Bagikan

“Eh, katanya ada film Battle of Surabaya (BoS) lho, Shel. Tapi kok yang bikin anak Jogja sih. Mana animator Surabaya-nya?”

Kurang lebih dari setahun yang lalu saya berkali-kali mendapat slentingan semacam itu dari temen-temen di Jakarta. Mempertanyakan ke-eksisan arek Suroboyo, entah di belantika film atau nasionalisme. Dan saya cuma nyengir aja nanggepinnya sambil nunggu rilisnya film ini. Meski dalam hati benernya udah meragukan kualitasnya dan mbatinPalingo jek luweh ciamik nek sing nggawe arek Suroboyo dewe” (Sepertinya masih akan lebih bagus jika dibuat oleh anak muda Surabaya).

Tapi jare Gusti Pangeran Ingkang Kathah Slirane, suudzon itu tidak baik. Maka untuk mematahkan pikiran buruk penuh kesinisan ini, pergilah saya bersama teman-teman komunitas dan kru MakNews untuk menyaksikan film yang membawa nama nasionalisme dalam promosinya.

Berlatar belakang perlawanan arek Suroboyo yang membuat dicanangkannya 10 November sebagai Hari Pahlawan, film ini sebenarnya menceritakan tentang kehidupan Musa. Musa adalah kurir surat pada masa itu di Surabaya. Kurang lebih, begitulah sinopsis yang dipaparkan oleh film ini. Yang ingin dicapai oleh kreatornya mungkin adalah sebuah plot-twist menyegarkan di era peperangan.

Sayangnya, kreatornya sepertinya lupa kalo perang yang dipilihnya itu benar-benar terjadi dan tempat yang dipilihnya itu benar-benar ada. Jadi mereka gak isok sak enake dewek bikin plot peperangan dan imajinasi lokasi dengan riset ala kadarnya. Berikut hal-hal yang mbleset dari film BoS:

Dialek Semrawut.

Dengan mengambil setting lokasi di Surabaya, tentunya yang kita harapkan adalah dialek khas Suroboyoan. Terutama saya, sebagai arek Suroboyo yang ket mbrojol sampek tuwek kinyis-kinyis ini mblakrak di Surabaya. Berkaca pada karya independent temen-temen di Surabaya seperti Gathotkaca Studio dan Trio Hantu Cs yang sukses membawakan grammar dan pronounce Suroboyoan dengan ciamik, tentunya karya komersil seperti BoS seharusnya tidak mengecewakan.

Sayangnya ekspetasi saya ketinggian, njekethek elemen Suroboyoan-nya cuma ada di kata “Cak” dan “Ning” yang disisipkan di beberapa percakapan aja. Pemilihan kata-kata dalam Bahasa Jawanya pun masih lebih kental dengan Bahasa Jawa kulonan dibanding bahasa Suroboyoan sendiri. Pemilihan kata yang sifatnya minor ini mungkin masih tidak terlalu kentara dibanding penggunaan “Njuk ngopo?” yang jelas-jelas tidak nyuroboyo.

Bahkan sumpah serapah yang digunakan cuma sebatas “Jiangkrik!”, yang sebenarnya lebih akrab digunakan di daerah kulonan sana. Kalaupun harus menggunakan kata dasar “jangkrik”, Arek Suroboyo akan melafalkannya dengan “Juangkrik!”

Tidak hanya di dialek dan penggunaan bahasa Arek saja yang amburadul. Capt John Wright yang berperan sebagai antagonis dalam plot-twist ciptaan MSV Pictures ini merupakan kapten berkebangsaan Inggris… yang beraksen American.

Geografis Sak Enake Mbahmu

Awalnya kita akan disuguhi gambar jalan Tunjungan dengan Hotel Yamato (sekarang Majapahit). Lalu ada pula beberapa gambaran lokasi di Surabaya, seperti Jembatan Merah, Ampel, Penjara Kalisosok. Sungguh menarik menikmati sudut kota Surabaya dalam bentuk 2D. Sampai akhirnya masuk ke penggambaran desanya Musa yang begitu hijau dan berbukit.

Nasionalisme-Tembelek-Kingkong-Battle-of-Surabaya
Iki Suroboyo bagian mana, Cak? (Courtesy: MSV Pictures)

Sek, sek. Berbukit?

Di salah satu scene tampak Musa dan Yumna sedang saling bermodus-modus di pinggir sawah lalu lanjut bermesraan duduk berdua diatas bukit sembari menikmati pemandangan kota di bawah sana.

Sayangnya, lokasi gunung-gunungan di Surabaya seperti Gunungsari maupun Gunung Anyar belum bisa dijadikan tempat menikmati keindahan kota dari ketinggian yang signifikan. Yang terdekat pun hanya Tretes, Trawas, atau Batu yang biasa jadi jujukan orang Surabaya berwisata selimut desahan.

Jadi entah, mungkin MSV Pictures ini ingin menggambarkan Musa sebagai anak kecil luar biasa yang sanggup berjalan kaki dari Tretes/Trawas/Batu menuju stasiun Gubeng Surabaya untuk jadi penyemir sepatu dan kurir. Mbuelani soro rek!

Selain itu, pada saat perang di Jembatan Merah pecah, diceritakan bahwa Capt John Wright terlempar ke Kalimas. Lalu arus sungai membawanya terdampar ke desa tempat Musa tinggal. Nggateline, Jembatan Merah iki wes deket arah ke laut, seharusnya Capt John Wright ya kintir ke laut opo Perak.

Tapi kok malah ke desa Musa yang di area perbukitan? Jadi apa menurut BoS sungai itu mengalirnya dari hilir ke hulu? Kalo memang dari hilir ke hulu, mungkin Capt John Wright seharusnya terdampar di daerah Rolak sembari intip-intip waria di sepanjang kali.

