Bagikan

Suroboyo sudah selesai memilih pemimpinnya untuk lima tahun mendatang pada Rabu, 9 Desember lalu. Terima kasih Pakde Karwo. Lho kenapa mesti berterima kasih ke beliyau?

Ya, tanpa restu beliyau sebagai Ketua Partai Demokrat, pemilukada Surabaya terancam ruwet. Cak Rasiyo dan Ning Lucy Kurniasari berangkat sebagai calon atas rekomendasi dari Partai Demokrat dan Partai Amanat Nasional.

Terima kasih juga kepada semua warga baik yang memilih maupun tidak memilih. Coblosan berlangsung aman lancar. Dari hasil penghitungan cepat berbagai lembaga survey pasangan Risma–Wisnu unggul sangat telak. Walau keputusan resmi Komisi Pemilihan Umum (KPU) Surabaya belum keluar, bolehlah saya ucapkan selamat kepada mereka.

Jika di survey MakNews kemarin hasilnya adalah 24 persen dan 76 persen, maka hasil hitung cepat malah lebih besar marginnya, 13,56 persen dan 86,53 persen. Eleng, iki persentase perolehan suara lho yo, duduk ball possession antara Barcelona lawan AS Roma!

Namun, partisipasi jumlah pemilih lumayan rendah. Dari jumlah pemilih terdaftar 2.034.307, yang ikut hanya 1.048.475 pemilih. Artinya, golput (golongan putih duduk golongan diamput) sebenarnya yang menang.

Menagih janji-janji kampanye

Apapun data statistik di atas, Surabaya akan tetap dipimpin oleh Bu Risma untuk lima tahun ke depan. Di posko pemenangan, Bu Risma berpidato singkat. “Ini bukan soal menang atau kalah. Tapi sebagai upaya meneruskan pembangunan Kota Surabaya,” kata Risma.

“Saya harap Pak Rasiyo tidak menganggap ini sebagai kekalahan. Marilah kita bekerja sama dan tidak ada permusuhan, serta membangun Surabaya bersama-sama,” tambahnya.

Pidato yang bijak. Sesuai arahan Jokowi. Yang menang jangan jumawa yang kalah jangan ngamuk. Sambil menunggu hitungan resmi KPU Surabaya dan pelantikan walikota, sebagai warga coba mengingat lagi janji saat kampanye.

Salah satu janji Bu Risma dan Cak Wisnu adalah memberi beasiswa 1.000 orang bisa berkuliah gratis setelah kebijakan sekolah gratis dari SD–SMA di sekolah negeri selama ini yang bisa dianggap sakses. Bagi lulusan SMA/SMK nanti tinggal cari info saja ke Dinas Pendidikan Kota Surabaya di Jalan Jagir Wonokromo.

Lumayan lho ini saat “harga” kuliah sangat mencekik dompet. Syaratnya pasti harus pandai di atas rata-rata. Atau punya prestasi di luar akademik seperti olahraga, seni budaya, dan lainnya.

Cak, nek prestasi juara lomba mancing oleh ta? Emboh takokno dewe!

Sebenarnya ada hal paling riskan menurut saya terhadap walikota ini. Setelah Risma ini siapa? Rekam jejak Risma selama ini sudah membuat kita terbiasa dengan standar tinggi kinerja beliyau. Susahnya, siapa ya pengganti yang selevel dengan dia?

Bu Risma habis ini mau ke mana?

Siapkah warga kota ditinggal Bu Risma di tengah jalan? Hayo sudah siap belum? Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jatim 2018 tinggal dua tahun lagi. Pilgub DKI Jakarta 2017 juga lebih dekat lagi.

Salah seorang pengurus PDIP pernah saya tanya. Cak, Bu Risma jarene arep melok pilgub DKI, yak opo iki? “Ah, sampeyan isok ae. Yo, ojok ngomong nang kene lah,” katanya sambil senyum-senyum ndrenges. Kumisnya naik turun seperti salah satu wahana dremulun.

Pertanyaan itu saya ajukan karena PDIP sudah pernah melakukannya. Sebelum jadi presiden, Joko Widodo meninggalkan Solo di tengah masa jabatan demi mencalonkan diri di pilgub DKI. Dia kembali melakukannya saat mencalonkan diri sebagai RI-1.

Nah, peluang untuk menuju ke sana terbuka lebar. Apalagi, Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok memiliki karakter yang sama dengan Bu Risma.

Jika selama ini Ahok banyak diserang karena latar belakang suku dan agamanya, bagaimana jika Bu Risma yang muslim dan jilbaban diajukan untuk bertempur dengan putra Belitung itu?

Ini memang agak melompat jauh ke depan. Saya pribadi berharap Risma tetap menyelesaikan amanah ini sampai lima tahun ke depan. Untuk menyiapkan pemimpin selanjutnya, biarlah tugas partai politik mendidik kadernya bersama masyarakat (nek iso, nek gak iso yo kebacut! :p )

Bu Risma, pekerjaan rumah musim lalu masih lumayan banyak. Siap-siap kerja bareng lagi dengan semua stafnya. Banjir di beberapa daerah, food court yang mangkrak, itu hanya beberapa di antaranya.

Bagaimana dengan akses ke Gelora Bung Tomo yang masih ruwet? Katanya mau menjadikan Surabaya kota olahraga dan wisata? Belum lagi angka jomblo yang terus meningkat. Karena mereka hidup di bawah garis kemiskinan kasih sayang, mereka kerap jadi korban PHP, Bu! Tolong ini dipikirkan. Plis!

Sudah itu saja, Bu Risma. Selamat bekerja lebih cerdas, lebih keras, gotong royong. Yo opo enake Suroboyo bisa makmur gemah ripah loh jinawi. Oh iya, E–KTP saya belum jadi. Padahal saya sudah foto sejak Oktober 2014 lho, Bu. Ini bukan karena faktor wajah kan?

Salam tiga jari. Persatuan Surabaya!


Bagikan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here