Bagikan

Dalam kesempatan ini, saya akan mengutarakan alasan kenapa dakwah keagamaan belakangan harus dilakukan melalui sistem e-dakwah. Baiklah, memang akan lebih menarik jika saya menyoroti penyebaran dakwah yang serba tendensius di internet. Misalnya, tentang debat kusir perihal hukum ini dan hukum itu. Yang sebenarnya tidak esensial! Duh, melelahkan.

Namun, kawan saya bernama Rio F. Rachman yang selalu mendoakan agar anak perempuannya jadi Rais Aam PBNU menyergah, “Aku ae sing gawe tulisan iku mene mene emben. Sampean nulis mukadimah konsep garis besare ae yo,”

Saya menurut. Bukan apa-apa. Saya ogah berdebat dengan dia. Percuma, tidak dapat apa-apa kecuali mangkel. Ya, mangkel karena dia suka ngengkel nek dikandani sing bener. Ehm, tidak baik rasan-rasan. Kita to the point saja.

Imbas kemajuan zaman

Perkembangan teknologi informasi mulai dimanfaatkan sebagai sarana dakwah sehingga muncul istilah e-dakwah. E-dakwah merupakan respon aktif-kreatif yang muncul dari kesadaran akan sisi positif teknologi informasi. E-dakwah menjadi perlu dilakukan karena penyebaran dakwah secara konvensional dibatasi oleh ruang dan waktu. Sedangkan e-dakwah dapat dilaksanakan melintasi atas ruang dan waktu.

Keharusan untuk mendesain ulang konten-konten dakwah merupakan tuntutan modernisasi yang tidak dapat di tawar-tawar lagi. Sebab, problema yang muncul di zaman modern jauh lebih kompleks dan memerlukan respon yang lebih beragam dan akomodatif.

Menghadapi sasaran dakwah yang semakin kritis dan tantangan dunia global yang bergelombang-gelombang tak karuan, diperlukan konten e-dakwah yang sistematis sehingga dapat dipahami dan diterima oleh followers, friend, atau apapun istilahnya yang mengacu pada koneksi interaksi di media sosial.

Interaktivitas dalam new media merupakan nilai tambah karena media konvensional hanya menawarkan komunikasi yang pasif. Interaktivitas merupakan hal yang penting karena memperlihatkan komunikasi antara penyampai dakwah dan sasarannya. Ada komunikasi dua arah yang setara dan sebanding. Semacam itulah….

Bila dakwah selalu dilakukan dengan cara yang konvensional, yang terjadi adalah kejenuhan. Lebih dari itu, ketertinggalan. Lebih dari itu lagi, ya jadi nggak mbois alias ora sip. Setuju? Yes no question.

Dibutuhkan admin yang komunikatif

E-dakwah dilakukan banyak pihak. Baik para penyebar hoax, elemen idealis, maupun ormas keagamaan moderat. Nah, saya pernah mengamati kegiatan e-dakwah yang dilakukan dua ormas besar: NU dan Muhammadiyah.

Harus diakui, kegiatan dakwah mereka tidak sepenuhnya “e” semua. Karena, yang langsung turun di masyarakat juga seabrek programnya. E-dakwah sekadar pelengkap dan alternatif yang harus diambil biar tetap konsisten menjaga semua ruang. Dalam hal ini, ruang media elektronik dunia maya.

Apa yang dilakukan NU dan Muhammadiyah mendapat apresiasi positif. Karena, interaksi yang dilakukan oleh admin cukup baik. Di sini, memang diperlukan admin yang aktif. Tidak hanya tukang jaga akun yang sebenarnya sekadar numpang ngenet di kantor untuk buka facebook, twitter, dan lain sebagainya.

Admin mesti bisa mengelola netizen yang menghampiri akun dakwah. Tak sekadar menyalurkan pertanyaan bagi mereka yang ingin jawaban terait agama. Admin mesti bisa berinisiatif mencari solusi alternatif segala persoalan. Dibutuhkan admin yang komunikatif.

Baik, kawan-kawan. Sementara sampai di sini dulu tulisan saya. Memang sengaja tidak terlampau panjang dan detail. Ini sekadar bahan diskusi awal. Mudah-mudahan di lain kesempatan saya bisa mengupas topik ini lebih dalam.

Semoga bermanfaat. (*)


Bagikan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here