Bagikan

Apa yang di benak sampeyan jika terdengar kata Lontong? Gado-gado, tahu tek, rujak cingur, sate, atau bahkan Cak Lontong? Ya, lontong memang banyak sekali digunakan di berbagai macam makanan khas khususnya di Surabaya. Bahkan, seorang Lies Hartono alumnus ITS, lebih terkenal dengan nama panggungnya Cak Lontong. Mikir…. Kenapa?

Lontong sudah sangat terkenal bisa membaur dengan bumbu masakan dan sambal pedasnya. Pendeknya lontong itu gampang srawung dan cepat adaptasi.

Di kawasan dekat jalur merah dulu, Surabaya mempunyai kampung yang sebagian besar warganya mempunyai industri rumahan membuat lontong. Kampung Lontong, begitu banyak orang menyebutnya. Sudah tau belum dimana kampung itu ? Daerah Banyu Urip Lor!

Kapasitas produksi per rumah lumayan besar, antara 500-2500 lontong per hari. Dari kampung tersebut, dipasok ke berbagai pasar di Surabay , Gresik dan Sidoarjo. Keguyuban warga menjadikan alur distribusi tidak menjelma eker-ekeran bagi produsen. Intinya, warga bersatu padu dan tidak matrealistis. Yang penting, guyub! Tidak ada upaya saling menjatuhkan. Salut ambek iki, Rek…

Selain beras, sebagai bahan baku utama, jangan lupa godhong gedhang! Itulah “fashion” alias klambine lontong. Bagi saya, lontong yang berbungkus plastik sejatinya bukan lontong. Itu cuma nasi yang dimasak kebanyakan air saja.

Jika kita ke Banyu Urip, terlihat di depan masing-masing rumah stok beras dalam karung dan daun pisang. Saya lupa gak menanyakan dari mana tiap harinya mendapatkan daun pisang yang bagus dan dalam jumlah besar.

Masio disebut Kampung Lontong, kawasan tersebut sudah dialiri oleh jalur gas untuk bahan bakar memasak di masing-masing rumah. Cak Agung, salah satu warganya, mengatakan kalau memasak dengan gas bisa lebih hemat dari pada harus beli tabung elpiji.

Kampung ini sudah mendapat perhatian dari Pemkot. Beberapa tamu Wali Kota juga sering diajak untuk berkunjung ke sana. Ini sudah bagus. Tinggal konsistensi dalam membantu pengembangan daerah itu ke depan yang harus lebih baik lagi.

Inilah daerah wisata kota baru dengan ciri khasnya. Warga mungkin bisa membikin cindera mata berbentuk lontong dalam aneka bentuk. Membikin kelas pelatihan bagi anak-anak sekolah atau tamu rombongannya tata cara membuat lontong yang menghasilkan rasa ciamik soro.

Suatu saat mungkin juga ada kreasi lontong warna-warni. Lontong merah, kuning, hijau, atau lontong rasa strawberry, blueberry bahkan lontong rasa petis. Sangar yo, hahaha, boleh kan berimajinasi?! Belum lagi produk jadinya bisa pula diberi nama. Semacam bakpia 25 pathok. Jadi, akan ada Lontong BL 69 , BL 86 ( BL = Banyuurip Lor ).

Tugas Pemkot dan warga kampung pasti akan lebih banyak untuk terus meningkatkan produksi, kreatifitas, pemasaran dan promosi. Jangan sampai seperti kampung kerajinan kulit di Wedoro Waru dan Tanggulangin Sidoarjo yang makin lama makin redup.

Jika daerah Dolly jadi disulap menjadi sentra akik, akan bisa gandeng renteng promosi daerah wisata kota dengan Banyuurip Lor tersebut. Secara geografis berdekatan. Juga, dekat dengan pasar manuk dan pasar kembang. Jangan lupa, juga deket dengan wisata religi Masjid Rahmat di kawasan Kembang Kuning.

Mari, kita bersama melontongkan masyarakat dan memasyarakatkan lontong produksi warga Banyuurip Lor. Mulai anak balita, remaja, dewasa, semua suka lontong! Opo maneh mbah-mba , lontong ramah dengan orang yang giginya sudah ompong. Sepurane mbah …

Ada sapaan dari Wisma Barbara :

Mangan lontong lali gak wesoh
Cemot kabeh nempel nok pipi
Megal megol kebelet ngoyoh
Suarane ngerojok koyok nguyuhe sapi
Salam Lontong !


Bagikan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here