Bagikan

Istilah konvergensi media pertama kali muncul pada tahun 1983. Di tahun kelahiran Bahrun Naim tersebut (Kenal Bahrun Naim? Nek gak paham, browsingo, Rek), Ithiel de Sola Pool dalam bukunya yang berjudul “Technologies of Freedom” mengutip ungkapan tersebut. Dalam boso enggres, dijelaskan demikian,

“A process called the “convergence of modes” is blurring the lines between media, even between point-to-point communications, such as the post, telephone and telegraph, and mass communications, such as the press, radio, and television. A single physical means – be it wires, cables or airwaves – may carry services that in the past were provided in separate ways. Conversely, a service that was provided in the past by any one medium – be it broadcasting, the press, or telephony – can now be provided in several different physical ways. So the one-to-one relationship that used to exist between a medium and its use is eroding,”

Menurut Pool, konvergensi media ini diartikan sebagai sebuah proses pengaburan batas-batas antar media yang ada. Yang bahkan berada di antara titik-titik komunikasi. Misalnya, surat-menyurat, telepon, telegraf, dan komunikasi massa, seperti pers, radio, dan televisi.

Dahulu, media yang dikenal untuk berkomunikasi berupa cara fisik tunggal entah itu melalui kawat, kabel, atau gelombang udara, yang dapat membawa layanan yang diberikan secara terpisah. Layanan yang diberikan di masa lalu tersebut oleh salah satu media, baik berupa penyiaran, pers, atau telepon, kini telah dapat disediakan dalam beberapa cara fisik yang berbeda, sehingga hubungan satu-ke-satu yang sebelumnya ada antara media dan penggunaannya pun lama-lama menjadi terkikis.

Penjelasanku terlalu teoritis? Sori, tak gampangno wes. Intine, ada satu pesan yang disampaikan melalui banyak bentuk media. Ada sinergi antara medium-medium penyampai pesan tersebut. Masih kurang jelas? Saya coba terangkan lebih lanjut.

Pemerhati media bernama Pak Setianto (2008: 250), menyebutkan bahwa konvergensi media adalah kerja bersama. Yakni, saat media massa konvensional seperti media cetak, radio, televisi, dan film, bersinergi, berkolaborasi, dan dikombinasikan dengan teknologi baru seperti televisi kabel, internet, mobile phone, dan data base.

Konvergensi media dapat dikatakan sebagai hal yang tak terelakkan. Untuk menjamin eksistensi dari masing-masing media yang ada. Dalam kerangka memenuhi aspirasi pengguna media yang semakin berkembang. Konvergensi media adalah keniscayaan.

Konvergensi media bukan saja memperkaya informasi yang disajikan, melainkan juga memberi pilihan kepada khalayak atau audience untuk memilih informasi yang sesuai dengan selera. Termasuk, memberi mereka pilihan, medium apa yang ingin dipakai.

Bahkan, sak wayah-wayah, konvergensi media memberikan kesempatan baru dalam proses penanganan, penyediaan, penyebaran, dan apapun jua terkait komunikasi. Seluruh bentuk informasi baik yang bersifat visual, audio, data, dan semacamnya, dapat diramu dalam bingkai konveregensi.

Pada bagian lain, dapat pula dimanfaatkan sebagai sarana membuka ruang iklan seluas-luasnya. Informasi tentang pengetahuan produk (produk knowledge) yang akan diiklankan bisa tersalurkan melalui berbagai macam bentuk hasil konvergensi. Misalnya, lewat website, atau pada social media khususnya seperti akun facebook, twitter, youtube, dan lain sebagainya.

Nah, ujung-ujungnya, komersil juga, sih. Tapi, ya tidak apa-apa. Do’a saya, semoga rejeki kita semua barokah. Apa hubungannya? Ya, berdo’a kan tidak perlu karena ada hubungan, kawan. #halah (*)


Bagikan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here