Bagikan

Bom bunuh diri dan rangkaian serangan yang dilakukan teroris jelang Hari Raya Idul Fitri menimbulkan keprihatinan mendalam. Banyak yang mengutuk tindakan teroris yang menimbulkan korban jiwa yang sangat besar. Tokoh-tokoh politik, agama, hingga para netizen kita tak ketinggalan mengutuk teroris. Menurut mereka, teroris adalah orang-orang tanpa agama. Hastag #TeroristHasNoReligion sempat beredar di Twitter setelah bom di Madinah meledak.

Ketua MPR Zulkifli Hasan adalah salah satu tokoh yang menyebut teroris tidak beragama. Dia menolak jika aksi mereka dikaitkan dengan agama.

“Teroris itu bukan soal agama, teroris itu tidak punya agama!” ujar Zulkifli seperti dikutip dari Detik.

Benarkah aksi terorisme dilakukan orang-orang yang tak punya agama? Sebelum menjawabnya, kita simak kiprah orang-orang tak beragama di Indonesia.

Indonesia memang dipenuhi orang-orang beragama. Namun, jumlah orang-orang yang tak punya agama juga meningkat. Kecenderungan itu bisa dilihat dari banyaknya forum ateis di Facebook. Forum seperti Indonesia Atheist (IA), Dialog Ateis Indonesia (DAI) mempunyai jumlah anggota yang tidak sedikit. Kotak pencarian di Facebook akan menunjukkan banyaknya jumlah forum ateisme. Demikian halnya jika mencari kata “ateisme di Indonesia” di mesin pencarian Google. Akan banyak situs dan forum-forum tentang ateisme di Indonesia. Setiap hari, anggota forum bertukar pikiran dan berdialog tentang ateisme melalui layar hape dan komputer.

Ateis adalah orang-orang yang tidak percaya Tuhan itu ada. Ketidakpercayaan itu menyebabkan mereka otomatis tidak beragama. Mungkin saja di KTP tertulis nama agamanya. Namun dalam prakteknya, mereka tidak melakukan ibadah menurut perintah agamanya.

Belum ada penelitian ilmiah yang menunjukkan berapa jumlah orang ateis di Indonesia. Sebuah situs bernama atheistcensus.com memuat survei jumlah orang ateis di seluruh dunia. Di situs ini, orang-orang ateis bisa mengisi polling sesuai asal negaranya. Indonesia termasuk dalam daftar. Ada sekitar 1.393 yang mengaku jika mereka ateis.

Survei Pew Forum on Religion and Public Life 2013 menunjukkan jika ateis berkembang pesat di berbagai belahan dunia. Jumlahnya mencapai 1,1 miliar. Dalam penelitian itu, ateis menduduki peringkat ketiga setelah Islam. Ateis berkembang terutama di negara-negara maju.

Kembali kepada pertanyaan di atas, apakah teroris dilakukan orang-orang yang tak punya agama? Menurut saya, jawabannya tidak. Selama ini, belum ada teroris yang melakukan aksinya atas nama ateisme. Selama bergaul dengan orang-orang ateis, saya tidak pernah mendapati rencana mereka melakukan pengeboman. Teroris-teroris yang selama ini tertangkap atau tewas, mayoritas berasal dari salah satu agama di Indonesia. Tidak pernah ada orang ateis yang tertangkap karena kasus terorisme di Indonesia.

Imam Samudra dan Amrozi adalah dua terpidana mati akibat aksi Bom Bali yang mereka lakukan pada 2002. Mereka adalah orang-orang beragama. Setiap hari mereka melakukan ibadah sesuai agamanya. Jika kita menyebut mereka orang-orang yang tak punya agama, jelas kita salah. Keluarga dan simpatisan mereka pasti menolak jika mereka dikatakan orang-orang yang tak punya agama. Bahkan ada yang menganggap aksi keduanya adalah aksi membela agamanya.

