Bagikan

Ungkapan paling popular di dunia politik mungkin adalah “tidak ada kawan atau lawan yang abadi yang ada hanya kepentingan”. Melihat kejadian di tahapan proses pendaftaran bakal calon walikota (bacawali) dan wakilnya (bacawawali) di Surabaya, saya merasa sedih tapi yo ngguyu kemekelen

Bagaimana tidak. Para politisi dari berbagai partai politik yang terhormat telah membuat dagelan abad ini, khususnya di Surabaya. Dhimam Abror bacawali yang berpasangan dengan Haries Purwoko yang diusung Partai Demokrat dan Partai Amanat Nasional (PAN) sudah siap dan datang ke kantor KPU Kota Surabaya.

Entah kenapa setelah menerima telepon dari seseorang (ini mestinya diusut siapa yang nelpon), Haries tiba-tiba saja ngeloyor ke belakang dan sim salabim hilang saudara-saudara. Kabur entah ke mana.

Di foto halaman depan koran Jawa Pos Selasa 4 Agustus, ekspresi Dhimam dan Haries bisa kita lihat. Mereka tulus atau jujur dengan atau hanya acting sesuai arahan sutradara? Hanya Tuhan, sutradara, dan mereka berdua yang tahu.

Aneh bin ajaib. Alasan yang keluar dari orang nomor satu di Partai Demokrat Jatim bahwa Haries tidak direstui oleh keluarga besarnya.

Pilwali kalah dengan pemilihan Ketua RT

Sebenarnya pembatalan pendaftaran ini tidak akan menjadi besar kalau pasangan bacawali-bacawawali yang daftar sudah lebih dari satu pasangan. Lha ini cuma ada Risma–Whisnu. Opo ya boleh ditandingkan dengan bumbung kosong?

Kalau di kampung atau desa yang pemilihan lurah sih boleh saja melawan bumbung kosong. Sesuai aturan pilwali walikota ini tidak ada aturan yang membolehkan hal itu. Runyam.

Ini semua juga karena para politisi sendiri di DPR yang membuat UU pemilukada. Artinya sebenarnya yang bikin rame ya dari politisi oleh politisi untuk politisi. Korbannya? Warga. Pfttttttt!

Kebulet aturan sing digawe dewe. Mbulet koyok susur.

Coba berfikir politik ndekndekan, mengutip twit Bro Andie Peci yang mengatakan tentang cara pemilihan ketua RT.

Kalau cuma ada satu? Ya sudah terpilihlah dia. Salahnya sendiri tidak ada calon lain atau mencalonkan orang lain. Bener juga hehehehe.

Yang menarik di Surabaya juga adalah kenapa tidak ada yang berani mencalonkan diri dari perorangan atau independen? Risma terlalu kuat? Belum tentu! Gak punya dana besar? Bisa jadi. Politik di sini mahal, Bung! Atau karena aturan perorangan juga ketat? Nah ini juga bisa terjadi.

Pak Brengos diuntungkan situasi

Ada beberapa hal yang diperebutkan di Surabaya. Jika Bu Risma tidak ada lawan dan KPU memutuskan pemilukada di undur tahun 2017, maka 2 tahun jabatan walikota akan diisi oleh pejabat sementara. Kalau kata Andie Peci, bisa diganti presidium. Ini mirip jabatan Andie Peci di Bonek (ngangkat jabatan dewe iki) hahaha.

Siapa yang berwenang menunjuk pejabat sementara? Tak lain dan tak bukan dia adalah Pak Brengos Jatim Satu. Jelas ada perang kepentingan.

Dan siapa yang paling diuntungkan dengan penundaan pilwali Surabaya hingga 2017? Tentu jawabannya masih sama.

Sebagai Ketua DPD Partai Demokrat, Pak Brengos berwenang menunjuk pengganti kursi yang sebelumnya dikuasai PDIP. Lumayan lah. Dapat dua tahun tanpa harus bertempur di pilkada. Hehehe…

Setelah ini, kita mungkin akan melihat upaya dari kedua kubu. Partai merah karena jagonya kuat (eh jago atau babon ya? Kan bu Risma wedok?) akan berjuang agar bisa bertanding dengan melawan bumbung kosong. Caranya, mengusulkan Perppu atau payung hukum apapun. Mereka pasti akan dibantu Presiden Jokowi yang berasal dari partai yang sama.

Bisa jadi mereka juga mengusulkan perpanjangan masa jabatan walikota sampai diselenggarakan pemilukada berikutnya. Menjabat 7 tahun, Rek. Mbois kan?

Sebagai warga biasa, saya berharap agar ontran ontran politik ini tidak mempengaruhi layanan warga seperti KTP, layanan pajak, Puskesmas, pendidikan, pengurusan izin usaha, dan terakhir yang gak kalah penting ngurus surat nikah di kelurahan dan KUA.

Kalau penanganannya lambat, keburu calon disikat konco dewe

Dan sekali lagi terbukti prediksi bapak Chief Editor MakNews bahwa di Surabaya akan ada “Politik Mbanyol” (Baca: Politik Mbanyol Pilwali).

Gak apa-apa mbanyol asal menghibur rakyat murah sandang, pangan, papan, dan gampang jodoh (khususnya buat Aga).

Panen klungsu mbarek mangan kwaci
Kurungan papat lugur kesampluk siji
Pancen lucu arek lanang zaman saiki
Durung disunat kok wis njaluk rabi


Bagikan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here