena tersebut.


Bagikan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here