Bagikan

Selama ini, Surabaya sudah menjadi kota yang benar-benar megah. Wali Kota Bu Risma tenar dengan terobosan yang luar biasa. Wes, angel nek njelentrehno prestasi Ibuk-Ibuk yang satu ini. Uakeh, pokoke.

Dia juga cenderung jadi “kesayangan media”. Karena banyak kebijakan dan langkah-langkahnya yang populis. Bukan, propolis seperti nama suplemen, lho ya.

Namun, pembenahan tetap harus dilakukan di segala aspek. Kalau mau digali, tentu ada beragam sudut di Surabaya yang perlu perbaikan. Kebrilianan Surabaya jangan hanya jadi lipstik. Namun, mesti merasuk hingga relung-relung sanubari kota hiu dan buaya ini.

Sebagai contoh, problem LPA Benowo yang disebut-sebut pengelolaannya oleh swasta belum jalan sesuai yang diharapkan. Ini mesti ditelusuri. Karena, anggaran yang digelontorkan untuk proyek tersebut, subhanallah besarnya. Mau tau berapa? Coba ae, dulur-dulur browsing dewe. Pakai kata kunci “anggaran+Pemkot+Surabaya+LPA/TPA+Benowo”. Jangan hanya karena lokasinya jauh, orang-orang jadi enggan melirik.

Monopoli proyek pun konon masih ada. Sekali lagi, ini konon. Kalau mau ditelusuri, silakan saja. Siapa tahu, ente-ente adalah perusahaan yang selama ini sulit nembus lelang di Surabaya.

Ada lagi potensi yang dibiarkan begitu-begitu saja: cagar budaya. Gampangnya begini, ambil satu contoh, Makam Peneleh. Apa yang sudah dilakukan eksekutif terhadap kuburan legendaris tersebut? Entahlah… Aku wes suwe gak sambang kuburan. Terakhir, ya ziarah nok makam mbahne bojoku di Lamongan, jelang lebaran tempo hari.

Tulisan ini, sekadar mengingatkan kita. Agar tidak nggumunan. Bahwa kita mesti mengapresiasi pekerjaan yang baik, itu haq. Di sisi lain, kita juag mesti memberi masukan untuk problem kota yang masih minim penyelesaian.

Kalau boleh jujur, di antara dinas-dinas yang selama ini melakukan banyak terobosan, ada pula dinas yang stagnan. Gampangnya begini, saat Dinas Sosial mengeluarkan sejumlah inovasi seperti “Campus Sosial Responsibility, yang mengajak mahasiswa turun ke lapangan mendampingi anak-anak putus sekolah” dan “Old Never Dies, yang membuat lansia satu dengan lansia lain saling peduli. Sehingga jumlah lansia terlantar menurun drastis”, terdapat dinas yang pekerjaannya rutin itu-itu saja.

Ya, rutin saja, untuk dinas di Surabaya, sangat tidak cukup. Tanpa terobosan brilian dalam setahun, Wali Kota mestinya perlu “merelokasi” kepala dinas yang bersangkutan. Karena, gaji mereka (ditambah tunjangan, tentunya) yang besar sia-sia belaka. Untuk hal ini, Bu Risma memang pasti terjerat ewuh-pakewuh bukan apa-apa, semua kepala dinas di Pemkot saat ini kan, sejatinya sejawat Bu Risma sesama PNS di masa lampau.

(Drijiku asline gatel pengen nyebut dinas-dinas tertentu. Tapi, lha kok gak sampek tutuk tak ketik, ya. Hiks hiks)


Bagikan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here