Bagikan

MakNews – Ibarat pisau, internet bisa dimanfaatkan untuk hal-hal positif namun bisa juga negatif. Semua tergantung pemahaman kita terhadap manfaat dan kegunaan internet. Internet juga bisa membahayakan generasi muda jika tak digunakan sebagaimana mestinya. Oleh karena itu, literasi digital diperlukan. Apa itu literasi digital?

Untuk mengkampanyekan literasi digital kepada masyarakat, sebuah acara bertajuk Ngabubur-IT diadakan. Mengambil tema “Pentingnya Literasi Digital”, acara ini diadakan Sabtu, 18 Juni 2016, bertempat di Restoran Mahameru, Jl Diponegoro, Surabaya. Acara diadakan oleh ICT Watch dan didukung Qwords. Sekitar 100-an orang peserta hadir dalam acara dialog yang dilanjutkan dengan buka puasa itu.

Ada dua pembicara yakni Acep Syarifuddin (ICT Watch) dan Heru Catur (Internet Sehat). Acara dipandu Frenavit Putra dari Qwords.

Acara dibuka dengan pengenalan Literasi Digital dari Acep. Menurutnya, Literasi Digital adalah kemampuan menggunakan TIK untuk menemukan, mengevaluasi, memanfaatkan, membuat dan mengkomunikasikan konten/informasi, dengan kecakapan kognitif maupun teknikal.

Literasi digital sendiri diperlukan untuk mendorong dampak positif dari internet.

“Ada tiga prinsip ala advokasi internet sehat. Pertama, menumbuhkan konten lokal yang positif. Kedua, self filtering yang hanya efektif dilakukan pada tingkat keluarga dan pendidikan. Dan ketiga, dialog dan kerjasama untuk tata kelola internet antar pemangku kebijakan,” ungkap Acep.

Teknologi hadir dan mengubah sesuatu. Generasi sekarang beda dengan generasi pendahulu. Acep membagi dua generasi menjadi dua istilah, yaitu digital immigrants dan digital natives. Keduanya mempunyai dua karakteristik berbeda. Digital immigrants yang identik dengan generasi lawas menyukai hubungan bersifat personal sementara digital natives selalu berhubungan via teknologi/gadget/internet.

Kondisi generasi sekarang yang sangat bergantung dengan teknologi/gadget/internet memunculkan bahaya yang mengancam. Internet bisa membahayakan anak-anak muda yang cenderung kurang waspada.

Menurut Acep, kecanduan internet bukanlah kasus yang paling berbahaya bagi anak-anak muda karena hanya menunjukkan puncak gunung es. Kasus-kasus yang paling berbahaya adalah cyberbullying, pelanggaran privasi, dan pedofilia.

“Banyak kasus seperti cyberbullying yang menyebabkan korban anak-anak muda. Mereka memilih bunuh diri karena tidak kuat menghadapi tekanan,” kata Acep.

Kasus pedofilia dan pelanggaran privasi pun kini sangat marak. Pihaknya mengaku pernah dimintai tolong oleh korban-korban pedofilia dan pelanggaran privasi untuk membantu mengatasi masalah yang dihadapi.

Di akhir presentasinya, Acep menghimbau agar semua pihak melakukan dua prinsip, yakni Wise While Online, Think Before Posting dan Unduh yang Sehat, Unggah yang bermanfaat.

“Kita harus bijak saat sedang online dan berpikir sebelum memposting sesuatu. Karena kitalah yang menanggung resiko atas apa yang kita posting,” tutup Acep.

Heru Catur, pembicara kedua, lebih banyak menyoroti tentang media online di Indonesia dan peran serta pemerintah. Menurutnya, ada 300 lebih media online di Indonesia, sayangnya hanya 20-an yang kredibel.

“Pemerintah kita sangat lambat merespon perkembangan teknologi. Sehingga teknologi bergerak lebih cepat dibanding peraturan-peraturan yang dibuat,” ujar pria yang memulai kampanye internet sehat sejak 2002 ini.

Catur menghimbau para peserta untuk berhati-hati dalam membagikan informasi yang berasal dari media.

“Jangan percaya media yang tidak berani mencantumkan alamat dan siapa yang bertanggung jawab di belakangnya,” kata Catur.

Di akhir acara, banyak peserta yang antusias bertanya tentang literasi digital dan media online. Menjelang waktu berbuka, acara ditutup.

Acara Ngabubur-IT adalah acara rutin yang diadakan ICT Watch setiap bulan Ramadhan. Tahun ini, selain di Surabaya, acara juga diadakan di Bandung, Banda Aceh, dan Pemalang. (iwe)


Bagikan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here