Bagikan

Pada tanggal 12 Februari 2016 hingga 29 Februari mendatang, C2O Library & Collabtive akan menyelenggarakan sebuah pameran berjudul HOMO SAPIRIN. Pameran apa? Seni rupa, yesss!

Adalah karya-karya Suvi Wahyudianto yang bakal dipertunjukkan. Dengan kurator, Ayos Purwoaji. Elingo, Rek. Pembukaane, sesuk jam enam sore!

Homo sapirin adalah sebuah narasi mengenai manusia (homo) dan sapi (sapirin). Kedekatan simbologis antar keduanya dapat dibaca dalam laporan etnografis yang ditulis oleh Huub De Jonge. De Jonge bukan pemain bola. Bukan pula kacong kenek.

Dia adalah seorang antropolog yang meneliti kebudayaan Madura secara ekstensif. Dalam artikelnya tentang tradisi aduan sapi, De Jonge menyebut bahwa sapi bagi manusia Madura adalah gambaran perjuangan hidup, usaha untuk meraih status yang lebih tinggi, dan mempertahankan kehormatan pribadi. Maka tidak sulit untuk membayangkan sosok sapi jantan sebagai representasi dari orang dan masyarakat [Madura].

“Melalui pameran tunggalnya ini, Suvi Wahyudianto mencoba mengurai akar kekerasan dan relasi kuasa dalam budaya Madura. Karya-karyanya banyak meminjam idiom tradisi kerapan sapi. Karena, bagi perupa yang lahir dan besar di Bangkalan ini, sapi kerap merupakan metafor yang kaya untuk membicarakan permasalahan kultural yang dihadapi masyarakat Madura,” demikian yang diungkapkan dalam rilis yang dikirim ke MakNews oleh panitia pelaksana.

Dalam berkarya, Suvi berangkat melalui pengamatan akan realitas keseharian, memori, hingga kajian sejarah yang melatarbelakangi sebuah peristiwa. Kegemarannya akan sastra dan teater membantunya untuk mentransformasikan gagasan menjadi lebih kontemplatif. Ada kritik dan kemarahan dalam karya-karya Suvi, tapi disajikan dengan puitik. Gagasan penciptaannya disalurkan melalui eksperimentasi dengan berbagai macam teknik cetak dan instalasi.

Melalui karya-karya Suvi pada pameran HOMO SAPIRIN nanti, kita dapat melihat wajah Madura dari perspektif sebuah generasi yang lebih muda.

Tentang Suvi

Suvi Wahyudianto adalah seorang perupa muda yang sedang menyelesaikan pendidikannya di Jurusan Pendidikan Seni Rupa UNESA. Aktif dalam mengikuti berbagai pameran bersama sejak tahun 2010. Pada tahun 2015, karyanya masuk dalam seleksi Biennale Jatim dengan membawa medium cetak monoprint. Saat ini Suvi tinggal dan bekerja di Surabaya. (*)


Bagikan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here