Judul Sakenake Cerita

Sesuai sinopsisnya, film ini memang mengisahkan tentang Musa yang seorang kurir dokumen dan surat. Ditambah sedikit bumbu-bumbu romantisme cinta segitiga abal-abal remaja antara Musa-Yumna-Mas Danu dan script yang sangat bisa disalah-artikan. Cerita ini tidak akan menjadi masalah, jika judulnya Battle of Love atau Battle of Friendzoned.

Nasionalisme-Tembelek-Kingkong-Battle-of-Surabaya
There is no this scene in this movie. (Courtesy: MSV Pictures)

Tapi berkat judulnya yang sok heroik dan nasionalisme, sungguh sesat sekali mengingat sebenarnya tidak ada pesan moral apalagi elemen sejarah yang dipelajari dari film ini. Jika dijumlah menjadi satu, cameo-cameo peperangan Surabaya ini mungkin hanya sepersepuluhnya drama remaja Musa.

Berbagai tokoh seperti Bung Tomo dan AWS Mallaby sukses menjadi cameo selewatan bau kentut tanpa adanya adegan yang menonjol. Gak sinkron blas karo judule!

Sungguh ini membuat saya menjadi lebih tidak paham lagi ketika salah satu XXI di Surabaya mendadak dipenuhi anak SMA yang berbondong nonton BoS karena digratisno Dispendik. Mungkin bagi Dispendik penting adanya bagi anak SMA ini untuk mengerti bahwa friendzone dan kakak-adik-zone itu sudah ada sedari jaman dahulu kala. Jadi mereka yang sedang dalam fase itu tidak perlu merasa sendirian lagi.

***

Sungguh saya sangat kecewa, gregetan dan mangkel setelah ngeliat BoS. Banyak printilan detail yang terlewat, seperti tidak kotornya pantat Musa dan Yumna setelah bermain lumpur di sawah atau tangan Musa yang tidak terikat dan bisa membuka ikatan Mas Danu mendadak tampak terborgol.

Dari yang dihadirkan saja sudah banyak yang mengecewakan. Padahal masih banyak elemen lain tentang Surabaya yang tertinggal. Seperti misalnya, mengapa tidak ada orang Madura dalam film BoS? Iki Suroboyo lho rek, salah siji markase wong Arudam sisan.

Film ini sepertinya terlalu banyak mengambil referensi luar seperti pada anime Samurai X atau film layar lebar Saving Private Ryan dalam scene-nya sebagai referensi perang tanpa benar-benar memperhatikan aspek sejarah yang terjadi. Meski dikabarkan BoS ini bermodal sekian milyar, mungkin dananya lebih banyak untuk membayar dubber sekelas Reza Rahadian dan Maudy Ayunda serta viral-marketing daripada untuk riset mendalam.

Poin menarik yang jarang orang tau dari film BoS ini adalah ternyata organisasi Kipas Hitam yang dijadikan plot-twist itu memang benar ada dulu. Tapi saya gak mau menjabarkan poin-poin sejarah dari film BoS ini. Sudah ada dulur-dulur Roode Brug Surabaya dan Surabaya Tempo Doeloe yang lebih berkompeten.

Tapi mungkin kalo mereka nonton bareng ama yang bikin, kreatornya ini bisa dikrawuk dan dikintirno Kalimas. Ya masak sok jual nama nasionalisme buat marketing tapi isinya entut berut. Nasionalisme tembelek kingkong!


Bagikan

276 COMMENTS

  1. Ini bukan film sejarah, ini film animasi, dan animasi perlu exaggeration, love drama, culture mixing, dan lain-lain layaknya film2 disney dan jepang yang banyak ditonton oleh orang indonesia. Unsur2 tersebut merupakan kunci dari keberhasilan sebuah film jika ingin ditonton secara global. bukan hanya orang surabaya.
    Tulisan anda keren, and you’re cute by the way 🙂

  2. Hahahahaha…
    Aku maune eksyaited ngunu pas krungu desas-desus kape onok felem ngene. Tapi kok terus suwe gak dadi-dadi. Terus pas wes dadi felem-e, aku wes males dhisikan.
    Sakpancen strategi marketing’e gak patio apik (jieee dialem). Antara sakno dan embuh ah.
    Terus… Iki kiro-kiro kudu ngenteni gawenane arek Serbeje sampik kapan yo, ning?

  3. Mungkin film animasi iki pancen adoh teko ekspetasine awakdewe terutama sing asli Arek Suroboyo, opo maneh nek dibandingno karo sejarah utowo bayangane awakdewe mbiyen pas perang 10 november. Mungkin iso digawe pelajaran ae gawe sineas sing liyane, nek seumpomo atene nggawe film sing latar belakange suatu kota tertentu opo maneh sing dianggap nduwe sejarah, paling gak wong2 iku iso “ngerangkul” masyarakat pribumi utowo pelaku sejarah mesisan ben tambah ciamik soroh . Aku dewe mengapresiasi film iki, salut gawe arek2 Jogja sing nggawe, masio onok “kecacatan” nang kene kono. Mugo2 isok di gawe pengalaman berharga, intine ojok cuma sekedar ngerti sejarah tembung jare utowo cuma survey, tapi nek isok bener2 di pelajari karo dipahami nek perlu diselami ben nduwe gambaran padang nek atene nggawe film sing apik

  4. sek sek mbak shelly .. sampeyan nulis menggebu2 soal suroboyo, soal dialek sembarang kalir tapi kok nggawe boso walikan? arudam? kene gudhuk malang ning!

    • Boso walikan lak yo dikanggo nang Suroboyo, Mas. Aku biyen kuliah yo ngoceh walikan karo konco-koncoku. Jombang, Malang, Sidoarjo, Krian, Pandaan, Gresik, Meduro lak terhitung satelit Suroboyo, akeh arek-areke sing sekolah/kuliah nang Suroboyo, dadi wajar lek bahasane nyampur2. Tapi nek nganggo dialek Yogya yo pancen adoh to, Mas, hehehe…

      • aku mbiyen kuliah gak tau nggawe boso walikan mbak, sampek saiki kerjo yo gak tau nggawe boso walikan maskio koncoku soko daerah sing sampeyan sebutno.

