Bagikan

MakNews – Sore itu, saya kesulitan mencari lokasi Kedai Kreasi di Ketintang, tempat berlangsungnya acara bedah buku Oleh-Oleh Jurnalis karya Doan Widhiandono, seorang redaktur Jawa Pos. Gang-gang sempit perkampungan harus saya lewati sebelum menemukannya. Kalimat di awal tulisan bukan lead dari berita ini. Karena menurut Dos, panggilan akrabnya, hal remeh-temeh seperti ini menunjukkan kemalasan penulisnya dan informasinya tidak penting bagi pembaca.

Acara bedah buku yang diadakan Sabtu, 11 Juni 2016, memang seperti kuliah jurnalistik. Pengunjung yang hadir disuguhi tips-tips bagaimana menulis feature yang baik versi Dos. Buku Oleh-Oleh Jurnalis adalah kumpulan 35 tulisan feature perjalanannya di 20 kota pada 11 negara. Dipandu moderator Heti Palestina Yunani, seorang aktivis kebudayaan dan pembicara Rully Anwar, seorang jurnalis, acara berlangsung hangat mengulas habis buku yang juga membuat Dahlan Iskan terkesan ini.

Dos menceritakan bagaimana awal mula dia membukukan tulisan-tulisan feature-nya. Awalnya dia ingin menulis buku tentang tutorial menulis feature. Dia lantas mensortir tulisan-tulisan lamanya. Karena tulisan yang dikumpulkannya sangat banyak, dia memutuskan untuk membuat buku yang memuat tulisan-tulisan itu.

“Buku ini saya buat karena selama ini kebanyakan tulisan feature tidak mampu mengajak pembaca hadir di tempat-tempat yang ada di tulisan tersebut. Saya tetap menuliskan tips menulis feature di buku tersebut,” ujar Alumnus Administrasi Negara, Universitas Brawijaya ini.

Buku karya Dos penuh dengan pelajaran menulis yang layak untuk dibaca siapa saja, baik yang ingin belajar menulis ataupun yang ingin menikmati kisah perjalanan Dos. Dos sangat detil dalam menuliskannya. Kita seperti diajak jalan-jalan langsung menikmati suasana tempat-tempat yang ada di tulisan. Mulai dari Larantuka hingga Vatikan, kita dibawa menelusuri setiap sudut lokasi dan menikmati bagaimana Dos berinteraksi dengan penduduk lokal.

Dos mengaku perjalanan yang paling berkesan yang ada di buku ini adalah perjalanannya menyusuri Petra, sebuah kota kuno di Jordania. Di sana diceritakan bagaimana sebuah kota yang diukir di gunung batu menjadi magnet bagi wisatawan. Sejarah dan mitos-mitos Petra diceritakan secara apik lewat kisah yang sangat lengkap berdasar pengamatan langsung.

Dos selalu mempertahankan gaya dan pemikirannya di setiap penulisannya. Di tulisan tentang Petra itu juga, Dos mencoba membongkar stigma yang menurutnya salah. Seperti stigma tentang keledai yang bodoh. Dari sana, dia menyadari jika keledai bukan makhluk yang bodoh. Karena keledai bisa mengantarkannya naik ke Monastery atau biara yang ada di puncak bukit, menyusuri jalan setapak kecil yang dikelilingi oleh jurang, dengan selamat tanpa terpeleset.

“Keledai harusnya protes dengan adanya stigma tersebut. Karena di sana, keledai bisa mengantarkan saya dengan selamat tanpa masuk jurang,” ujar Dos.

Gaya penulisan apik tidak didapat Dos secara instan. Pengalaman menulis yang didapat saat menjadi wartawan turut membantunya. Dos yang mulai masuk di Jawa Pos sejak 2002 itu selalu menulis berita feature yang mengajak pembaca mengalami peristiwa seperti yang ada di tulisan. Dari tulisan-tulisannya, banyak respon yang masuk. Salah satunya dari Dahlan Iskan, bos Jawa Pos. Dia sempat memuji tulisan Dos yang menurutnya bisa membuatnya tertawa. Ini membuat Dos semakin yakin untuk mempertahankan gaya penulisannya.

“Jangan sampai kita abai akan detil-detil dalam tulisan. Pembaca akhirnya bisa mengenal tulisan saya dari gaya yang saya pakai,” tambah pria yang saat ini menjadi redaktur Sidoarjo ini.

Heti memuji tulisan-tulisan Dos yang tidak narsis seperti kebanyakan penulis berita feature. Sosok Dos memang sesekali muncul, namun kehadirannya tidak merusak inti tulisan.

