Bagikan

Sabtu sabtu sudah menjadi kebiasaan SiKemin dan SiKemun rekreasi religius. Malah Abah Dulamu sehari sebelumnya kadang berangkat duluan. Maklum agenda rutin memang sudah disusun setahun.

Sabtu pagi tadi BaDulamu ngajak SiKemin sama SiKemun muhibah ke Blitar. Tapi bukan ziarah makam Sang Proklamator Bung Karno. Tidak! Tiga sekawan ini mau menghadiri pengajian rutin yang sudah menjadi rutinitasnya.

Selama perjalanan SiKemin banyak ngoroknya. Tapi telinganya gak mati alias mampu mendengarkan obrolan BaDulamu dan SiKemun. Walaupun komunikasinya cuma,“kroook… keeeer… Hezzz…” saat pembicaraan kedua sohibnya lagi serius seriusnya.

Sedangkan SiKemun memang dikenal jago melek. Walaupun tanpa segelas kopi, dia sanggup nemani sopir SiAcong sampai tempat tujuan.

“Ustad ngapunten… maaf koq tidak tidur saja. Monggo kacang telor Stad,” tawar SiKemun mancing suara BaDulamu sedari tadi baca buku agama.

“Waah makasih Mun,” jawab BaDulamu. “Ustad boleh nanya soal maut. Orang berani mati itu apa termasuk nyalinya sudah kuat atau siyap?”, tanya SiKemun yang sebelum dijawab BaDulamu disahut suara,“Kroook,” ngoroknya SiKemin.

BaDulamu jawab,”Maksudmu orang mati itu butuh nyali kuat atau tidak gitu ta?” SiKemun menganggukkan kepala,”Lerees leres. Betul sekali Stad.”

Menurut BaDulamu jiwa orang berani mati itu biasanya dimiliki para mujahid. Pejuang di jalan Allah. Matinya mati sahid.”Kreteriane jelas nang Al Quran. Bukan asal ngomong ALLAHU AKBAR terus sing dipateni atau mati bukan yang memusuhi Allah, yoo sing matekno iku mati sangit Mun.”

Lha orang yang satu nyali berani mati atau pejuang yang benar benar berjuang di jalan Allah saja, lanjut BaDulamu, belum tentu berani mati semua. Sebab para Mujahid itu justru hatinya lebih lembut daripada pemberontak atau yang sekarang dikenal sebagai teroris itu.

“Opo maneh mujahidine urip utowo cari makan di Indonesia. Mereka sudah bijak. Jihad yang dimaksud kelompok mujahidin ini adalah jihad melawan hawa nafsu,” jelas BaDulamu yang kontan disambut suara,”Hezz..,” SiKemin yang masih pulas.

Sementara SiKemun terus nyimak sembari manggut manggut. “Lho koq kemarin masih ada orang jihad di Sarinah?” protes SiKemun yang langsung disahut BaDulamu,“Iku ngono bukan jihad. Jahaaad yoo.”

Muuun, lanjut BaDulamu, orang Islam yang bijak sekarang nggak cuma pakai otak kalau ingin mati sahid. Mereka sudah menggunakan hati nurani dan memahami arti jihad yang sebenarnya setelah Rasulullah SAW berlindung.

Yaitu,”Jihad untuk tidak nyakiti hati sesama, jihad tidak merampas jatah orang lain, jihad tidak merusak hubungan baik sesama. Wis akehlah pokok’e jihad memerangi hawa nafsu sing efek’e apik gae njogo misinya Rasulullah yang Al Amin dan Rahmatan lil Alamin iku,” BaDulamu berargumen.

Gak terasa perut SiKemun mulai keroncongan. Pas ada warung Sego Pecel di pinggir jalan, dia minta SiAcong markir mobilnya. SiKemin sontak terbangun. “Alhamdulillah sudah sampai,”ucapnya sembari mengusap liurnya yang masih tampak meleleh di pipinya.

(Mereka pun istirahat, lagian ujung jari yang nulis kisah ini juga sudah mulai keju alias kemeng kaben… kikik. Oke deh met rehat dan MakSi sohib semuanya. Makasih atensinya dah baca cerita iseng ini hee… he…)


Bagikan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here