        • Liyo pergaulane koyoke, Mas. Lah wong mantanku ae kera Ngalam, bareng kuliah nang Unair. (waduh! yok opo ki kok malah nggarai kelingan mantan?!) :’))

          • Lha si mbak malah curcol -_-” ayo mbak ndang move on nggolek anyar, arek suroboyo ganteng2 kok :)))

            Aku yo alumni unair gak tau gawe boso walikan :p

      • Temenan aku bingung kok onok boso walikan…padahal ngomongno suroboyo…

        mbakku ngomong boso walikan iku bosone wong sing gak wani perang…gae boso walikan mergo wedi ketemon londo…ckckckck

        • Wedi ketemon londo? Lek gak ero sejarah.e boso walikan ojo njeplak sak penak.e dewe mas, iku strategi perang gerilya cek.no mata2ne wong londo gak ero opo sing diomongno, trus cek.no cek bedakno ndi kawan ndi lawan. Lek ngomong dipikir sik mas, mbah.e sampeyan gak mesti bener, sepurane ae lek kesinggung.

      • aku gak ngebahas masalah ngerti opo gak tapi sing jelas iku gudhuk bosone arek suroboyo, aku yo nduwe darah meduro dan dengan segala hormat tulung iku nyebute MADURA gudhuk ARUDAM .. di peta Indonesia tidak ada pulau ARUDAM.

        • Dan maksudku,boso iku jamak dipake,bahkan oleh arek suroboyo…
          Trus kene yo ga oleh nyebut duro?soale ga ono pulau meduro?
          Saranku,ga usah terlalu sensi dgn mencantumkan anda punya turunan madura…
          Ono ta kuto surbejeh ng indonesia?
          Sante ae…iku cuman kosakata rekkkk

  5. nah iki lucu…

    Surabaya merupakan daerah yang didominasi dengan dataran rendah, kurang lebih
    sekitar 80% dari luas daerahnya sedangkan sisanya yang 20% merupakan daerah
    perbukitan yang bergelombang rendah. Yang termasuk wilayah dataran rendah
    yaitu, wilayah di Surabaya Timur, Surabaya Utara, dan sebagian dari wilayah
    Surabaya Selatan.

    wilayah penyebaran daerah perbukitan bergelombang rendah meliputi daerah
    Lakarsantri dan Kecamatan Karangpilang. Jika diperkirakan kurang lebih
    ketinggian bukit hanya mencapai 30 meter dari permukaan laut dan kemiringannya
    hanya sebesar 5 – 15%.

    contoh wilayah perbukitan bisa ditemui, di kisaran simo gunung, mayjen sungkono sekitarnya

    mohon anda juga research.

    • nah kalo perbukitan menurutku bener tuh ya, daerah sisi baratnya diponegora kan sudah naik turn..sampee eke daerah barat citraland, nah DOlly, dan Kembang kuning dan markasnya radio Suara Surabaya juga perbukitan itu, ada benernya sih

    • Ehem. Iya kok mas, saya juga paham kalo di Surabaya Barat itu daerah perbukitannya Surabaya yang paling duwur. Permukaannya banyak naik turun. Koyo daerah ngarep Vida, misalnya.

      Diatas udah tak sebutkan, kalo “belum bisa dijadikan tempat menikmati keindahan kota dari ketinggian yang signifikan”. Jadi menurutku daerah-daerah situ masih belum sesuai kalo dijadikan jujukan referensi. Kalo misal nih, dari daerah2 perbukitan yang mas sebutin tadi emang bisa ngeliat atau ngefoto pemandangan di jalan Diponegoro atau jalan Darmo tanpa perlu naik ke gedung bertingkat (sesuai dengan Musa yang cuma ngelempoh aja bisa liat seluruh kota), maka aku akuin statement perbukitanku di artikel gak valid. Jujur, mau dari ujung jalan Mayjend yang paling duwur ataupun belok-belokan deket markas radio SS pun aku belum bisa dapet view yang bahkan mendekati kaya yang ditampilin di film. Malahan kalo ngeliat dari adegan kejar2annya Musa di kawasan perbukitan dalam hutan itu, aku malah lebih ngerasa perbukitannya itu mirip Jakal km 20 keatas, kawasan Dago Pakar, atau Payung (Batu).

      Jadi ya iya, Surabaya punya perbukitan yang sesuai kaya yang ditampilin ama film itu menurutku, karena kawasan perbukitan tadi cenderung landai. 🙂

      • Ning ning…. Lha mbok pikir jaman ndisik iku wes akeh gedung2 ngono tah? Saiki nek koen nang daerah wonokitri opo pakis gunung kono, trus nontok daerah diponegoro… Jaman ndisik aku yakin nang daerah kono gak akeh omah dadi coba bayangno gak onok omah2 ato gedung, trus metangkringo nang pucukane dun2an pakis gunung opo wonokitri iku… Lak koen isok nontok daerah diponegoro malah bonbin karo wonokromo mestine yo iso ketok teko wonokitri
        Lepas teko iku yo ning… Sakjane niatmu iku ngritik opo nyacat opo ngiri toh?
        Nek ngritik mbok yo bahasane ditoto… Masiyo wong suroboyo iku nek ngomong ancene kasar… Tapi dudu wong sing seneng nyacat ning…
        Lha mbok yo coba mikir pendekatan sisi liyane pisan, misale yo ning… Film iki konsumsine mestine dudu kanggo wong suroboyo thok, lha mosok entek em eman meh dipasarno kanggo wong suroboyo thok… Lhak yo gak ngono tho? Dadi masalah dialek… Detil lokasi… Lan liya2ne sih iso dimaklumi lah
        Wis lah… Arek suroboyo iku dudu tukang nyacat… Tapi terkenal karo aksine
        btw Koen nek nonton bal pas wayahe iklan karo pas jeda komentatore ngomong lak mesti mbok ganti toh channele? Ayo ojo malah dadi koyo komentatore bal sing senengane nyacat tapi malah gak iso bal balan… Ayo aksi dan nyetak gol ning
        Wis yo ning… Wis ngantuk aku
        Eh ning, sesuk tanggal 28 agustus jarene tim sutradara lan produsere bos iki arep nang suroboyo gawe acara nonton bareng nang tepe ( tunjungan plasa ), njajalo tekoo trus ngajako dialog nang kono ae ning… Ben gak nyacat tok nang kene