“Saya selalu menceritakan banyak angle menarik dari sisi narasumber. Saya juga memastikan kemunculan saya tetap disukai pembaca. Kisah dari sudut pandang saya yang menurut saya menarik dan layak diceritakan akan saya ceritakan.”

Dia menambahkan jika wartawan sering menceritakan hal-hal yang tidak penting yang membuat pembaca tidak menyukainya.

Rully Anwar juga ikut memuji buku tersebut karena sangat luar biasa. Rully mengapresiasi Dos karena sekarang tidak banyak wartawan yang memasuki fase spiritual penulisan seperti dia.

“Tulisan feature adalah tanggung jawab seorang jurnalis kepada masyarakat. Buku ini sangat segar, lucu, unik, dan penuh unsur humor. Dos menurut saya bukan lagi kelas wartawan lokal namun sudah kelas dunia,” ujar jurnalis di Josstoday.com ini.

Saat ditanya darimana datangnya inspirasi setiap tulisan, Dos menyatakan jika dia suka ngluthus sendiri mencari kisah-kisah menarik. Menurutnya banyak wartawan terbelenggu posnya. Jika dia ditugaskan di pos politik, dia hanya menulis berita-berita politik. Beda dengan Dos, dia selalu menyempatkan diri menulis hal-hal di luar posnya. Saat dia ditugaskan di pos kriminal, dia akan ngluthus mencari berita di luar posnya. Pernah suatu ketika, dia pergi mengunjungi Klenteng Mbah Ratu di Malang. Di sana dia mendapati fakta jika kelenteng itu merupakan satu-satunya kelenteng Tri Dharma yang ada unsur kejawennya. Di sana pula, dia menemukan bahwa kelenteng menyimpan pecahan kayu yang diyakini berasal dari kapal Laksamana Cheng Ho.

“Saat saya liputan di lapas Medaeng, karena ngluthus, saya mendapati fakta jika di sana ada gereja kecil untuk sembahyang para napi. Di sana, saya sempat berkenalan dengan bassist Boomerang yang dipenjara karena sebuah kasus,” kata Dos.

Dos mengaku terinspirasi dengan narasumber cantik. Dia pernah meliput seorang model lukisan telanjang yang sangat cantik. Dos mengikuti bagaimana model tersebut dilukis dan kemudian menuliskannya secara detil tanpa merendahkan kualitas tulisannya.

“Saya selalu mewawancarai narasumber saat mereka sedang bekerja. Jika narasumbernya model, saya akan mewawancarainya saat dia melakukan pekerjaan modelnya. Narasumber pelukis, saat dia sedang melukis.”

Dos memakai judul Traveling di bukunya. Menurutnya, selain kata Traveling keren dan kekinian, dia tidak mau memberi judul bukunya dengan kata feature karena pembacanya bukan hanya kalangan wartawan tapi masyarakat umum.

“Saya menuliskan tips-tips bagaimana menulis sebuah tulisan traveling yang baik. Saya mengamati jika tulisan traveling kurang unsur human interest-nya karena hanya menunjukkan tempatnya saja.”

Wina Bojonegoro, pemilik Kedai Kreasi dan juga penulis buku, sangat antusias dengan kehadiran buku ini. Dia sangat cemburu karena dua novelnya tidak selesai-selesai karena tidak adanya riset. Sementara Dos sudah melakukan riset kemana-mana mengunjungi tempat-tempat di banyak negara.

“Dos sangat lihai membuat judul. Kalimat-kalimat yang digunakannya sangat provokatif dan membuat siapa saja ingin membacanya,” puji Wina.

Ditemani adzan maghrib yang menandakan waktu buka puasa telah tiba, Dos kembali menekankan jika tulisan feature adalah tulisan seperti orang bertutur. Dia menyayangkan banyaknya berita yang bergaya seperti reportase televisi.

Di akhir acara, dia memberi alasan kenapa setiap jurnalis harus menulis feature.

Straight news menunjukkan medianya, sementara feature menunjukkan penulisnya. Feature adalah bentuk achievement setiap jurnalis yang tidak terbelenggu posnya,” tutup Dos.

Acara bedah buku pun di akhiri dengan foto bersama para pengunjung. Buku Oleh-Oleh Jurnalis, Catatan Traveling di 20 Kota pada 11 Negara adalah cetakan kedua. Buku yang diterbitkan dreamlitera ini bisa anda dapatkan di sini. (iwe)


Bagikan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here