Bagikan

MakNews – Belakangan, di sejumlah website berita, tercuat isu memprihatinkan. Apa itu? Soal seks bebas di Surabaya yang dilakukan anak sekolah.

Seperti dilansir nasional.republika.co.id, sebanyak 19 persen dari 300 remaja Surabaya yang diteliti empat mahasiswa ITS menganggap wajar berciuman saat berpacaran. Bahkan, 36 persen dari responden menganggap wajar berpelukan saat berpacaran.

Ketua Tim peneliti Febriliani Masitoh mengutarakan, dalam kajian yang  dipresentasikan di depan tim Monitoring Evaluasi (Monev) dari Kemristekdikti untuk seleksi ke tingkat Nasional guna Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) kategori penelitian tersebut, pihaknya menyebarkan kuesioner pada 300 responden pelajar jenjang SMA, SMK, dan MA di Surabaya.

Hasilnya, 36 persen menyatakan wajar berpelukan saat berpacaran dan 19 persen wajar berciuman. Hasil lainnya, 17 persen dari responden hanya ingin jalan berdua tanpa mengajak teman, 9 persen ingin bergandengan tangan, 5 persen memilih tempat sepi saat kencan, 3 persen tidak malu bermesraan di depan umum, dan 2 persen berhubungan seks menjadi tanda cinta.

Lha aku terus mikir, apakah bayek-bayek iku memang sudah menjadikan seks sebagai kebutuhan? Atau ini cuma imbas gaya hidup?

Kalau itu kebutuhan, berarti perlu ada undang-undang baru tentang pernikahan. Maksudnya, pernikahan usia dini mesti dilegalkan. Opo o? Ya karena anak remaja sudah butuh seks dan seks sehat kan jarene wong-wong sing apik yo pas wes rabi. Masok gak? Atau ngawur?

Kalau itu sekadar imbas gaya hidup, bakal lebih kompleks masalahnya. Sebab, muncul pertanyaan, siapa yang bersalah atas pergeseran gaya hidup ini? Pemerintah? Masyarakat? Media massa?

Tentu, gampang menuding pihak-pihak luar. Gampang menyalahkan tuhan. Tuhan kan gak mungkin langsung ngeplak ndasmu! Karena mungkin, dheke memang wes nggak nggathek peno!

Nah, kalau mau introspeksi, saya lebih suka menuding diri sendiri. Walau ini terkesan sok-sok’an saja. Bahwa yang bersalah adalah saya sendiri.

Saya yang membiarkan sepasang sedjoli duduk mojok mengarep di bioskop padahal mereka mau grepe-grepe, dan saya tahu. Saya membiarkan dua sedjoli lainnya ngobrol di tempat sepi padahal mereka mau saling serang monyong-monyongan, dan saya tahu. Dan saya tahu, mereka masih remaja dan masih anak sekolah.

Sekali lagi, ini sok bijak. Tapi, mana lebih baik, sok bijak atau sok benar dengan menyalahkan orang lain? atau keduanya tidak layak dibandingkan? Mbuh kah!

Yang jelas dan paling mudah saat ini, mari jaga lingkungan kita masing-masing. Jaga anak-anak di sekitar kita, keluarga, tetangga, lan sak piturute. Siapa tahu, dari saling menjaga pada lingkup kecil itu, kondisi bisa berubah. Membesar, membesar dan makin luas efeknya.

Toh, saya pikir, tidak ada satu pun dari kita yang ingin anak, adik, atau saudara kita melakukan seks bebas seperti hasil penelitian arek-arek ITS di atas. Hiks hiks. (*)


Bagikan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here