Bagikan

Persoalan LGBT ternyata turut menarik perhatian Bembem yang doyan online itu. Tak hanya karena belakangan sejumlah artis kena awu anget. Lebih dari itu, dia memiliki pendapat yang diklaimnya di luar mainstream. Saat lagi cangkruk di warkop lesehan danau Unesa Lidah malam itu, dia melontarkan pendapat ke hadapan forum.

“Menurutku, LGBT itu penyakit. Ada obatnya. Dan kita tidak boleh membiarkannya,” ujarnya sejurus. “Menurutku, cangkemmu tambah suwe tambah seneng ceramah,” seloroh Bolang.

Keadaan hening sejenak. Masing-masing menyeruput wedhang yang sungguh nikmat karena hari itu begitu dingin. Kayaknya, mau hujan. Untung, warkop lesehan tersebut pasang terop sederhana dari terpal warna biru yang bolong di beberapa titik.

“Analoginya, begini: dulu saya itu pemabuk. Kalian tahu sendiri. Tidak ada hari tanpa, paling tidak, minum topi miring. Jujur, sampai saat ini, saya masih kepingin minum alkohol. Tapi, saya selalu berusaha menahan. Syukurlah, sejak dua tahun yang lalu, di darah saya sudah nol persen alkohol,” kata Bembem. “Tapi, seratus persen kesoktahuan,” Bolang kembali berseloroh. “Koen opo o seh?! Aku lho, menyampaikan pendapatku. Koen kudu menghargai,” ucap Bembem dengan ketus. “Aku, lhak yo sedang beropini, Bem,” Bolang membela diri.

Wes, podo gendenge ojok tukaran. Lanjutkan saja krowengan kalian dengan baik dan saling menghargai,” Suro mencoba bijak.

Lha iku, Sur. Aku tahu bahwa kecenderunganku mabuk itu penyakit. Maka, aku memang harus berjuang keras untuk melawan. Podo koyok Comel iki. Dulu kan dia hobi bergendak ria. Dan kalau bergendak, wes bukan lagi melebihi batas, justru batase iku wes gak onok. Aku yakin, sampai sekarang dia masih ingin seperti itu. Tapi, dia sekarang sudah tobat. Sudah tidak mau. Sudah lebih suka menahan keinginan. Hidup ini kan soal menahan keinginan. Soal perjuangan,” kata Bembem.

Gak perlu nyandak-nyandak jenengku, koen,” Comel memprotes. “Tapi, benar kan?!,” sahut Bembem.

Comel berpikir sejenak. “Lha lapo aku kudu mikirno pertanyaanmu yo. Mbuhlah,” Comel lalu memilih diam.

“Kita tidak bisa menganggap kondisi ini pemberian Tuhan secara linier. Sebab, kalau mikirnya begitu, berarti semua kejahatan di dunia ini juga pemberian Tuhan,” Bembem kembali berdalil. “Apapun pendapatmu, yang penting kita tidak mendiskriminasi saudara-saudara kita yang termasuk LGBT itu,” Suro kembali sok arif dan bijaksana.

“Benar itu. Aku pernah ketemu segerombolan orang yang suka menghujat kaum LGBT. Aku sih mikirnya sederhana. Kalau mereka maunya hanya menghina LGBT, berarti mau menumpas, kah?! Berarti mau melakukan genosida, kah?! Kan, juga absurd keinginan itu. Kalau tidak suka LGBT, dan menganggap itu salah, beritahu dengan baik. Berikan rasionalitas yang pas. Jangan asal serbu serang saja dong,” Bolang tiba-tiba berujar dengan semangat.

“Tapi, wahai kawan-kawanku sekalian. Kenapa kita tidak membiarkan saja mereka hidup dengan damai. Soal orientasi seksual, itu urusan mereka sendiri. Ada dalam diri mereka sendiri,” Comel urun nggacor sambil mengunyah tahu petis.

“Persoalannya, Mel, mereka itu manusia. Kita mesti menghargai mereka seperti manusia. Kalau mereka keliru, kita mesti luruskan,” Bembem berucap. “Tapi, kan, keliru dan tidak keliru adalah soal perspektif,” ungkap Comel. “Paling tidak, kita sudah sempat ngomong,” sambut Bembem.

“Kamu kok yakin benar kalau kamu yang benar dan mereka yang salah,” Comel mendadak mau debat dengan Bembem. “Pakai logika sederhana, Mel!” langsung dipayu ambek Bembem.

“Begini: kalau kamu menganggap LGBT itu benar, mau gak kamu kalau punya anak, istri, Ibu, atau Ayah yang LGBT?,” Bembem mencecar. Comel melepaskan pandang ke angkasa. Diseruputnya kopi sebentar. Dipandangnya lagi langit. Tampaknya, mendung benar-benar ingin runtuh. (*)


Bagikan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here