          • Oooo…. Curhat to…. Yo wis lah nek mek curahan hati, ancene nek soal hati iku angel sih cak, jenenge curhat yo luwih dipengaruhi ati timbangane pikiran (utek)
            Btw pean pacare ning shelly ta cak?

          • Nggilani gelem karo shelly, bekase wong akeh, ra mutu, koyo ra ono wong wedok liyo sing luwih becik kelakuan karo morale ae mas mas

          • Ya aku yo emoh lah, mosok wedok karo wedok, aku kan masih normal gak koyok utekmu sing gak normal nggawe akun kloningan gawe mbelani karo muji-muji awake dewe. Kelakuanmu shel shel tobato nduk, umurmy wis tuwo.

        • Menarik menyoal latar dalam film ini, memang benar di Surabaya ada beberapa daerah dengan kontur dataran tinggi.. Tetapi jika melihat fakta sejarah dan jika melihat latar film yang mengambil selipan saat peperangan 10 November tahun 1945, tampaknya kota Surabaya saat itu sudah dipenuhi bangunan tinggi khas bangunan kolonial belanda. Buktinya banyak, bisa di cek di koleksi foto Surabaya Tempo Dulu milik KITLV, dsb… Jadi penjelasan penulis sih masuk akal.. IMHO…

          Secara pribadi saya sangat mengapresiasi BOS, hanya saja mungkin menjadikan kritik atau entahlah yang ada dipostingan ini sebagai pengingat bahwa memperhatikan detail latar film ini juga perlu, dan tampaknya para sineas jauh lebih paham mengenai hal ini.

        • Hahahhaha lucu komennya mas, yo gak kiro wani nekani langsung produsere karo sutradara nang tepe mas, mengko malah ketok nemen bodone ning iki lek nyacat, wong deweke wanine menang nyacat versi socmed, ora langsung. Totoan duwit piro teko omongane cah wedok koyo ngene iki nek jarene wong bule kuwi chicken shit alias tembeleke pitik. Eheheheh

    • Mas mas, aku wong asli suroboyo barat mas, tepate daerah Simo Gunung…
      Biarpun ada daerah tinggi macem di daerah bukit mas, tetep ae yang kelihatan itu cuma jalanan mayjen sungkono, gak sampe kelihatan atapnya rumah orang sekampung macem di filmnya BoS mas, lha daerah bukit mas ae sebelahe makam pahlawan kok…

    • Mungkin Shellya ini belum lihat daerah Kris Kencana yang cukup tinggi buat lihat beberapa bagian kota, tapi yang namanya film memang selalu ada poin yang kurang dan dilebihkan, bukan? Namanya juga film.

    • Penulisnya asal njeplak kok, jadi gak udah research khusus. researchnya dia itu berdasalkan pengalaman mubeng-mubengi kuto suroboyo masio gak kabeh pelosok nganggo sepeda motor, karo pengalamane lahir nang suroboyo, dadine fanatisme tinggi terhadap suruboyo. Uwes iku reseach menurut dia.

  6. “Dan saya cuma nyengir aja nanggepinnya sambil nunggu rilisnya film ini. Meski dalam hati benernya udah meragukan kualitasnya dan mbatin “Palingo jek luweh ciamik nek sing nggawe arek Suroboyo dewe” (Sepertinya masih akan lebih bagus jika dibuat oleh anak muda Surabaya).”

    Hhahahahahah…. Awalane ae wes ngono, wes onok dongkole.
    Yo dasarane kesempatan gae nyacat pisan seh, mangkane mbok losss no ae nyacat e, nek wes kesel nyacate ndang dibuktikno nek iso nggawe sing luwih apik teko BoS, gak nyacat tok, wes kakean wong Indonesia sing pinter nyacat. Arek suroboyo iku gak kakean cangkem langsung buktikno!!

  7. Oke tak entheni versi garapan arek2 Suroboyo sing temenan.. Lokasine sing temenan kyo nang Suroboyo, terus dialog2e sing mbois koyo arek Suroboyo sing temenan… Lek durung metu juancok, brarti dudu Suroboyo..

    • lho cok, iki piye kok gak arek2 Suroboyo, lhah terus seng ditulis nduwur iku referensine Gathotkaca Studio isine arek Suroboyo seko ndi?

  8. yep benar sekali ini film ala kadarnya,
    saya sendiri betul-betul kecewa dengan film garapan rektor saya wkakwakwka

    waktu film mulai aku yo kudu metu ae :v tapi masih ditahan-tahan sama temen :3
    ditunggu karya arek Suroboyo ~

  9. Terlepas dari segala kekurangan film ini, saya tetap salut masih ada anak muda Indonesia yg masih mau mengangkat tema nasionalisme di industri film animasi yg masih seumur bayi untuk Indonesia. Maju terus industri kreatif Indonesia. Salam

  10. Mbak mbak, bosomu mbak, nggarai aku kangen Suroboyo. Wis sui dibuak nang gresik iki aku ben anakku diarani wong alim karo gak misuhan koyok bapake… Lek aku balik kucing suroboyo, tak jak ngopi yo mbak…

  11. jarene mas okto nak FF wingi sebtu ga popo mbak nek koyok ngono, ono bumbu-bumbu ne masio latar belakang sejarah asli, cuma seh yo ga ngerti bumbune iku maksimal oleh e sampe berapa persen. tapi aku gurung nonton, dadi ga iso komen akeh..

