Bagikan

“Mencintai itu mudah, dicintai itu mudah, tapi dicintai oleh orang yang kita cintai itu yang sulit.”

Joy, begitu biasa aku dipanggil. Joyo Pribadi nama lengkapku dan ada juga Roy sahabat karibku duduk di sebelahku. Rois Abdul Aziz nama lengkapnya. Malam ini, malam minggu. Di atas rooftop kost-kost-an anak sholeh, begitu biasa kami menyebut kost-kost-an ini. Maklum kami merasa kami masih bukanlah anak yang sholeh, sehingga masih perlu pengakuan atau paling tidak mengaku-akui diri sendiri sebagai anak sholeh, ditemani bulan, bintang, angin malam semilir, secangkir kopi, sebatang rokok, sedikit cemilan, dan suara petikan gitar lagu-lagu hits Dewa 19 tahun 90-an.

Malam itu kami memang sedang kosong, tak ada acara. Teman-teman kost wes podo pulang kampung ke daerah asalnya. Maklum, lusa libur hari besar dua hari berturu-turut. Ku habiskan malam bersama Roy.

Entah ada angin apa tiba-tiba si Roy bercerita mengenai kisah asmaranya. Padahal ia tahu, ia bercerita kepada orang yang salah. Ia bercerita kepada orang yang seumur hidup belum pernah menjalin kisah asmara dan belum pernah tahu pahitnya putus cinta. Eh, pernah sih kayaknya…

Tema bahasan malam minggu di rooftop kost-kostan kali ini adalah mengenai kenangan. Ahhh… Kenangan…

“Joy, aku mulai saiki kudu move on teko May. Aku gak iso ngene terus,” kata Roy.

“Baguslah” Jawab ku

“ Tapi, move on iku angel cuuuukkkk!! Gak segampang cocot’e lambe,” sahut Roy.

“Halaah, preketek kon iku.

Ngene loh Joy, Mencintai itu mudah, dicintai itu mudah, tapi dicintai oleh orang yang kita cintai itu yang sulit” Kata Roy dengan raut wajah sok neges.

“Wah, bertepuk sebelah tangan iki ceritane? ckckckckakak,” ledekku.

Yaopo maneh yo Joy, mosok putus-nyambung-putus-nyambung terus?. Oalaahh… doh, jodoh.”

“Mungkin kamu sedang mengalami gerhana jodoh. Matahari jodohmu masih tertutupi oleh rembulan. Rembulan itu bisa diibaratkan sebagai amalmu yang buruk, bisa ibaratkan orang lain atau bahkan bisa juga diibaratkan Tuhan,” terangku dengan wajah serius.

“Oke, Yaopo carane biar rembulan itu bisa segera menyingkir dari matahari jodohku?” tanya Roy.

“Gampang, kalau orang jaman dulu, mengusirnya lewat bunyi-bunyian kentongan dan lesung. Kalau di Islam lewat sholat dan sedekah. Terserah kau pilih metode yang mana agar gerhana jodohmu itu segera usai,” jelasku.

Yo…yo..Iso…iso…” kata si Roy.

“Kita, sebagai jomblo, juga harus sombong dan metata-metiti bro. Mosok wes jomblo, elek, gak mbois, kere, pengangguran sisan, sek minder dan gak boleh sombong. Kok sakno awak dhewe? Kan gak adil itu namanya. Ingat sombong dan metata-metiti adalah hak segala umat, baik yang jomblo dan non-jomblo!” kataku.

“Ahh, entot beroot!!!”

Ah, obrolan itu membuat lari dari topik awal.

“Eh, balik ke topik awal. Aku mau menghapus segala kenangan bersama dirinya. Kenangan apapun itu namanya. Aku sudah muak!!” cerita si Roy.

Eitts, tunggu dulu. Kenapa kau ingin melupakan kenangan bersama Mei?” tanyaku.

Ya, Mei nama mantan pacar Roy itu, Maysaroh nama lengkapnya. Simpel tapi keren. Mei…

“Biar gak ingat-ingat dia lagi lah broo” jawab Roy.

“Oke, kalu kau ingin menghapus segala kenangan bersama dia. Apa kau juga selalu menghapus kenangan apapun yang pernah ada dalam dirimu saat kau merasa kecewa dan sedih?” tanyaku serius.

