Bagikan

MakNews- Selasa lalu (26/7), lebih dari seribu warga Surabaya aselik memenuhi halaman Balai Kota. Mereka lantas diarahkan pula ke Jalan Tunjungan. Orang-orang itu pun membaur dengan para peserta PrepComm 3 UN-Habitat dari lebih seratus negara. Guna menikmati festival mlaku-mlaku nang Tunjungan. Mereka yang dimaksud adalah para peserta program Merdeka Dari Sampah (MDS) yang lagi mengikuti acara malam penghargaan aka awarding.

MDS adalah program pelestarian lingkungan yang digagas oleh Pemkot dengan melibatkan berbagai pihak. Misalnya, perusahaan swasta selaku sponsor dan media massa sebagai sarana promosi/sosialisasi. Selain MDS, ada pula Surabaya Green and Clean (SGC). Tujuan keduanya sama: melestarikan lingkungan berbasis partisipasi masyarakat. Tokoh utamanya, warga Surabaya. Yesss!

Dalam MDS dan SGC, masyarakat digenjot untuk mencintai lingkungan. Sebab, konsepnya memang perlombaan.

Apa saja yang para peserta biasa lakukan, berikut rangkumannya. Ya, karena rangkuman, bisa saja ada yang terlewat. Ojok protes!

Bersih-bersih dan hijaukan pekarangan

Biasanya, MDS atau SGC ini dilaksanakan per-RT. Jadi, bersih-bersihnya pun per-RT. Pekarangan dan jalan-jalan di muka rumah dibersihkan. Tidak boleh ada sepucuk sampah atau sehelai daun tergeletak. Kalau ada, ya dibersihkan lagi. Begitu seterusnya.

Selain bersih-bersih, muka rumah juga dihijaukan. Maksudnya, ditanami dengan tumbuh-tumbuhan. Boleh tanaman obat keluarga, bunga, buah, rempah-rempah, asal jangan suket. Karena tanpa ditanam pun, suket pasti tetap tumbuh.

Jangan pula, menanam padi. Kenapa? Guduk nggone. Nango sawah!

Pilah sampah

Pilahlah sampah setidaknya jadi tiga bagian. Satu, sampah plastik. Dua, sampah kertas/duplek. Tiga, sampah organik. Sampah yang nomor satu dan dua bisa didaur ulang. Caranya, setorkan saja ke bank sampah. Bisa ditukar uang, lho.

Apa itu bank sampah? Gampangnya, sebut saja tempat pengepulan sampah. Yang kemudian, menjual bahan-bahan daur ulang itu ke agen-agen di atasnya.

Di tiap kelurahan, bahkan RW di Surabaya, umumnya  sudah punya bank semacam ini. Kalau belum ada, ndang peno sing nggawe! Siapa tahu, bisa berperan aktif dalam pelestarian lingkungan. Sekaligus, meraup keuntungan.

Sampah nomor tiga atau sampah organik, bisa dimasukkan ke keranjang takakura. Atau lobang kompos. Tujuannya, membuatnya menjadi pupuk.

Lantas, bagaimana dengan sampah yang tidak termasuk tiga itu? Buang saja ke bak sampah. Toh, kalau sudah dipilah, jumlah sampah yang dibuang itu pasti berkurang dari biasanya.

Berkreasi buat kerajinan tangan

Ada banyak kerajinan tangan yang bisa dibuat dari sampah. Kreasi itu, bisa dipamerkan pada dewan juri penilai MDS dan SGC. Sangat mungkin, tambahan nilai diperoleh dari sana.

Apa saja kerajinan tangan itu? Tidak mesti klambi ronce bungkus molto. Karena dapat pula, bekas bungkus beras lima kiloan yang dijadikan tas. Dapat juga, kembang hias dari kresek yang disetrika. Atau, rok dari ronce bungkus so klin. #halah.

Green House (GH) kampung dan kolam lele

Salah satu penampakan GH di pemukiman warga. Kayaknya, ini pas proses renovasi

Inovasi yang mungkin dilakukan di kampung peserta MDS dan SGC adalah GH dan kolam lele. Di GH, bisa dilakukan pembibitan tanaman-tanaman kecil. Tanaman-tamanan tersebut dapat diminta secara gratis dari Dinas Pertanian Surabaya.

Sedangkan di kolam lele, ya tentu bisa buat memelihara lele. Dari mana bibit lelenya? Tanya ke dinas pertanian juga. Kalau mereka tidak menyediakan, bisa beli di Pasar Ikan Hias Gunungsari. Kalau di sana tidak ada, browsing di internet. Insya Allah ada. (*)


Bagikan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here