Bagikan

Tatkala media massa usrek dengan urusan rumor Risma dan Ahok, ikut membahasnya menjadi kerja yang menjemukan. Saya pun akhirnya mlipir ke bilangan Kendangsari. Kalau tidak salah, di sana ada kantor plat merah, Dinas Sosial. Yang selama ini, kaya program aplikatif di masyarakat. Dampaknya pun, unbelievable (Tulisane salah yo wes)!

Beberapa waktu yang lalu, saya membaca buku yang ditulis oleh Bagian Organisasi dan Tata Kelola Pemkot Surabaya. Di dalamnya, terdapat kumpulan inovasi yang sudah dilakukan eksekutif Kota Pahlawan melalui sejumlah Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD)

Setelah membolak-balik “mushaf” tersebut, sampailah saya pada kesimpulan yang saya buat-buat sendiri: begitu banyak program Dinas Sosial yang menarik dan sudah dan akan terus diimplementasikan. Kebetulan, di buku tersebut, instansi ini menyumbang tiga inovasi. Jumlah ini tergolong paling banyak dan sama dengan Dinas Kebersihan dan Pertamanan.

Apa saja?

Campus Social Responsibility

Di program ini, Dinas Sosial menggandeng kampus. Para mahasiswa di Surabaya, dilibatkan memberantas putus sekolah. Anak-anak yang rentan putus sekolah, atau yang sudah putus sekolah, diberi bimbingan belajar privat. Oleh siapa? Oleh para mahasiswa.

Mahasiswa yang sudah melakukan bimbingan seperti ini, tidak perlu lagi melakukan Kuliah Kerja Nyata (KKN). Kalaupun melakukan KKN, nilainya pasti dijamin sudah ekselen. Di program ini, kepiawaian Dinas Sosial bersinergi patut diacungi jempol.

Mahasiswa, dapat ilmu langsung dari lapangan. Anak-anak yang dapat bimbingan, akhirnya berhasrat sekolah dengan serius. Kampus, dapat menyalurkan program pengabdian masyarakat dengan tepat sasaran. Jenius, bukan?!

Old Never Dies

Sejak 2012 lalu, Dinas Sosial melakukan optimalisasi Karang Werdha untuk menangani problem lansia miskin dan terlantar. Perkumpulan lansia di level kelurahan diarahkan untuk berperan aktif meringankan beban lansia di sekitarnya. Maksimalisasi peran Karang Werdha ini merupakan wujud kongkret partisipasi publik dalam program kesejahteraan masyarakat.

Anggota Karang Werdha yang tidak tergolong miskin dan terlantar, diminta membantu warga seusianya yang kurang beruntung. Melalui program ini, semua lansia akan saling menguatkan. Dinas Sosial juga memberi mereka pendampingan dan pelatihan. Program ini konon punya jargon: dari lansia, untuk lansia. Karena lansia, akan lebih nyaman kalau curhat pada sesama lansia. Hmmmm…

Maksimalisasi Pondok Sosial

Ada dua pondok sosial yang dimaksimalkan. Pertama, yang ada di Kalijudan. Khusus, mereka yang berkebutuhan khusus. Kedua, yang di Wonorejo. Khusus, anak jalanan atau terlantar.

Semua anak difasilitasi agar mengoptimalkan minat dan bakat masing-masing. Karena, bakat anak-anak berbeda-beda. Tidak semua anak suka matematika. Apalagi, fisika! Apalagi, kimia! Apalagi, bahasa Inggris! Kadang saya berpikir, buat apa kita mesti bagus-bagus berbahasa Inggris. Kalau orang Inggris atau orang asing butuh kita, ya semestinya mereka belajar bahasa kita.

Lha lapo kito kudu ngapik-ngapiki bahasa Inggris? Kecuali, kita yang butuh. Yo nggak?

Hasilnya, ada yang jadi juara balap sepeda, tinju, berhasil dalam pameran lukisan, dan membuat novel yang berjudul Teka-Teki atau The Book Code. Lhah, kok teka-teki diartikan The Book Code. Yo takoko sing nulis kono! Dan sekali lagi, sudahlah, gak usah bingung dengan bahasa Inggris. Intinya, novel itu bagus.

Ditulis sekitar enam bulan oleh seorang yang bahkan sudah tidak tahu mau pulang ke mana. Baru belasan tahun umurnya. Remaja, yang beberapa tahun lalu ditemukan Satpol PP di salah satu perempatan Surabaya.

Dia orang Sumatera Utara. Konon, dia minggat dari rumah. Di Surabaya, hanya punya saudara jauh. Itu pun, dia tidak begitu akrab-akrab banget. Saat “diringkus” Satpol PP, dia dibawa ke Pondok Sosial Wonorejo.

Di sana dia kerjanya hanya ndekem nang perpus. Membaca novel-novel atau buku-buku yang ada. Cuma rehat buat makan dan MCK. Hingga pada suatu ketika, Kepala Dinas Sosial menantangnya membuat cerita pendek. “Maaf, Pak. Saya hanya bisa buat novel, Pak,”

Dan jadilah novel tersebut, yang dilirik sebuah penerbit di Jakarta. Konon, cetakan pertama, penerbit itu berani melaunching 3.000 ekslempar. Kabarnya, dalam beberapa hari ke depan, buku yang dimaksud akan dirilis secara formal oleh Wali Kota. Ehm, entah jadi atau tidak, sih.

Demikian, bukan demi moore. (*)

 


Bagikan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here