Bagikan

Pakaian yang dikenakan mencerminkan karakter kita. Sesuai ungkapan, ajine rogo soko busono.

Contohnya, jika dalam keseharian kita suka memakai kaos band, bisa dipastikan kita suka musik. Lebih dari itu, band yang gambarnya ada di kaos tersebut juga menjadi simbol aliran musik apa yang kita sukai.

Kalau band tersebut adalah Soneta, dapat dipastikan, kita suka dengan aliran music jazz! Bila band tersebut ternyata Krakatau, dapat dipastikan, kita suka dengan aliran dangdut!

Apalagi, belakangan sudah menjadi trend, sebuah band atau personelnya, membuat marchendise atau brand clothing. Tujuannya, mempermudah para penggemar mempunyai atribut band yang mereka idolakan.

Jangan hanya ikut-ikutan

Akan tetapi, tidak sedikit pula mereka yang memakai kaos band anti-mainstream, ternyata tidak memahami ideologi band tersebut. Contoh gampangnya, sering kita lihat di perempatan jalan, anak-anak remaja menjadi pengamen dan memakai kaos dengan tulisan Sex Pistols, Rancid, The Cassualties, dan Marjinal.

Yang menjadi pertanyaan, apakah mereka paham serba-serbi band yang gambarnya menempel di kaos tersebut? Atau, wong-wong iku mung melu-meluan thok koyok para Ababil?

Saya pikir, mereka seharusnya paham seluk-beluk band mulai ideologi, nama personel, lagu, hingga aksi apa yang mereka lakukan selain bermusik. Jangan sampai, mereka hanya menjadi korban dari salah pemahaman tentang arti “anti kemapanan”?

Karena kalau itu terjadi, akan ada banyak remaja yang menyukai pergaulan bebas dengan embel-embel anti kemapanan. Lebih celakanya, ideologi tersebut tidak diimbangi ilmu agama yang baik. Imbasnya, pembangkangan terhadap Tuhan. Padahal, berunderground ria sangat bisa dilakukan tanpa harus meninggalkan norma agama.

Demikianlah, jamaah oh jamaah…. Yuk kita kemon ke paragraf selanjutnya.

Banyak fans yang “dangkal”

Semakin berkembangnya scane musik underground (punk, hardcore, metal, dan lain-lain) terkadang melahirkan fans yang “dangkal”. Maksudnya, para fans yang hanya tertarik di aspek fashion. Biar sekadar dikatakan gaul atau untuk menarik perhatian lawan jenis, mereka pakai baju bertema anti-mainstream. Harapannya, agar dianggap sangar dan idealis.

Lantas, apakah fans yang memakai kaos band pelawan arus a.k.a anti-mainstream juga melakukan perlawanan? Apakah orang-orang yang mengaku fans band punk selalu melakukan aksi perlawanan ketika pemerintah melakukan kebijakan yang merugikan rakyat? Apakah mereka dengan tulus bergerak, paling tidak melalui demonstrasi, untuk melawan pengusaha berwatak kapitalis yang merusak lingkungan?

Bila jawabannya, tidak, tentu tidak salah bila kita mencap mereka sebagai penggemar punk yang “dangkal”. Betul apa betul? Bu? Bu? Mamah dan A’a, curhat dong! #kokgaknyambungngene

Contoh lagi, saat ada para pembeli dan pemakai kaos bernuansa satanis maupun logo yang terkesan melecehkan suatu agama, ternyata tidak tahu artinya apa.

Apa dengan begitu mereka pikir mereka sudah jadi setan? Lha kok mau-maunya jadi setan. Setan aja gak mau jadi manusia.

Bayangkan, mungkin gak, ada setan yang berkenan pakai baju yang gambarnya manusia semisal Che Guevara, Jokowi, atau Kurt Cobain? Gak Mungkin, kan?! Terus, karepmu opo tho?

Maka itu, sahabat super sekalian, menjadi ironis ketika kita larut dalam hedonisme fashion seperti ini. Karena dalam sejarah band underground sendiri, tidak ada aturan saklek. Tidak ada perintah khusus bagi penggemar untuk memakai kaos underground tertentu yang berdesain melecehkan agama maupun Tuhan.

Jangan sampai kita hanya menjadi penggemar yang ingin terlihat radikal tetapi ha ho, lolak lolok, klopa klopo, lan tolah toleh thok saat ditanya apa artinya.

Punk tak harus mohawk

“Punk itu nggak harus bertatto maupun mohawk. Yang penting jadi diri sendiri,” (Mike Marjinal)

Che Guevara, Wiji Thukul hingga mereka yang terlibat aksi reformasi 98 adalah beberapa contoh yang layak disebut “punk” dari segi perlawanan. Mereka menjadi bagian dari lahirnya sebuah revolusi yang mencetuskan sistem baru.

Apakah Che, Subcommandante Marcos dan mayoritas yang turun ke jalan pada aksi reformasi 98 di Indonesia berambut mohawk, badan penuh tatto, dan memakai kaos yang melecehkan agama? Gak kan?! Kalau menurut aku sih: no. Enggak tahu kalau mas Boneng (karena mas Anang terlalu mainstream) #oposeh

Saya bukan ingin membandingkan musik dan politik. Tapi, ada poin yang bisa jadi pembelajaran.

Bahwa kita bisa membuat suatu perubahan, namun tidak perlu memaksakan diri. Kita boleh mendekati cewek, tapi toh, kita tidak bisa memaksa perasaannya, kan? #setengahcurhat

Gampangnya begini, dalam konteks musik maupun lirik, kita boleh menyukai sebuah band. Namun, tidak perlu memaksakan diri berpenampilan layaknya personel band tersebut hanya agar dijuluki “Punk Banget” atau “Metal Banget”.

Toh, tidak ada tolok ukur atau standar paten bagi seseorang untuk memperoleh predikat seperti itu.

Sah-sah saja kita suka punk. Namun, harus ada pertimbangan lain saat kita sudah memasuki ranah fashion seperti bertatto, berpiercing dan lain-lain.

Apakah siap menerima konsekuensi moral di masyarakat dan terutama keluarga? Jika yang menjawab adalah para personel Marjinal dan Superman Is Dead (contoh band), mungkin jawabannya: siyap grak. Karena, mereka tergolong sudah sukses di “dunia” masing-masing.

Lalu, bagaimana bagi mereka yang belum/tidak sukses? Apakah bisa bertahan dengan fashion mohawk, bertatto dan pakaian yang terkesan “sangar” di tengah tuntutan harus menjadi manusia bermanfaat dan membanggakan orang tua?

Mikir, Rek, mikir! Ngopi’o ceg utekmu isok lancar mikir. Ojok mung ngopi ceg lancar ngelamun karo mengenang mantanmu sing wes sukses, sementara koen jik tenger-tenger koyok kethek ditulup.

Intinya, ketika seseorang menyukai scene musik underground, dia tidak wajib mengikuti fashion musik tersebut. Lebih baik, konteks “suka” diarahkan kepada hal yang positif.

Dan menjadi lucu dan aneh ketika memakai kaos band yang identik “perlawanan”, sementara tujuannya hanya agar terlihat gaul. Yang terjadi adalah fashion tanpa esensi.


Bagikan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here