Bagikan

Kutipan wong Londo E.O. Wilson di atas ada bener-nya lho, Rek. Dunia saat ini lagi kelelep informasi. Atau versi lebay-nya, sedang tsunami informasi! Semua pemberitaan membanjiri jagat internet kita. Kalau nggak sedia pelampung, bisa terseret. Katut air bah. Mboh babahno kapokmu kapan!

Media online bermunculan seperti panu di musim hujan. Atau seperti cowok-cowok jomblo yang rame-rame ngelove foto-foto penyanyi Raisa Andriana di Instagram (ini belum termasuk yang download dan menyimpannya di ponsel dengan folder abal-abal “tugas kantor”! #curhat).

Demi menjadikan orang-orang di atas sebagai komoditas itulah, sebagian besar media online menciptakan Raisa-Raisa baru dalam wujud yang lain.

Wujudnya bisa berupa berita-berita bombastis seperti, “Wow, lelaki ini selingkuh dengan 1.000 nenek-nenek!”, “Ajian kekuatan pria dari makan kulit duren,” atau “Lelaki cabul gagahi macan Afrika dan itunya langsung diciak!” Baiklah, yang terakhir berlebihan.

Tapi, apa inti dari itu semua? Yaiku, sensasional, bombastis, dan kadang-kadang isi beritanya nggak ada hubungannya blas sama judul. Bahkan hubungan gelap sekalipun! Judul link di sosial media sama sekali lain dengan isinya. Mbencekno gak seh? Huh!

Mungkin ini yang dimaksud ilmu ngglethek. Tapi, ternyata, “it’s a good businesslho.

Tujuannya tentu saja traffic. Semakin bombastis judul beritanya, semakin banyak di-klik orang. Dan semakin di-klik, semakin tinggi rating media online tersebut. Iklan-iklan dari Google pun akan berbondong-bondong masuk dan fulus pun didapat.

Apakah kita membutuhkan itu semua? Well, bisa ya bisa tidak.

Banyak orang yang terhibur dengan itu. Buktinya, ya traffic media-media bombastis selalu tinggi. Tak perlu saya sebut siapa mereka, tapi mbok lihaten dewek ta bahkan informasi hoax pun ramai-ramai dibagikan ke sosial media. Sudah diklarifikasi pun tetap di-share. Nggatheli to?

Publik mungkin mecandu informasi yang mereka inginkan, bukan apa yang sebenarnya terjadi—atau paling tidak apa yang layak dibicarakan. Ini seperti kamu alcoholic, ingin selalu mendem dan emoh sadar.

Tapi, tidak semua orang pemabuk, seperti tidak semua orang menggemari Raisa. Ada beberapa orang yang jengah dan merasa bahwa kita tidak merasa informasi itu worth it untuk diikuti.

Dalam istilah new media, orang-orang tidak merasa memiliki engagement alias keterkaitan.

Menggugat engagement media “nasional”

Penolakan itu juga mendapatkan konteksnya dalam beberapa hal lain. Jika tadi contoh saya pada berita sensasional, pembaca saat ini juga menggugat engagement mereka pada berita-berita “sok serius” seperti korupsi, banjir Jakarta, arus mudik, atau pertengkaran Gubernur DKI Ahok versus “Gubernur Tanah Abang” Haji Lulung #eh.

Warga Wiyung, Surabaya Barat, merasa tidak penting untuk mengikuti Ahok versus Lulung. Karena bagi dia, berita yang berimbas bagi dirinya adalah soal kapan jalur dua arah Wiyung-Babatan rampung.

Warga Kenjeran, Surabaya Timur, juga tidak merasa penting untuk mengikuti arus mudik karena rumah orangtuanya hanya sepelemparan kolor ke Ketintang (tentu ini maksudnya kolor Buto Ijo).

Kita menggugat media yang sensasional dan bombastis. Kita juga menggugat hal-hal yang tak ada relevansinya di media dengan diri kita. Saya tidak bilang bahwa kasus korupsi yang melibatkan Hadi Poernomo atau Komjen Pol Budi Gunawan, atau penguasaan saham Pertamina di Blok Mahakam hanya 70 persen, tidak penting. Tidak.

Tapi, apakah kita concern dengan itu? Apakah kita harus terus membicarakannya? Pada akhirnya kita mencari relevansi dan dengan relevansi itu kita ingin terus mengikuti perkembangannya.

Pembaca Surabaya harus menuntut engagement. Tidak sekadar jadi pembaca saja. Sebab, menurut Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia (APJII) per 2012, kota tercinta kita ini adalah kota dengan jumlah pengguna internet terbanyak setelah Jakarta (3,5 juta user). Jumlahnya mencapai 955.000 user atau 31,6 persen dari total populasi (3.025.000 jiwa).

Di Surabaya, ada begitu banyak hal yang jauh memiliki engagement dari sekadar berita-berita sensasional dan berita nasional. Soal taman-taman kota Surabaya yang masih fakir wifi, soal kisah anak-anak muda yang berjibaku sedang merintis bisnis pertamanya, soal warkop giras tradisional yang mulai tersingkir dengan adanya warkop giras 2.0.

MakNews ingin mengangkat isu itu.

Surabaya kaya local genius

Ada banyak orang-orang Surabaya yang memiliki visi luar biasa. Di MakNews, mereka disebut local heroes. Local heroes lho ya, bukan superheroes. Ingat baik-baik. Bedanya dengan superheroes, senjata mereka cuma pikiran maju dan kerja keras di bidangnya.

Cuma ya itu kelemahane mereka gak iso miber. Iku ae.

Istilah ini mungkin kemelipen tapi mereka ini adalah local genius yang sebenarnya tidak kalah dengan nama-nama yang sering muncul di media-media nasional.

Mereka berbagi di MakNews melalui tulisan-tulisannya, Rek. Kami ngajak para local genius dari berbagai bidang seperti fotografi, politik, isu-isu perkotaan, komunitas, hingga musik.

Mereka mungkin tidak setenar tokoh-tokoh nasional yang mbok kagumi. Tapi visi mereka juga gak kalah. Mereka mungkin bukan yang terbaik di bidangnya tapi mereka mau direpoti untuk berbagi dengan arek-arek Suroboyo.

Yang mungkin tidak bisa kamu temukan di media konvensional, misalnya, seorang petugas pemadam kebakaran mengingatkan apakah rumahmu sudah aman dari kebakaran pas Lebaran?

Media-media besar mungkin sudah terlalu raksasa untuk memikirkan hal-hal remeh temeh seperti itu (mungkin juga karena tidak ada duitnya). MakNews menganggapnya penting. Karena ia relevan.

Bagi MakNews, traffic bukan sekadar angka. Traffic adalah manusia. Dan manusia itu juga memerlukan engagement kemanusiaan seperti interaksi, perhatian, dan aspirasi (bukan dana aspirasi DPR).

Di MakNews, engagement itu disampaikan para local genius secara langsung. Kamu bisa setuju atau setuju banget (lho pilihane kok podo?) karena orang-orang ini dihargai subyektivitasnya.

Seperti kutipan wong asli Londo E.O. Wilson di atas, di tengah banjirnya informasi MakNews ingin membawa wisdom. Wisdom ini tidak melulu soal kebijaksanaan karena MakNews tak ingin dianggap sok malaikat (apalagi sok setan).

Wisdom menurut MakNews adalah apa yang menjadi engagement Surabaya. Itu saja. Selamat membaca.


Bagikan

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here