Bagikan

Comel membuka percakapan di warkop Klutak Lidah dengan topik yang absurd. Ya, dia mengaku ingin hijrah. Orang yang sejak lahir mbulet wae di seputaran Pasar Kupang itu mengaku sudah jenuh berada di Surabaya.

“Hidupku begini-begini saja. Kalau mau perubahan besar, aku harus melakukan sesuatu yang tidak pernah kupikirkan sebelumnya,” cetusnya sok filosofis laksana Mario Teguh.

Yang menarik, tujuan Comel bukan sembarang kawasan. Bukan Jakarta, Jogjakarta, Singapura atau Malaysia. Dia ingin ke Arab Saudi! “Koen ape dadi opo nok kono, Mel?” Suro bertanya dengan wajah menyepelekan. “Kalau hanya mau jadi pekerja kasar, ya mending di Indonesia saja. Kawanku ada yang jadi buruh kelapa sawit di Kalimantan. Penghasilannya, lumayan,” sambung Bolang.

Sekali lagi, Comel dengan gaya sok bijak mengemukakan, di Indonesia harga atau nilai pekerjaan seseorang terlalu rendah. Berbeda dengan di Arab Saudi. Soal jenis pekerjaan, dia mengaku sudah ditawari sejawatnya yang sukses di Jeddah. Secara teknis, bukan sebagai pekerja kasar.

“Bukan bodyguard juga sih. Tapi, rencananya, aku akan jadi pengawal salesman perusahaan jual-beli alat kedokteran. Kan, salesman ini nanti puter-puter seluruh Arab Saudi dari gurung ke gurun. Dia butuh teman ngomong. Aku ini jadi teman ngomongnya,” seloroh Comel.

Bayaran piro?” Bembem yang sejak tadi sibuk main gadget tiba-tiba bertanya komersil. “Satu tahun pertama, sepuluh juta rupiah per bulan. Bersih! akomodasi, kesehatan, makan-minum, dan lain-lain, sudah ditanggung perusahaan. Bahkan, ada rekreasi setahun sekali minimal ke laut merah atau sungai nil,” sahut Comel.

Tentu, kawan-kawan Comel kaget berjamaah. Bukan apa-apa, angka dan fasilitas itu memang menarik bagi mereka yang selama ini memiliki pekerjaan tidak pernah tetap. “Kalian bayangkan, kerjaku nanti itu hanya sembilan jam. Itu sudah termasuk rehat buat shalat zuhur, asar, sama makan. Aku mengisi presensi jam delapan pagi, pulang jam lima sore. Kalau lebih dari itu, hitung lembur perjam. Nah, uang lemburnya aku tidak tahu berapa. Tapi, pasti juga lumayan. Kalau tugas ke luar kota, hitungannya lain lagi,” Comel berapi-api.

Suro menggapai cangkir kopinya, menyeruput sedikit. “Luar biasa juga, ya. Sungguh, menarik,” gumam Suro. “Di negeri kita yang kaya ini, kita baru dapat uang kalau sudah berjemur seharian di bawah sinar matahari. Mending di Arab, kan?! Memang sih kadang berjemur di sinar matahari yang lebih panas. Tapi, lebih sering aku akan ada di dalam mobil sejuk. Atau di kantor yang pakai AC. Silakan cari pekerjaan segampang ini dengan bayaran setinggi itu di Indonesia ini!? In-Do-Ne-Sia! Tidak ada!” seru Comel seperti sedang melakukan provokasi subversif.

“Kalau kita pintar. Kita tidak harus berjemur seharian, kok Mel,” Bembem seolah sedang membela negaranya. “Tapi, negeri ini kan sebenarnya kaya. Seharusnya, memakmurkan orang yang dungu seperti kita. Jangan malah menyusahkan orang yang sudah susah,” Comel menangkis. Dan tangkisan itu terdengar cukup logis.

Sejurus keadaan hening. Bolang tiba-tiba bertanya agak serius. “Sebentar, kamu tadi bilang, pekerjaanmu menemani ngobrol salesman. Emangnya dia orang mana?” ujarnya dengan sorot mata tajam. “Orang Arab,” Comel menjawab singkat. “Nah, emangnya kamu bisa bahasa Arab? Atau paling tidak, apa kamu bisa bahasa Inggris?” Bolang kembali mencecar.

“Nah, persoalannya di situ,” Comel menjawab sendu. Sementara itu, semakin malam, warkop Klutak semakin ramai dihampiri pelanggan. (*)


Bagikan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here