  12. kalo saya siih, terlepas dari jalan ceritanya yg menjadi kontroversi, saya cukup mengapreasiasi karya anak bangsa, yang masih bangga menunjukan karyanya di tanah dan negeri sendiri. melihat sampai saat ini yg masih sedikit perfilman di tanah air yg berkaitan dgn animasi…. penilaan memang bagus untuk ke depannya, tp setidaknya hargai mereka, jgn anggap mereka seakan-akan berkarya dgn s’enak hati, tanpa pemikiran yg matang. sy pikir mereka sudah bekerja secara profesional, walopun toh akhirnya kalian nilai buruk…. tp setidaknya inilah karya anak bangsa, suatu karya yang bukan abal-abalan, wlopun toh msh byk kekurangan,,,,, dan saya pikir jauh lebih baik mereka yg sdh mampu berkarya untuk bangsa ini, daripada kalian yg cm menilai buruk tp tdk mau menghargai karya mereka….. SEKIAN…

  13. Janjane iki meh ngritik opo ngece to? Iki meh ‘mbangun’ opo pancen pengen ‘mateni’ kreatore? Nek pancen ngritik lan mbangun, ketoke kakean bumbu2 sing gak penting. Opo mung dinggo sensasi wae mungkin ben trafike dhuwur? Kok le melas gaweane. Yooo, mugo2 niate pancen tulus (mung penulise dhewe sih sih ngerti), soale mesakke nek rodo menceng raketang sithik, awale kroso asik tapi mburi2ne iso dadi karma dhewe.

  14. Lha piye karepe? Wong yo MSV Pictures wes ngomong nek iki film cerita fiktif tapi di imbuhi perjuangan surabaya, dialeg kurang karna film ini bakal luas tayang(universal).. iki wes patut diapresiasi.. iki iso dadi tonggak kebangkitan animasi indonesia.. kritik yo oleh ning yo nggo saran ne..

    Yo welcome to indonesia, golek salahe wae.. sing bener didelikne

  15. Ora ngerumangani le gawe meh 4thn entek luwih 15Miliar, banjur dadi di ece koyongene ki.. meh ngritik ning yo nggo saran. Meh ngritik ning didelok sik wong yo cerita fiktif.. gak nduwe apresiasi blas.. piye meh maju! Jiwa pengkritik ning randuewe hasil membanggakan tersendiri !

  16. setuju karo TS ak… judule gak betel of suroboyo gak popo… marai menggokno sejarah sing wes kedaden… nggarai sing wong luar kota… wong sing durung eroh asale hari pahlawan nggarai ngartikno perang suroboyo sak njeglak cocote…

  17. WOCONEN REK: nek ono wong bodo, diajari wae, cukup, ora usah diuyek2 sirahe karo ngomong “kon iku kok buodone temenan to”.. kejobo nek podo2 buodone yo.. logikane rak yo mung koyo ngono to.

  18. Reviewnya lebih mirip review tarkam, Perang 10 November milik Persebaya, PSS Sleman silahkan ambil perang 1 Maret. Padahal, ini film fiksi, bukan film sejarah murni, bukan juga pertandingan bola yang minim prestasi kaya makian. Reviewnya ya harusnya lebih dewasa dikit, misalnya kayak review film fiksi 10, 000 BC yang orang-orang purbanya udah jago bahasa Inggris dari zaman Mammoth pipis (yang gak diperdebatkan sejarawan ha2). Jika misalnya film ini didubbing ke bahasa Inggris untuk kebutuhan pasar yang lebih luas, dan bukan ke bahasa Madura, jangan emosi, dukung aja…toh film ini juga pasti masih eksperimental. Jangankan riset detail, bisa selesai aja katanya alhamdulillah.Tapi ada baiknya kita menunggu karya anak Surabaya, semoga lebih detail, lebih greget, dan tentunya bukan cuma umpatan yang keluar.

  19. Reviewnya lebih mirip review tarkam, Perang 10 November milik Bonek, Slemania silahkan ambil perang 1 Maret. Padahal, ini film fiksi, bukan film sejarah murni, bukan juga pertandingan bola yang minim prestasi kaya makian. Ya review dari sudut pandang yang ringan aja kayak review film fiksi 10, 000 BC yang orang-orang purbanya udah jago bahasa Inggris dari zaman Mammoth pipis (yang gak diperdebatkan sejarawan ha2). Jika misalnya film ini didubbing ke bahasa Inggris untuk kebutuhan pasar yang lebih luas, dan bukan ke bahasa dialek Surabaya atau Madura, jangan emosi, dukung aja…toh film ini juga pasti masih eksperimental.Jangankan riset detail, bisa selesai aja katanya alhamdulillah.Tapi ada baiknya kita menunggu karya anak Surabaya, semoga lebih detail, lebih greget, dan tentunya bukan cuma umpatan yang keluar.

  20. Wah ini..
    bukannya mendukung, malah ngelek2no..
    ngisin-ngisini..
    mbok ya palingo kasih masukan..
    opo salahe se mek ngeke’i koyok situs sebelah..
    opo mek Trivia, opo kesalahan2 itu biasa..
    tapi mbok yo cara mbahase sek apik titik..
    paling yo engkok moro sakdoronge nggawe film ngene yo leren otot2an sek nak studio.. ~.~”
    Dadi biasa ae lek mbahas..
    Dukung, n bahas layaknya orang berpendidikan, Bro..
    Seniman pun lek bahas yo gak koyok ngene iki ~.~”

  21. setuju banget !!!! dan PANASBUNG mimin film itu bertebaran disini, meng counter kritik yg berani nan lugas ini, ya pasukan nasi bungkus,emang gitu kelakuannya.makanya jangan jual dengan label “karya anak bangsa”, cukup perbaiki kualitas cerita, dan jangan lupa RISET !!!!

