Bagikan

MakNews – Lutfie Galajapo, begitu dia dikenal, adalah salah satu anggota trio Galajapo, grup lawak asal Surabaya. Bersama Djadi dan Priyo, Lutfie membentuk grup pada festival lawak yang diadakan Jawa Pos pada tahun 1980-an. Galajapo sendiri merupakan akronim dari Gabungan Lawak Jawa Pos.

Selasa, 7 Juni 2016, Lutfie meninggal karena kecelakaan di Jalan Lingkar Timur Sidoarjo. Dia meninggal setelah pulang dari tempatnya bekerja di Radio Kota FM. Sore itu, dia hendak menuju kediamannya di kawasan Candi, Sidoarjo.

Banyak yang tak percaya mendengar berita kepergiannya. Tak terkecuali dua rekannya di Galajapo.

“Saya tidak menyangka dan sempat tak percaya terhadap kabar itu. Tapi ini sudah takdir dan semoga Allah SWT memberikan tempat dan surga di sisi-Nya,” ucap Djadi seperti dikutip dari Josstoday.com.

Priyo merasa sangat kehilangan. Meski begitu, dia bangga kepada Lutfie yang telah meninggalkan karya besar di dunia Hiburan.

Lutfie dikenal sebagai ikon Galajapo. Sosoknya yang tak banyak bicara, namun bahasa tubuhnya bikin orang tertawa sampai teler, begitu Lambertus Hurek, seorang blogger, menilai Lutfie.

Galajapo merupakan grup lawak ikonik setelah grup lawak Srimulat. Beda dengan Srimulat yang lawakannya cenderung slapstik dan kasar, Galajapo dikenal dengan banyolan-banyolannya yang khas dan lucu. Kekuatan lawakan Galajapo memang dikenal dari lontaran-lontaran guyonan dari ketiga personalnya. Lawakan mereka diterima semua kalangan, dari anak-anak muda hingga orang dewasa.

Galajapo tidak tergoda untuk pindah ke Jakarta mengikuti Srimulat. Saat Hurek bertanya alasannya, Djadi menjawab jika mereka berkomitmen untuk tetap di Surabaya.

“Wah, saya sudah komitmen untuk tetap di Surabaya. Tetap di daerah. Sebab, yang namanya rezeki itu sudah diatur oleh Allah SWT,” tegasnya.

Gaya lawakan mereka pun berbeda. Di antara ketiga personelnya, Lutfie-lah yang paling lucu. Namun dia tidak seheboh Djadi dan Priyo karena dia jarang jadi MC.

Djadi banyak guyonan sambil berdakwah. Kemampuannya menghafal ayat-ayat Alquran sangat kuat. Sementara, Priyo sering memakai bahasa Jawa ngoko dan suroboyoan.

Ketiga personel Galajapo tidak selalu bersama dalam aksi panggungnya. Djadi dan Priyo sering menjadi MC di acara-acara. Priyo sendiri mempunyai sebuah program acara di JTV yang bernama Cangkrukan. Sementara Lutfie bekerja menjadi penyiar radio.

“Galajapo itu grup, tapi semua personel diberi kesempatan untuk mengembangkan kemampuan masing-masing. Jadi, tidak harus tampil bertiga terus,” ucap Djadi.

Kini, Lutfie telah pergi meninggalkan dua temannya di Galajapo. Namun karya dan lawakannya tetap dikenang. Sugeng tindak Cak Lutfie! (iwe)


Bagikan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here