Bagikan

Di era kemajuan teknologi seperti sekarang ini, kita diberi kemudahan dalam mengetahui berbagai informasi. Segala macam informasi bisa didapatkan dari genggaman tangan. Hemat waktu, tenaga, dan gak ribet.

Tinggal klik, kita bisa melihat sejarah lawan jenis yang lagi kita incar (baca: stalking). “So it’s really efficient for modern people who really addicted with speed”.

Kemajuan teknologi mampu menciptakan konsep baru yang disebut netizen. Mereka adalah warga atau penduduk dunia virtual yg senantiasa menghubungkan dirinya dengan yang lain.

Individu ataupun kelompok berlomba menciptakan informasi. Kemudian membagikannya dengan orang atau kelompok lain melalui sosial media.

Kalau suka dengan kisah anak durhaka yang dikutuk berwajah hello kitty, share! Kalau setuju dengan Komunitas Ayah Eddo, klik like!

Sosial media telah menjadi bagian dari hidup kita. Banyak dari kita yang mengandalkan sosial media sebagai sarana mencari informasi. Misalnya, terkait lowongan pekerjaan, jual beli, kondisi lalu lintas, dan cari jodoh!

Mungkin orang mulai putus asa dengan mencari jodoh di dunia nyata. Akhirnya, mereka mendatangi dunia maya. Padahal, maya tidak pernah mendatangi mereka.

Para web developer terus berlomba mengembangkan kecanggihan. Salah satu sosial media yang menunjukkan transformasinya adalah Line. Di antara inovasinya adalah penambahan fitur like&share yang membuat pengguna mampu berbagi kepada publik (baik yang termasuk kontak maupun tidak) tentang tulisan/statusnya.

Kemunculan fitur like&share dapat menjadi manfaat. Semisal, membantu penyebaran info secara cepat. Pernah ada info seorang anak yang membutuhkan biaya operasi yang cukup besar. Dalam waktu kurang dari 24 jam, fitur ini mampu menggaet donator-donatur untuk menyumbang. Warbyasah!

Sayang, kawan saya yang mencari jodoh ternyata gagal memakai fitur ini. Alih-alih dapat kekasih, dia justru dituding: Alay! Ababil! Nggilani! dan lain sebagainya. Kasihan….

Pergeseran fungsi sosial media

Di sisi lain, pengembangan Line tadi berdampak membiaskan fungsi sosial media ini. Kebanyakan masyarakat kini hanya mengacu pada yang namanya timeline “Line” sehingga fungsi yang sebenarnya untuk messanger atau berkomunikasi, bergeser menjadi alat pencari informasi.

Mulai dari jodoh, bencana alam, kisah sedih, kisah romantis, seksualitas , humor sampai masalah apapun sing onok nang jagat erat!

Yang lebih disayangkan lagi , tidak sedikit informasi tersebut dibuat oleh pihak berkepentingan entah untuk sekedar menjadi trend, sekedar untuk mendapat label “HITZ”, atau bargaining power. Kejam…

Ada pepatah mengatakan, membacalah jika ingin mengetahui dunia, dan menulislah jika ingin dikenal dunia. Jadi, gak usah kaget lak koncomu sering update status, nulis status random kadang seneng kadang galau, kadang dadi preman kadang dadi alim, kadang butuh motivasi kadang dadi motivator, bahno ae sak karep karep e. Jika dilihat dari pepatah tadi, bisa dipastikan orang seperti itu lagi mencoba untuk jadi terkenal.

Keakuratan informasi pada timeline Line juga dipertanyakan. Setiap orang mampu mengeluarkan opini. Setiap orang dapat ikutan like&share. Hal tersebut justru akan membingungkan banyak pihak.

Karena, terlalu banyak opini yang bertebaran sehingga semakin susah untuk mencari kebenaran sejati. Kebenaran informasi sering kali hanya didasarkan pada banyaknya like&share. Aneh, bukan?! Kebenaran jadi monopoli kaum mayoritas! Serasa zaman jahiliyah!

Tidak hanya line, fenomena seperti ini juga kita temui di media sosial lain seperti facebook, twitter, instagram, dan lain sebagainya. Yang semuanya, bukan buatan orang Indonesia.

Kita harus jeli

Kehidupan kita secara sadar atau tidak telah dipenuhi oleh ilusi yang diciptakan oleh bacaan kita sehari hari. Kita sering mengetahui berita/informasi dari bacaan kita yang tentu kita tahu, belum tentu benar.

Seperti kata Emha Ainun Nadjib, “Kehidupan ini seperti berenang di lautan ketidakbenaran,”

Guna menghindari informasi yang salah, kita harus menjadi pembaca yang pintar. Bukankah di dalam Al-Quran sudah jelas, kita disuruh “IQRO” (membaca). Namun bukan hanya penegasan “IQRO” saja yang harus digarisbawahi. Al Quran juga mengharuskan kita agar berfikir menggunakan akal. #Yok opo, wes mirip Prof Quraish Shihab gak ndalilku, Rek?

Kita diharapkan jeli untuk memilah bacaan yang benar faktual terjadi dan yang sekadar opini. Selain itu, kita harus bijak dalam mengolah informasi. Jangan serta merta ditelan mentah-mentah. Apalagi, ikut like and share!

Cara sederhana dalam mengkroscek mungkin bisa diawali dari spekulasi pribadi. Takok nang awakmu dewe. Semisal, “Iyo ta? Mosok bener sih iki?

Selanjutnya ya googling, tanya temen, tanya ahli, tanya mantan, tanya tetangga, atau kalau dimungkinkan tanya narasumber yang terlibat dan selalu kumpulkan data. Ribet gak, koen?!

Selain menjadi pembaca yang pintar, kita harus memiliki tanggung jawab sosial terkait aktifitas penyebaran informasi. Daripada menyebarkan informasi yang belum tentu kebenarannya, lebih baik kita menyebarkan amal sholeh dan kebaikan, bukan?!

Share hanya yang bermanfaat dan dari sumber yang kredibel untuk mengurangi efek domino informasi yang pseudo, hoax. Jijay!

Jangan hanya berlandaskan pada pokok e melok konco. Pokok e aku lak like and share iki keren. Lan pokoke-pokoke lainnya yang tidak berdasar data, fakta empiris, serta objektifitas memadai.

Terakhir, belajarlah memahami kenyataan bukan hanya dari kata. Bukan hanya dari tulisan dan dari informasi yang ada. Karena terkadang, informasi, tulisan, dan sejumlah paradigma sudah di-setting oleh media. Yes, media control us!

Kehidupan itu amat sangat luas, bukan hanya soal hitam-putih dan baik-buruk. Hidup tidak sebatas scroll up and down. Kehidupan terlalu amat sangat sempit jika hanya dilihat dari timeline media sosial.


Bagikan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here