  22. Terlalu terinspirasi Studio Ghibli kaya nya
    Terlalu jual nasionalis,apa lagi orang indonesia kebelinger soal arti NASIONALIS
    Org luar kalo liat seklias BoS mungkin beranggapan film itu keluaran studio ghibli,

  23. Lucunya baca komen komen di bawah yang malah counter si mbak TS. Tentang bahasa kasar mbak TS, itu ciri khas kali ya? so daripada sok mempermasalahin bahasa penyampaian mbak TS, kenapa engga fokus ngambil poin poin penting dalam kritiknya aja?

    Buat para haters TS, ada satu quote:

    “Kita tidak perlu menjadi chef/ jago masak untuk mengetahui enak atau tidaknya suatu masakan”

    Dan lagi, JANGAN JADI MANUSIA YANG GILA REWARD, MUDAH PUAS, DAN ANTI-KRITIK.

  24. aku tau di mak jleb i mbek guruku
    “nek kabeh kudu podo mbek kenyataan ngopo ndadak dianimasike .. gawe wae ftv malah cepet produksine ” ._. ngunu wae sih..
    berkaca dari negara yang sudah maju dunia animasinya se-real apapun settingnya saya rasa ada yang beda.. nek perlu sekalian ae mbak dikritik drpd gae sing ra plek 100% mbek real mending gawe animasi fantasi …kan wes rame ki ben dadi masukan ngo sing gawe… isi,seting, dari bos ya mungkin ga akan sesuai dengan ekpetasi mbak e yang “100% suroboyo”…ya kan ini film di distribusikan ke mana mana tentu ada yang di “general” kan

    mugi mugi kritik e nyampe ndek pembuat e ben ana peningkatan yo ….

    lan mugi mugi bahasaku ra mbingungi wong ya inilah 100% aku …wong e seneng e mbingungi /._./ ayeeee

  25. Ga suka yaudah gausah nnton, kalo yg bikin bukan orang surabaya brrti surabaya harus bangga karna kota nya di angkat ke layar lebar.
    POSTINGAN GA MUTU

    • Gimana bisa bilang ga suka kalo ga nonton mas?logikamu nyelip ng ndi?
      Peno ga moco iki ta?
      “Maka untuk mematahkan pikiran buruk penuh kesinisan ini, pergilah saya bersama teman-teman komunitas dan kru MakNews untuk menyaksikan film yang membawa nama nasionalisme dalam promosinya”
      KOMEN GA MUTU
      ( lha,kok pole capslock kabeh?wkwkwkw )

  26. Ya kalau bisa buat yang lebih bagus, buktikan. Talk less do more. Jangan cuma omong doang. Ubah kebiasaan buruk mengkritik kalau ga ada inovasinya.

  27. owalaaah ning peno iki tibak’e coder sing senengane ngodei cowok tah
    kode ono aku ning :))
    sek sek aku maleh kudu ngguyu ndelok bukit e iku
    lek aku mbadek iku ngunu paling bukit darmo lek gk bukit mas ning
    wis ojok kaken cangkem talah iyo ono ae lak uwis seh

  28. Nasionalisme itu skalanya negara, bukan kota.

    Knp ga bnyk suroboyoan? karena yang nonton gak cmn orang surabaya. Itu sebabnya cmn pake pisuhan yang umum aja. Ga semua org Indonesia ngerti klo pake bnyk suroboyoan.

    Kok ada bukit? Settingnya bisa dimana2x. Yang penting perangnya di Surabaya.
    Mbelani soro? orang2x jaman dulu mgkin perjalanan jauh itu ga masalah, ya klo anak jaman skrng baru disuruh perjalanan segitu sudah bilang “Mbelani soro”. Tapi toh namanya jg film, bkn dokumenter.

    Bnyk ambil referensi dari luar? Gmana lagi caranya membuat animasi yg menarik klo ga ambil refernsi dari sesuatu yang sudah disukai pasar?

    Tapi hey, nyatanya skrng sdh ada animasi nasionalis. Sdh ada standartnya seperti ini, jadi film2x berikutnya akan lebih tinggi lg standartnya.

  29. Gue heran ma pemikiran manusia manusia jaman sekarang. Dikit-dikit pada ribut. Ketika karya anak negeri sendiri dicaci, di benci. Emang situ bisa buat Animasi seperti BOS ? Ingat! ngomong itu gampang dari pada ngelakuin. Situ orang berpendidikan kan ? kalo iya, minimal mendukung lah biar lebih baik lagi. Membuat karya itu susah, gak gampang. Situ cuma bisa beli tiket, duduk, nonton, sudah selesai. Tapi bagi mereka yang membuat BOS butuh perjuangan dibalik layar. Selangkah lebih maju kok di caci. Kapan majunya. Bagi yang CUMA bisa NONTON dan BISA nya CUMA NYACAT, diem aja gak usah sok sok an keminter, sok sok an bener.

    • Lho, mas. Lek logikane ajur koyok sampeyan berarti pengunjung resto mesti seneng karo panganane masio yaopo rasane, secara gak isok masak. Wong wedok musti seneng karo klambi masio modele gak jelas, secara gak isok njait. Ngene-ngene, mbak Shellya iki tuku tikete, lho. Ngewangi animatore balik modal. Opo nulis puja puji tapi gak melok nontok? Ngono ae ta, enak.

      Dan lagi, apa kabar sama hak untuk menyatakan pendapat (termasuk di dalamnya ketidak sukaan atas suatu hal)? Biarkan animator membuat animasi dan biarkan penonton memiliki dan menyatakan pendapatnya. We do what we’re supposed to do.

      Now sit down, and be more informed and less ignorant.