“Ya, itu biasa aku lakukan. Dan kau ingat. Jangan pernah mengungkit-ungkit segala kenangan pahit yang pernah aku alami. Kalau tidak…” ancam Roy

Ahh, begitu lah kira-kira kata-kata Roy. Intinya, dia ingin menghapus segala kenangan yang baginya memilukan, membuatnya kecewa dan sedih. Padahal menurutku kita tak bisa hidup lepas dari kenangan. Kita bisa pergi dari orang yang mengecewakan kita, tapi kita tak bisa pergi dari kenangan bersamanya. Begitu kira-kira yang aku jelaskan pada Roy.

“Halaahhhh, preketek bro. Jangan sok-sokan bijak deh. Jangan sok filsuf lah. Kau mata kuliah filsafat aja dapat C,” ledek Roy kepadaku.

“Lah, ini beneran. Kamu itu yang sok-sokan bisa pergi dari kenangan. Padahal seluruh hidup dan pikiranmu isinya adalah kenangan, kenangan, dan kenangan. Kau tak bisa lepas darinya, kau tak bisa pergi darinya. Kalau pun dirimu mengikrarkan diri untuk bisa move on aku tak akan percaya. Kau mungkin bisa move on dari mantanmu, tapi kau tak akan bisa move on atau melupakan kenangan bersama mantanmu,“ jawabku

“Gak paham…,” sahut Roy

“Aku teringat tweet Sujiwotejo, “Membersihkan barang-barang di tempat kos yang akan kamu tinggalkan itu mudah, yang sukar membersihkan kenangannya.”

“Oke, menarik…”

“Oke, begini. Manusia itu dalam hidupnya selalu dilingkupi oleh kenangan. Dalam setiap mengambil keputusan dia selalu mempertimbangkan kenangan yang pernah ia alami sebelumnya. Saat kau ingin dapat pacar baru, kau selau bercermin pada kenangan bersama mantanmu yang dulu. Jangan sampai kesalahan bersama pasanganmu yang dulu terulang kembali. Saat kau berusaha melupakan kenangan maka itu bisa jadi blunder karena bisa saja kau melakukan kesalahan yang sama.”

Begitulah, secara sederhana yang aku jelaskan kepada Roy.

Bahwa kenangan selalu mengelilingi kehidupan kita. Kalaupun kita mengikrarkan diri untuk move on, bagiku itu hanya kata untuk membesarkan hati saja sehingga membuat orang untuk tidak lebih terpuruk karena kenangan buruk.

Maklum di negeri ini banyak kalimat dan peribahasa yang nggedekno ati (membesarkan hati) kalimat yang menipu diri sendiri agar bisa lebih kuat. Contoh saja peribahasa, “Kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda.”

Peribahasa itu sebenarnya kalimat yang diucapkan oleh pengecut yang tidak gentleman menghadapi kenyataan. Kalau memang gentle pasti bicara “Kegagalan adalah keberhasilan yang tidak terjadi.” Simple!

Tapi, memang benar kan? Seharusnya kalau gagal ya gagal. (titik)

Seharusnya orang gagal berkata, “Ya, aku gagal, tapi kegagalan itu perlu dan penting untuk diriku. Hidup ini harus ada senang, bahagia, sedih, tangis, berhasil dan gagal. Itu keutuhan diri namanya. Manusia itu harus merindukan keutuhan diri. kegagalan ini penting sebagai pengalamanku untuk menghadapi hal yang sama, aku pelajari kenapa aku gagal dan ini menjadi pelajaran untuk menghadapi hal serupa sehingga aku bisa berhasil”

Aku jadi teringat tweet Noe Letto, “Jangan rindukan bahagia. Coba rindukan keutuhan diri. Dalam keutuhan dibutuhkan sedih, bahagia dan lainnya. Maka cintamu tak kan pernah terluka.”

Ya, begitulah yang aku ceritakan kepada Roy mengenai kenangan. Yang intinya kita tak perlu menghapus segala kenangan hidup kita. Kita cukup berdamai dengannya dan mengambil pelajaran berharga dari kenangan yang pernah kita alami.

Ya, kenangan memang sudah seharusnya harus dikenang. Namanya juga kenangan. Kalau dilupakan namanya bukan kenangan lagi, tapi kelupaan. #Halaahh

“oke aku paham. Tapi, itu kenangan atau pengalaman ya?” tanya Roy.

Dan mungkin Roy juga lupa kalau itu semua diucapkan oleh seseorang yang tidak mempunyai pengalaman asmara dan belum pernah menikah.

Tak terasa hujan deras tiba-tiba mengguyur. Perbincangan usai dan pertanyaan itu tak pernah terjawab. (*)


Bagikan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here