Abu Bakar Ba’asyir adalah terpidana yang dipenjara selama 15 tahun setelah dinyatakan terlibat dalam pendanaan latihan teroris di Aceh dan mendukung terorisme di Indonesia. Coba katakan kepada Ustadz Ba’asyir jika dia tidak beragama. Dia pasti akan membantahnya.

Jadi, mengapa banyak orang menyebut teroris tidak beragama?

Setiap orang cenderung gampang mencari kambing hitam atas aksi yang merugikan nama baik agamanya. Mengkambinghitamkan orang-orang yang tak punya agama sebagai teroris adalah bentuk penyangkalan. Jumlah yang relatif sedikit membuat banyak orang gampang menuduh mereka sebagai pelaku aksi.

Apa poin yang mereka dapat dengan mengatakan hal itu? Tidak ada. Hal itu justru menunjukkan sikap hipokrit mereka. Selama ini, mereka menganggap orang-orang seiman adalah saudara. Jika saudara seiman berbuat kebaikan, mereka langsung menganggap mereka saudara. Namun jika sebaliknya, mereka akan mengatakan mereka bukan saudara.

Jika kita analogikan sebuah keluarga, saudara adalah saudara. Apapun yang mereka perbuat, kebaikan atau keburukan, itu tidak akan merubah posisi mereka sebagai saudara. Sangat kurang ajar jika kita menganggap saudara hanya jika mereka berbuat kebaikan. Sementara jika saudara kita berbuat keburukan, kita tidak mau mengakuinya.

Yang bisa kita lakukan adalah mencari solusi agar saudara kita menghentikan segala keburukan yang diperbuatnya. Menolaknya sebagai saudara tidak akan menyelesaikan masalah atau mengurangi anggapan orang lain bahwa mereka termasuk saudara kita.

Mungkin kita perlu mencontoh Paus Fransiskus yang meminta maaf kepada kaum Protestan dan Gereja Kristen lainnya atas penganiayaan yang dilakukan kaum Katolik di masa lalu. Paus juga menyampaikan permintaan maaf atas skandal-skandal yang melibatkan Gereja Katolik. Sikap Paus menunjukkan jika orang-orang Katolik dan petinggi-petinggi gereja bisa berbuat kesalahan. Paus tidak menyangkal dengan mengatakan mereka tidak beragama Katolik melainkan orang-orang Katolik yang berbuat kesalahan.

Ku Klux Klan (KKK) adalah kelompok ekstrimis Kristen di Amerika Serikat (AS) yang melakukan pembunuhan kepada minoritas kulit hitam, Yahudi, dan Katolik. KKK tak segan-segan membunuh orang-orang kulit putih yang seagama yang kedapatan melindungi minoritas. Lyndon Johnson yang beragama Kristen mengutuk aksi terorisme KKK dan memerintahkan bawahannya menangkap para anggotanya pada 1965. Dia adalah Presiden Amerika yang berhasil mengeliminasi KKK dari AS. Kini, keberadaan KKK semakin terisolasi dan aksi terorisme mereka jarang terjadi.

Permintaan maaf tak akan membuat sebuah agama hancur. Sikap itu justru akan menunjukan kebesaran agama tersebut. Bukankah agama mengajari umatnya untuk meminta maaf? Penyangkalan tidak akan menyelesaikan masalah tapi malah menambah masalah baru.

Tokoh-tokoh agama dan politik harus mencari solusi dalam mengatasi permasalahan seperti terorisme. Sibuk mencari kambing hitam tak akan membuat terorisme menjadi hilang. Yang ada malah menjadi bahan tertawaan dan membuat agama tersebut kehilangan respek.

Kita harus menjadi bagian dari solusi untuk mengatasinya. Bukan sibuk melakukan penyangkalan sana-sini yang tak ada artinya. Daripada sibuk mengatakan teroris tidak punya agama, lebih baik mencari cara agar terorisme bisa diberantas.


Bagikan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here