  30. Tulisan e kipa, sekelas kritikus2 film sing ndek forum2 film lah. Ancen kudu ngono wayahe apresiasi film iku, film kudu dikritisi semaksimal mungkin. Iki ancen sing dadi kekurangan e dunia perfilman Indonesia. Lek nggawe karya iku kudune diriset disek sing valid iku yo opo soale iki film guduk fiksi tapi mengacu pada sejarah. Gak melulu “cukup bangga dg karya bangsa”. Lek ngono terus yo mari wes ngono2 tok kualitas film e Indonesia bakal e sampek mben.

      • Sepertinya masih belum paham juga. Cobak kunjungi forum2 online yg banyak membahas film seperti rottentomattoes, imdb, dll. Mereka nggak pernah ada hubungannya sama film2. Kerjaannya ya cuman kritik film aja. Lumrah namanya kritik ya pedes wong nunjukin kelemahan. Yg disayangkan di sini banyak yg hanya menanggapi seperti “bisanya cuman nyinyir, bikin karya aja masih blm kebukti. Dll”. Sungguh tanggapan yg sama sekali nggak nyambung. Fyi aja di eropa, amerika dll kritikus itu pekerjaan dan kalau dilihat2 dari kemunculan mereka malah bikin dunia perfilman barat makin bagus makin aneh2 makin nyeleneh2.

  31. nikmati saja filmnya..ngga perlu dicari-cari kesalahannya…mau Capt John Wright ya kintir ke laut opo Perak…atau malah ke gunung…namanya juga imajinasi….

    Mbuelani soro rek! iya… jaman itu jarak segitu pasti bukan jarak yg bikin awang-awangen… aku alumnus SDK Don Bosco Jl Tidar…sak ngertiku sampai aku lulus SD th 83 (dan sampai beberapa tahun kemudian) satu-satunya SD yg masih ikut gerak jalan Mojokerto Suroboyo dan Pandaan Suroboyo ya arek Don Bosco tok…. Mbuelani soro ? enggak!! malah bangga tuh!!

  32. Inilah indonesia, yang selalu mencari kesalahan. Apresiasilah, kalian hanya mau bicara ini itu tp tak mau tangan kalian kotor karena gak mau turun tangan. Jika kalian terus menyindir, bukan tidak mungkin karya domestik akan mati. Alangkah lebih baiknya memberi saran membangun untuk karya anak bangsa.

    • what if i told you kalo mengkritik itu salah satu dukungan dan apresiasi namun dengan lebih mendalami sisi negatifnya?

  33. awalnya baca judulnya kok kesannya ngenyek banget dan nggak menghargai effort pembuatnya. tapi waktu baca saya senyum-senyum sendiri karena kalo dipikir bener juga sih dan saya membayangkan artikel tsb diucapkan lsg oleh penulisnya.
    dalam hati saya sebagai orang jogja aja marah kalo orang dihina, begitu pula org surabaya kalo film yg menyangkut ttg kota tercinta mereka digambarkan dengan kurang tepat. Kritikannya bagus. semoga yang buat BoS baca ini juga ya 🙂 salam kenal

  34. cuk cuk wong wedok basane ngerimen, rating’e wae 8,7 , kok mbok anggep elek, yen mung sejarah tok aku yakin ra bakal patek laku, tur yen basane surabaya kabeh ketok’e kebak wong sing ra mudeng, yen seko latar film’e aku ra patek ngepermasalahke lan yen mlaku adoh pas mbiyen ketok’e wes biasa (ora koyo saiki)

    • Rating nang ndi? Imdb? Ojok salah, di fb onok gerakan ngek i nilai terbaik gae film e. Penilaian subjektif mek gara2 iku karya indonesia.. Patriotisme buta

    • Rating nang imdb? Ealah cuk lha kon kok goblok tenan. Nang imdb sopo ae isok ngekei rating, gak perlu ngerti film. Opo maneh iki film disetel nang indo tok, yo wong indo seng patriotisme buta iku seng ngekei rating. Opo maneh nag fb onok gerakan ngekei rating. Yo jelas duwur. Duwur tapi munafik.

  35. Yang jelas ini bukan film dokumentasi. ini adalah film cerita. Kejadian, tempat dan kronologi tidak harus sama, kan?. Kalau Kejadian, tempat dan kronologinya sama dengan sejarah itu namanya film dokumenter, bukan lagi film cerita, Jiangkrik! Terserah pengarangnyalah.

  36. Kesalahan paling fatal dari film ini adalah “Njuk ngopo?”
    Lainnya,debatable..
    Well,like any other movies…ada bumbu yg perlu ditambahkan memang..
    Film tak perlu masuk logika,karena itu bukan kisah nyata yg dihadapi orang tiap hari…
    Di film,bahkan Tuhan bisa jadi diperlihatkan dalam wujud Morgan Freeman sampai Alanis..
    Anyway miss,you’ve made your point..clearly..

  37. Mungkin Mbak Shellya kurang lengkap baca judulnya : Battle of Surabaya, There is no glory in war.
    Jelas sekali ini bukan film dokumenter, film sejarah apalagi film perjuangan. Film ini bicara ttg kemanusiaan dgn latar belakang Pertempuran Surabaya. Jadi kalo settingnya gak “letterlijk” dgn Kota Surabaya ya mohon diimaklumi saja.
    Pernah nonton film letusan Gn. Kratatau yg diceritakan berada di “sebelah timur Pulau Jawa?”

  38. jangan terlalu banyak mengkritikm hargai karya anak bangsa, kalo bukan kita siapa lagi, banggalah nama surabaya sudah dikenal disney karena film ini, kalau ngasih kritik itu yang membangun jangan malah melemahkan bahkan menjatuhkan, kalau anda bisa bikin karya lebih baik buktikan, kalo nulis di blog anak sma aja bisa. ada upin dan ipin di tv, anda asik nonton tanpa mengkritik.. ini mutlak karya anak INDONESIA dan anda berada di negara ini.. hargailah, kalo mau ngasih masukan atau kritik datang ke kampus AMIKOM YK, MSV picture itu ada disana. jangan koar2 di blog doang.. Surabaya bagian dari INDONESIA dan takkan terpisahkan. film ini karya anak indonesia dan orang surabaya harusnya bangga.. tq

    • “hargai karya anak bangsa, kalo bukan kita siapa lagi”

      Kalo ga ada kritik, ya yang nonton memang bakalan cuma kita. Yang ‘menghargai’ juga cuma kita. Siapa lagi? Lha wong gak ada perkembangan dan stuck di tempat. Orang lain yo males. Pengen maju tapi antikritik. RIP logika.

