Bagikan

Pilwali (Pemilihan Walikota) agendanya bakal dilaksanakan di akhir tahun ini, tapi berbagai gonjang ganjingnya sudah mulai terasa sedari sekarang. Berbagai media sudah mulai membahas dan meramalkan jalannya pilwali Surabaya. Mulai dari sekedar kasak-kusuk calon walikota yang naik untuk menyaingi Tri Rismaharini sampai calon pacar yang belum naik juga ke kehidupannya Aga.

Banyak pihak yang berargumen Tri Rismaharini sebagai calon tunggal, karena siapapun lawannya akan tampak seperti formalitas pemilihan saja. Rakyat sudah tahu siapa yang akan dipilih untuk Surabaya. Ya, memang kharisma ibu yang satu ini sudah seperti gigi boneng, menyilaukan.

Tapi sayangnya, tidak demikian dengan keadaan Surabaya.

Mari kita flashback sebentar ke tahun lalu. Sama seperti berbagai kota di Indonesia, Surabaya pada saat itu juga melaksanakan pemilihan calon legislatif untuk DPRD. Rakyat diminta memilih siapa-siapa saja yang nantinya akan ngorat-ngarit kancah politik di tingkat daerah.

Lucunya, rakyat ndak kenal sama sekali itu siapa-siapa aja di jajaran calon legislatif. Kalaupun ada yang kenal biasanya karena ada tetangga, saudara, atau kenalan yang mendadak kecemplung partai-partaian.

Berhubung tak kenal maka tak sayang, maka para calon ini menggunakan trik dari mata turun ke hati untuk mencuri perhatian rakyat. Pose dan sudut tercakep pun dipilih. Lalu dengan bantuan editing yang bisa membuat Dijah Yellow secakep Raisa, foto dicetak dalam bentuk brosur sampai ukuran jumbo.

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan foto mereka yang dicetak ataupun editing mereka yang bikin kumis tipis tampak semriwing. Masalahnya cuma abis itu hasilnya malah ngotorin kota. Jalanan kota Surabaya yang biasanya penuh tanaman malah seperti katalog therapist panti pijat, isinya muka semua.

Warung pecel lele yang biasanya bisa ditemui di setiap 10 meter pun masih kalah langka dibanding populasi baliho caleg. Ironis, baru calon aja udah ngerusuhi, apa ya kalo udah jadi wakil rakyat ada jaminan bisa ngebagusin?

Pada saat pemilihan calon legislatif lalu, Surabaya masih memiliki pemimpin, yang digadang-gadang sebagai pemimpin idaman. Tapi pada saat itu juga wajah kota Surabaya carut-marut diisi muka entah-siapa-saja. Bagaimana dengan pilwali nanti?

Risma maknews
Foto: Tempo.co

Tapi karismanya Bu Wali kan lebih cling dan menyilaukan dibanding gigi boneng, jadi hal-hal sepele gitu cuma butiran debu.

Meski trotoar di kawasan pusat kota yang biasanya bersih dan cakep sekarang jadi kotor kusam dan pecah ya ndak masyalah. Kursi-kursi yang dulu disediakan untuk pejalan kaki biar bisa ngelurusin kaki jadi raib, yo ben. Beberapa penutup saluran air berubah jadi jebakan Betmen untuk pejalan kaki, yo anggep ae gawe adus pindo.

Saiki sing penting kuto-ne di-branding sing kece disik, ben ketok tambah kekinian. Iya, kekinian. Supaya di penutup masa pemerintahannya Surabaya tampak kreatif dan kece. Tapi namanya juga penampakan, kebenarannya masih dipertanyakan kan?


Bagikan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here