Bagikan

Suro CS tiba-tiba ingin ngobrol tentang cagar budaya. Hal ini terkait dengan pemberitaan media massa awal Mei lalu. Yakni, soal pembongkaran salah satu situs cagar budaya di Jalan Mawar Surabaya. Konon, di lokasi tempat bangunan itu berdiri, Bung Tomo pernah siaran. Nah, siaran di sini kemudian ditafsirkan dengan beraneka rupa. Seperti tafsir soal bid’ah dalam agama Islam yang belakangan terdistorsi kesana kemari.

Apa rumah itu dulu adalah studio radio? Tidak mungkin, kata Bembem. Sebab, kalau ada radio perjuangan di zaman londo atau Nippon, ya pasti langsung digempur. Terlebih, yang siaran orang “sekeras” Bung Tomo.

Maka itu, Bembem yakin, yang dimaksud siaran di masa itu, adalah teriak-teriak membakar semangat melalui speaker. Tidak di suatu ruang khusus. Sementara speaker-nya, bisa berpindah-pindah. Dibawa ngalor ngidul ngetan ngulon. Namanya juga gerilya. Kebetulan saja, Bung Tomo pernah siaran di Jalan Mawar. Yang lokasinya, diduga pas dengan lokasi bangunan yang dibeli, terus dibongkar, oleh seorang pengusaha, dengan dalih renovasi.

Lhah, aku dengar, pemilik awal bangunan itu, sebelum menjual bangunannya, sudah izin dulu ke pemkot. Jadi, pembeli dan penjual tidak melakukan transaksi liar. Pemkot sudah tahu. Pengurusan izin memakan waktu satu tahun lebih!” kata Bembem yang kemudian menuding kalau Pemkot tidak serius mengurus Cagar Budaya.

Di hadapan kawan-kawannya, yang masing-masing menghadapi wedhang khas warkop Karah, Bembem ngotot menyalahkan eksekutif. Apalagi, kata pemuda yang paling suka browsing tersebut, pemilik awal mengaku tidak sepeser pun pernah diberi bantuan dana buat perawatan.

Lhah, aku dengar, pemilik bangunan itu, bayar PBB setahun Rp 20 juta. Perawatannya, sebulan, Rp 6 jutaan. Terus, dia menjual rumah dan tanah yang sudah punya SHM sejak sekitar 1973-an tersebut dengan alasan sudah tidak mampu ngeragati. Ealah, terus dia tersandung masalah di kepolisian. Kan ya, gak mungkin yang dipidana pemilik tersebut,” sungut Bembem.

Bembem tahu, saat ini masalah tersebut sudah nyaris rampung. Mudah-mudahan begitu. Entah dirampungkan dengan cara apa. “Kenapa, Bem, kamu kayaknya kok emosi sekali sih. Apa kamu keluarganya Bung Tomo? Atau, kamu keluarganya yang punya rumah?” Suro nyambar lalu meminum kopi hitam yang ada di depannya.

“Aku gak ada hubungannya sama pahlawan atau pemilik cagar budaya. Aku hanya menyayangkan sikap pemerintah kota (Pemkot),” kata Bembem. “Suwe-suwe awakmu koyok kritikus nok media massa, Bem,” seloroh Bolang. “Kemeruh!” hentak Bolang kemudian.

“Ini tidak soal kemeruh, Lang. Isu cagar budaya kali ini, sebenarnya bisa kita jadikan pelajaran ke depan.  Itu kalau memang kota ini mau mengembangkan Cagar Budaya,” kata Bembem yang makin terdengar seperti cendikiawan di televisi.

Bem-bem njelentrehno beberapa poin. Pertama, keseriusan Pemkot melakukan pendataan. Kedua, kalau suah didata, harus dirawat secara simultan. Bukan abang-abang lambe. Menurut pengakuan pemilik awal bangunan cagar budaya Jalan Mawar yang didapatnya entah dari mana, Pemkot tidak pernah menyentuh bangunan itu. Apalagi, memberi bantuan dana.

Ketiga, harus ada cara strategi optimalisasi cagar budaya. Misalkan, ada cagar budaya di tengah kota, dengan lokasi yang bagus. Maka, apa yang mesti dilakukan pemkot. Baik terhadap bangunan, maupun terhadap pemilik. “Kan tidak fair, bila pemilik tidak boleh menjual, tapi ya tidak dapat apa-apa terkait kompensasi. Terlebih, PBB di pusat kota itu nilainya luar biasa. Pemilik tidak boleh disudutkan dengan dalih apapun. Karena bangunan itu kan hak milik mereka. Negara tidak boleh tiran dong,” Bembem seperti orang kerasukan jin, ngomong sampai berbusa-busa.

Kesel aku ngerungokne cangkemmu. Jupuken skak, gowo rene, kita main saja,” pinta Suro sambil menunjuk papan catur. Bembem mengiyakan. Bolang menyeruput kopi susu. Malam itu, Karah terasa ramai sekali. Ya, keramaian Surabaya makin hari, makin panjang, hingga terlampau larut malam. (*)


Bagikan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here