Bagikan

Tulisan kali ini sungguh personal. Tanpa tendensi bahwa apa yang saya sampaikan harus diamini semua orang. Karena, saat kita sudah memilih grunge, pasti kita menemukan filosofi yang melekat pada jati diri.

Grunge tidak gahar. Justru itu kerennya! Grunge terkucil. Justru itu kerennya! Grunge tidak besar. Justru itu kerennya! Grunge tidak keren. Justru itu letak utama kerennya!

Mbulet yo? Yo wes ngono iku…

Grunge pernah sangat besar pada kisaran 90-an. Beruntunglah orang-orang yang turut mengalaminya. Dan yang tak sempat mengalami, iku takdirmu!

Lantas, ke mana orang-orang atau audiens yang begitu banyak? Jutaan pemakai baju flannel, celana dan sepatu belel, di mana mereka sekarang?

Di mana, di mana, di mana, apa mereka terjebak alamat palsu Ayu Ting-Ting? #halah

Hilang! Faktanya, mereka hanya anak-anak muda penanda jaman. Mereka sekadar ikut-ikutan trend. Sama seperti saat ini, tatkala banyak ABG-ABG yang menggilai genre atau mode tertentu.

“Oppa oppa!teriak penggila drama korea itu. Beberapa tahun lagi, seandainya serial Abu Dhabi yang booming, mereka akan lebih nyaman update status “Habib, habib! Sebutan yang bisa membuat distorsi makna bagi laki-laki di kawasan Ampel.

Jutaan orang seperti mereka hanya penikmat. Bukan pelaku. Tak heran, saat satu tren sudah turun popularitas karena digeser zaman, mereka ikut raib.

Yang tersisa cuma para pelaku scene. Jumlahnya sedikit, stagnan, tidak berubah, tidak berkurang-tidak bertambah. Kalaupun berganti orang, itu hanya imbas regenerasi.

Mungkin itulah penyebab mengapa scene grunge tidak bisa membesar. Mereka sebatas kumpulan pelaku yang konsisten.

Perhatikan setiap gig grunge yang mungkin sempat kamu datangi. Berapa jumlah penonton/penikmat murni setelah dikurangi personel band dan panitia (termasuk, keluarga, crew, dan pacar personil)? Segelintir!

Pergilah ke gig lain di waktu berbeda. Apa yang anda lihat? Pasti, orang-orang yang sama. Mereka kaum yang setia pada prinsip.

Mungkin kemudian muncul pertanyaan? Bagaimana cara untuk meraih audiens sebanyak era 90-an? Tidak akan bisa. Tapi, setidaknya jumlahnya bisa bertambah sedikit demi sedikit.

Caranya, mengenalkan kesederhanaan dan ketidaksempurnaan grunge.

Ini adalah teknik pemberontakan paling nyaman. Pemberontakan dari diri sendiri. Mari mengenalkan grunge dari sudut pandang itu. 

Toh, sejatinya tidak ada yang sempurna di dunia ini.

Maka itu, kamu pun tidak perlu berlagak keren dengan memakai kendaraan pinjaman di hadapan calon mertua. Apalagi, ternyata anak calon mertua itu tidak mengakui anda sebagai pacarnya. 

Maestro pun tak sempurna

Ketika menulis artikel ini, mendadak saya teringat video unplugged Nirvana. Tepatnya, saat adegan Meat Puppets mengambil alih gitar dan terlalu lama nyetem.

Kurt Cobain nyeletuk sinis, “Apa yang sedang kalian tune? Harpa? Kupikir kita band rock besar. Seharusnya kita punya sederet  gitar cadangan di belakang.”

[embedyt]http://www.youtube.com/watch?v=p43c4mwM7No[/embedyt]

Mana ada musisi rock ternama yang ber-attitude seperti itu. Video itu tidak di-cut. Video itu tersaji dengan ketidaksempurnaan yang keren. Ketidaksempuranaan yang manusiawi.

Dalam sebuah video, band Alice In Chains mengumpat karena lupa sebaris lirik lagu Sludge Factory. Mereka melakukannya secara alamiah dan tak merasa harus repot-repot menjaga image rockstar.

Para maestro itu ikhlas dan tetap percaya diri dengan ketidaksempurnaan. Makane, koen yo gak perlu mekso awak untuk mendapat pengakuan publik.

Nek rai wes elek, yo terimo’en nasibmu. Yakinlah, kamu masih punya kelebihan lain yang layak ditonjolkan. Syukuri sing wes onok. Ojok iri karo pacar wong liyo #sokbijak.

Pantang pencitraan

jubileeCerita lain berasal dari salah satu label grunge terkemuka yang menggelar pesta ulang tahun ke-25. Tema yang diangkat dalam acara bertajuk Silver Jubilee tersebut adalah parodi pesta ulang tahun ala kerajaan.

Untuk mempromosikannya, mereka membuat trailer berisi testimoni atau petuah dari para sesepuh grunge Seattle. Misalnya, Kim Thayil, Tad Doyle, Mark Arm, dan Jack Endino.

Dalam trailer tersebut, suara mereka sesekali tenggelam dalam hiruk pikuk dan kebisingan jalan kota Seattle.

Alih-alih take ulang demi kesempurnaan iklan, mereka justru membiarkannya begitu saja. Mereka membiarkan ketidaksempurnaan itu ditonton jutaan orang di seluruh dunia.

[embedyt]http://www.youtube.com/watch?v=7TaTmun-v8o[/embedyt]

Sungguh hal yang aneh di dunia bisnis entertainment. Bukankah ini bisa bisa merusak citra dari produk bisnis tersebut?

Di sisi lain, orang-orang seperti saya akan bersorak “Yeeaahhh, inilah grunge!”

Dalam ketidaksempurnaan dan kesederhanaan, tampak jati diri grunge yang sesungguhnya: lepas dan bebas. Inilah wajah grunge. Apa adanya. Tanpa kosmetik sebagai order nafsu bisnis hiburan. Fuck pencitraan!


Bagikan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here