Bagikan

Entah ada angin apa, Kriwul tiba-tiba mengsms Bembem dan bilang ingin ngopi bareng. Padahal, belakangan dia sulit sekali diajak cangkruk. Pasalnya, dia lebih senang kumpul sama pacar barunya yang disebut-sebut mirip cabe-cabean. Dua sedjoli anyaran itu kerap update status dan foto di media sosial. Agaknya mesra benar. Nempel seperti prangko sama amplop yang dilem pakai alteko.

“Tumben, kamu ngajak cangkruk. Pacarmu kamu kemanakan,” kata Bembem saat mereka berjumpa di warkop Klutak Lidah. “Aku kangen kalian. Kawan-kawan lamaku,” jawab Kriwul yang kalau dilihat-lihat, bagian depan rambutnya makin kena abrasi. Semacam ada pertumbuhan rambut yang tak merata. Di bagian depan punah, di bagian belakang kriwul. Apa-apaan ini.

“Tapi, ya mohon maaf. Kayaknya, hari ini kawan-kawan nggak bisa ke sini. Tadi aku sudah bilang ke mereka. Ternyata, Suro dan Bolang mengantar Comel ngurus paspor di kantor imigrasi,” Bembem mejelaskan.

“Comel mau ke mana?” tanya Kriwul seraya makan krupuk blek yang bunder berongga-rongga. “Dia mau merantau. Mengubah nasib. Ke Arab Saudi,” ringkas Bembem. “Itu serius, ta?” selidik Kriwul. “Kayaknya sih, nggak serius. Lha wong mereka bertiga datang ke Imigrasi itu niatnya cuma tanya-tanya,” ujar Bembem.

“Kalau cuma tanya-tanya, kan bisa lewat internet saja,” celetuk Kriwul. “Koen kakean cangkem. Lha sekarepe arek-arek lho. Bah ape takok nang internet, bah ape moro nok kantor imigrasi langsung. Kan ini negara demokrasi,” Bembem berujar enteng. Tanpa emosi.

Untung bagi Kriwul. Tak berapa lama kemudian, Suro, Comel dan Bolang tiba di warkop Kultak. Maklum, di kantor Imigrasi mereka hanya tanya-tanya. Jadi, tak butuh waktu lama. Keinginannya untuk jumpa kawan-kawan pun terkabul.

“Hei, Wul. Lama tak jumpo. Tibake koen jik urip,” sapa Bolang. “Areke iki pasti lagi onok butuhe. Nek gak, yo mending bergendak ria ambek cabe-ne iku,” Comel berujar sinis.

Kriwul membantah asumsi Comel. Meski memang, dia mengakui saat ini sedang pusing dan butuh teman-temannya itu untuk menghibur diri. Betapa tidak, pacarnya sedang marah padanya. Hanya gara-gara dia tidak bawa uang pas makan bersama di Solaria malam minggu lalu.

“Kalau ceritanya begitu, ya sama saja kamu ke sini kalau ada butuhnya, Wul,” Comel masih sinis. “Apapun itu, Mel. Yang jelas, aku sekarang yakin, kalian satu-satunya penghiburku di kala lara,” seloroh Kriwul.

“Sebenarnya tidak apa-apa, kalau kamu sudah punya pacar dan sibuk dengan pacarmu. Jarang menemui kami. Tidak ada masalah. Itu naluriah. Mungkin, saat kamu sudah menikah, kita malah tak pernah berjumpa lagi. Tidak mengapa. Yang jadi soal, bila kamu benar-benar lepas kontak dengan kami. Tidak menyempatkan sedikit pun bersilaturahmi. Baik via sms, media sosial, dan lain-lain. Itu jelek sekali,” Suro berceramah.

“Kenyataannya, memang begitu. Kamu tidak mau mengotak kami. Baru membalas sms kalau dikirimi sms. Baru berkumpul, pas lagi galau. Tapi, tidak mengapa juga sih. Santai saja. Kalau pun tadi Comel mensinisimu, kan itu sudah biasa. Di sini, keakraban kan berasal dari sinisme dan saling hujat,” Bembem berteori. Kriwul tersenyum masam.

“Ehm, sudahlah, kalian yang baru datang pesan kopi sana. Bembem, silakan pesan kopi dan makan krupuk sepuas-puasnya. Hari ini, kopi dan krupuk kalian semua aku yang traktir,” Kriwul berbaik hati. Baru kali ini sepanjang hidupnya membayari kawan-kawan kopi dan krupuk. Biasanya, paling banter traktir kacang marning. “Nah, kalau begini, kamu kelihatan seperti ahli sodakoh, Wul,” sambut Bembem.

Perbincangan berlanjut. Tanpa topik pasti. Bahkan, tidak ada topik yang menyinggung soal pacar Kriwul. Dan itu, sudah biasa. (*)


Bagikan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here