Bagikan

Bila ditelaah dengan alakadarnya, bertolak dari perspektif politik, setidaknya ada tiga macam sindrom kekuasaan. Rinciannya, penyakit pra-kuasa (Pre-Power Syndrome), sedang berkuasa (In-Power Syndrome) dan pasca-kuasa (Post-Power Syndrome).

Pre-Power Syndrome diistilahkan untuk orang yang sebelum berkuasa begitu gemar memromosikan diri untuk meraih kekuasaan. Kampanye yang disuarakan, walah, bertebaran janji-janji gulali disko.

Sedangkan In-Power Syndrome adalah gambaran bagi orang yang sebelum berkuasa perilaku dan ucapannya seperti wong beneh, tapi, ketika berkuasa mulai lupa diri. Mati-matian mempertahankan kekuasaannya dengan cara apapun. Lupa bahwa dia pernah berjanji: cukup satu periode saja. Hmmmm…

Sementara Post-Power Syndrome digunakan untuk menggambarkan seseorang yang berprilaku aneh setelah tidak lagi memegang jabatan. Termasuk, gemar mengkritik pemerintah. Kadang, malah nampak berlebihan dan sok reformis laksana penonton bayaran di televisi: jare wong Jakarta, lebay!

Yang jelas, apapun jenisnya, penyakit tersebut menggerogoti individu dengan iming-iming kekuasaan. Hingga pada akhirnya, dia menjadi “budak” atau tawanan mimpi semu kekuasaan. Memalukan!

Belajar dari Al Ghazali (bukan Al anake Dhani, Red)

Dalam buku Atas Nama Pengalaman Beragama dan Berbangsa di Masa Transisi (Dian Rakyat, 2009: 144), Nurcholish Madjid mengutip cerita tentang profesor Harvard Henry Kissinger. Kiranya kisah ini dapat jadi pelajaran bagi kita selain kurikulum 2013.

Begini, sebelum diangkat presiden Richard Nixon menjadi penasehat pemerintah dan ketua NSC (National Security Council), dia adalah sosok yang selalu mengkritik pemerintah. Nah, ketika dia memangku jabatan tersebut di atas, dia mulai membela pemerintah.

Setelah itu, Nixon mempromosikannya menjadi menteri luar negeri. Maka, bertambahlah pekerjaannya untuk membela setiap kebijakan pemerintah. Tetapi, begitu dia turun jabatan dan tak lagi menjadi orang pemerintahan, mulailah lagi dia kritis.

Sindrom kekuasan bisa terjadi di mana pun. Sindrom tersebut bukan monopoli salah satu atau beberapa tempat maupun negara tertentu. Semua manusia mempunyai kemungkinan dan kelemahan untuk terjerumus ke dalam jurang itu. Dalam setiap level kekuasaan, lho. Mulai tingkat RT, manager bagian perusahaan, sampai presiden serta ketua ormas keaagamaan.

Maka, ada baiknya bila setiap orang mengamalkan uzlah-nya Imam Al Ghazali. Uzlah di sini bukan berarti menyepi atau bertapa. Melainkan, mengambil jarak dari persolan yang mengitari, agar mampu melihat keadaan yang sesungguhnya secara obyektif.

Paham maksud saya? Kalau tidak paham, sama. Saya juga kerap tidak mengerti dengan apa yang saya sampaikan. *Tek tok tek tok tek tok

Berharap banyak pada Bu Risma

Ya, semoga Wali Kota Surabaya Terpilih Bu Risma tidak kena sindrom ini. Semoga beliau bukan orang yang saat berkampanye banyak janji tapi gairah untuk merealisasikan saat terpilih malah menurun. Atau, malah amnesia dengan ucapannya sendiri.

“Opo sih, aku gak tau ngomong KBS sing ape diapikno, aku gak tau ngomong soal Joyoboyo sing ape dimagrong-magrongno, aku gak tau ngomong soal LPA Benowo sing menghasilkan listrik, aku lho gak tau ngomong nek pengen dadi wali kota. Aku lho dipilih dan diminta rakyat. Aku gak tau melu kampanye. Sing kampanye iku rakyat!”

Jangan sampai, statement itu keluar dari mulut beliau.

Mudah-mudahan pula, ketika sudah menjabat, tidak terbersit sedikit pun di hati beliau untuk tamak. Misalnya, karena tahu jabatannya sudah habis pada 2021 (mbuhlah, 2021 atau 2020), sebelum tugasnya rampung, dia berburu jabatan lain. Atau bahkan, dia mempersiapkan suami atau anak atau asisten rumah tangganya untuk menjadi wali kota Surabaya selanjutnya.

Menjadi harapan banyak orang, kala beliau sudah tidak memiliki jabatan politik, alumnus ITS ini tetap rendah hati. Bukan malah banyak ngerecoki pemerintahan baru dengan kritikan yang tidak konstruktif.

Misalnya, saat pemerintahan baru ternyata belum juga memulai pembangunan trem dan monorel pada 2022, dheweke mberok-mberok: apa saja kerjanya Pemkot? Sampai sekarang Angkutan Massal Cepat gak kunjung rampung. Nek ngene kan dadi aneh, lha wong iku garapane dheweke dewe nang periode sakgurunge.

Intinya, bangsa Surabaya berharap banyak pada integritas Bu Risma. Terserah, dia mau berasal dari partai mana, citra dia yang kadung dianggap baik, jangan sampai tercela. Apalagi, gara-gara sindrom kekuasaan.


Bagikan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here