Bagikan

Kriwul sungguh terlalu. Dia janjian dengan kawan-kawannya untuk cangkruk di Warkop Gelora Injoko. Lhah dalah, tiga jam dari masa yang sudah ditentukan, arek Wonokromo itu tidak kunjung datang. Padahal, kawan-kawannya sudah di lokasi semua.

Arek iki gak akan datang. Ini dia update status BB kalau lagi di Delta Plaza. Mbadok karo pacare sing cabe-cabean iku,” ujar Bembem seraya meletakkan ponsel di meja.

Padahal, beberapa waktu lalu dia curhat pada teman-temannya kalau lagi sumpek sama pacarnya. Bahkan, dia sempat berujar kalau bersama dengan teman-teman itu, hatinya menjadi senang. Nah, dia pun berjanji akan datang bila diajak cangkruk. Ealah, saat ini lho yang ngajak Kriwul, tapi dia sendiri yang nggak datang.

Cangkeme Kriwul iki pancen lambe kempas, kok. Jujur ae, aku gak percoyo maneh,” Suro benar-benar kesal. “Janji-janji, eh malah palentinan karo si cabe,” Suro tampak sangat jengah dengan Si Kriwul.

“Ya, sudahlah, kawan-kawan. Sudah terjadi. Toh, yang penting kita bisa cangkruk bersama di sini. Gak ada Kriwul, ya gak apa-apa. Toh, Selama ini kita sering menikmati ngopi tanpa batang hidungnya. Dan, asyik-asyik saja,” Bolang menimpali.

Sementara Comel tidak berkomentar apapun. Dia sibuk melihat ponsel, merengut-rengut sendiri, geleng-geleng sendiri. “Hei, Mel. Kalau kita lagi cangkruk, jangan terbius dengan henpon po o. Cukup Bembem saja yang suka main ponsel pas lagi gumbul konco. Koen gak usah melu-melu. Biarkan Bembem saja yang njancuki,” kali ini Bolang mengkritisi Comel disambung gerakkan tangan menuju cangkir kopi. Sejenak diseruputnya kopi hitam yang konon asli dari Kediri itu.

“Sori-sori. Aku baru lihat-lihat facebook. Bukan apa-apa, masyarakat dunia maya ini kok suka debat kusir. Musim tahun baru, debat hukum agama terkait melaksanakan tahun baru. Yang yahudilah, kafirlah, dan lain-lainlah. Ini musim palentin juga begitu. Kapan hari musim natal, juga berdebat tentang haram halal mengucapkan natal. Kok sukanya ngurus-ngurusi barang tidak kongkret seperti itu,” celetuk Comel yang langsung meletakkan ponselnya di meja. Terlihat ponselnya memiliki merk yang sama dengan milik Bem-bem. Hanya tipenya yang beda.

Lambemu bantere, Mel. Koyok ustad nang tipi-tipi. Mentang-mentang pengen nang Arab, koen!” Bembem mengejek.

“Bukan begitu. Perdebatan itu sering tidak esensial. Netizen sibuk membahas tentang Syiah, PKI, dan lain sebagainya. Tapi, hanya membahas kulit. Bukan intinya,” sambung Comel.

“Mel, kulit itu penting. Seperti baju. Kalau bajumu compang-camping, orang tidak perlu tahu isi hatimu. Karena, dari tampilan saja dikau sudah memuakkan,” seloroh Suro yang lagi melahap pisang goreng.

“Esensi lebih penting daripada kulit. Ini konteksnya pemikiran, ideologi, dan sudut pandang, Sur. Jangan kau singgung-singgungkan dengan ungkapan ajine rogo soko busono. Beda landasan itu!” Comel tampak bersemangat.

“Kita terjebak seremoni!” entah ada angin apa, Bolang tiba-tiba menimpali sambil mengunyah sate usus. “Ususe kok rodok mambu, yo,” gumamnya. Dia pun melepeh usus. Menaruh sisanya di lepekan cangkir.

“Benar kata Bolang. Kita terjebak seremoni. Seremoni itu kulit,” entah mengapa, tiba-tiba Comel setuju dengan pemikiran Bolang.

“Saya akan beri contoh soal tahun baru dan palentin. Yang tidak baik itu kan mubadzir di malam tahun baru, seks bebas di hari palentin, dan jor-joran di dua momen tersebut. Tapi bahwa di tahun baru kita harus introspeksi dan hari palentin menjadi momentum kita untuk mengingat kalau berkasih sayang pada sesama mesti dilaksanakan tiap hari, kan sah-sah saja! Nah, yang disasar itu mubadzirnya, seks bebasnya, dan ekses negatif dua momen itu. Bukan momentumnya,” jelas Comel.

Koen kok dadi kakean cangkem ngene, Mel,” kata Suro. “Mungkin goro-goro mangkel karo Kriwul sing gak teko-teko,” sambung Bembem.

“Terkait syiah dan PKI, yang seharusnya dibahas itu kan soal ideologinya yang jangan sampai merusak masyarakat. Pengrusakannya yang mesti diberi perhatian. Bukan pemikirannya. Jadi, mendiskusikan pemikirannya ya gak usah dilarang,” kali ini Comel menerangkan dengan menggerak-gerakkan tangan laksana Pak SBY.

Koen bener, Mel. Kaet mau aku sepakat ambek awakmu. Koen bener. Bener-bener ngawur!,” Bolang mengunyah ote-ote sing digoreng rodok garing. Jelas, ini sebagai pelampiasannya karena gagal menikmati sate usus tadi.

“Aku gak meminta kalian sependapat denganku. Tapi, coba renungkan omonganku tadi. Sebab, yang kemudian menjadi soal adalah banyak masyarakat di dunia maya yang berkutat pada kulit. Berdebat soal tampilan luar. Padahal, yang sejatinya harus disimak dan dibahas adalah skesta jiwa,” kata Comel lagi.

Suro mengambil gelas besarnya yang berisi es Josua. Menyodorkankannya pada Comel seraya berkata, “Ngombe sik, cak. Mari ngunu nyangkemo maneh. Tapi, nek mari ngunu koen meneng, kami akan lebih berbahagia,” (*)


Bagikan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here