      “jangan koar2 di blog doang”. Ngelawak ta sampeyan iki? Yo malah iku fungsine blog; gawe nyatakno pendapat, ben gak usah adoh2 nang Yojo tapi pancet iso dirungokno omongane. Dan apakah cuma karena kita arek Suroboyo, lantas kita harus tersanjung kotanya jadi latar? Lapo, wong yo gak sepiro akurat. Murah amat harga sebuah kebanggaan

      “I do not agree with what you have to say, but I’ll defend to the death your right to say it.” – Voltaire. Please, we all need to live by this principle.

      • kritik yang membangunlah, kalo hanya menjatuhkan buat apa ? pertanyaannya “yang ngebacot, ngejelek2kin film BOS itu bisa apa ?” koar2 doang ?

  39. sayang e seng gawe berita iki rodok tolol didunia perfilman, nang ndi2 gaonok film seng podo persis karo latar cerita dan tempat. kon peker gampang a gawe tempat2 cek podo karo temenan e? ndasmu nang dengkul a cak? mikir titik po o. trus ralaten iku animator e gathot kaca studio cak ikin iku guduk arek suroboyo

    • Dudu rodok tolol mas, tapi nemen guobloke, gilo aku karo wong iki. Wes kenal suwi bocahe tapi yo ngono, kemintere top. Nggilani.

  40. wong suroboyo sing asli endi yo, onok sing ngerti GEDIBAL gak , lek gk ngerti GEDIBAL MINGGIRO WES OJOK SOKSOK’AN NGAKU SUROBOYO ,turuo pasar bantalan gobes gulingan terong climutan sawi bal gedibal wkwkwkwk

  41. Gagal fokus….abis baca artikel..pgn ngerti mas2 sing nggawe posting..lha kok….Mbak Shelly ternyata….anyway…*cook..inggrisan….Suwun Mbak infone….

  42. Lumayan isih onok sing gelem gae film tentang surabaya.. Timbang gak lapo2 tapi nyacat karyane uwong.. Tembelek Babi..

  43. beginilah orang orang yang hanya tau berkomentar tanpa membuat hasil yang nyata, boleh saja memberi kritik tapi buktikan anda melakukannya juga, nggk ada hasil karya yang sempurna mas,
    bahasa nya juga bisa lebih baik kan, ini malah kaya ngomong sama kacung, etika mengkritik juga ada mas,

    • Orang mengkritik makanan ga perlu bisa masak. Kalau logikanya seperti anda, ga usah komplain kalau ada makanan yang ga enak dan serba kaspo. Ngakunya sego sambel ternyata ga ada sambelnya.

      • Like Dislike mas
        orang yg gak bisa masak sama yg bisa masak cara mengkritiknya beda, kalo orang bisa masak bisa ngasih solusi, kalo yg gk bisa masak, ya cuma bisa berkoar,
        gk cerdas

  44. tulisan macam apa ini ? lha klo km bisa buat lbih baik ya sana buat coba, klo anak jogja buat sejarah jogja jelas gak ada detail yg meleset, lha klo mreka buat sejarah surabaya meleset2 kan wajar, lagian arek kalian dimana , ngeremin telor ? mbahmu mbahmu kui…

  45. wtf tentang realita, itu bukan sesuatu yang bisa di omong jelek kan
    kau tau indonesia baru coba ‘up’ di dunia animasi, malah di jelek2 kan,
    realita kah, yang buat harus orang lokal kah, WTF
    setidaknya menghargai karya anak bangsa ini surabaya termasuk indonesia kan leL

  46. Mungkin si penulis post ini mengaku arek Suroboyo tapi gak tau betul tentang Surabaya, perlu anda tahu di pinggiran kota Surabaya ada daerah yang berbukit-bukit yaitu di daerah Lidah (Surabaya Selatan)

    Sifat anda mencerminkan sifat orang Indonesia banget yang tidak bisa menghargai karya bangsa sendiri, tapi malah bangga dengan karya bangsa lain. terlepas dari jalan ceritanya yg menurut anda kontroversial, saya cukup mengapreasiasi karya anak bangsa, yang masih bangga menunjukan karyanya di tanah dan negeri sendiri. melihat sampai saat ini yg masih sedikit industri film Indonesia yang berkaitan dgn animasi.

    • lidah lak suroboyo barat toh cak? hehe
      aku wong lidah soale. bukit seh bukit tapi ya lek munggah ga sampek isok ndelok perkotaan kok cak.

      ya memang kritisi ini juga caranya ga baik sehhh, mek komen secara elek’e tok.

    • Sampean mas yang mencerminkan tipikal indonesia banget. Angger buatan indonesia mesti bangga. Taek kucing dibungkus buatan indonesia yo dibanggano..

  47. Coba pikir2 mba pnulis..yg tembelek kingkong entut mberut tu yg cuma byk omong g da hasil,ato yg sudah brkarya walo blm smpurna?

    • Entut berut itu yang cuman ngomong tapi gak ada hasil mas. Hehe liat aja mbak penulis ini ada kah prestasi atau sumbangsihnya buat bangsa, atau buat orang tua nya lah minimal. Kerjaanya nulis artikel nyinyir, pengangguran, sok kecantikan, hobinya nggodain cowok-cowok padahal udah punya pacar, malahan yang aku dengar dari temen-temen kampusnya mbak penulis ini punya kelainan, hobinya tepe-tepe dan nggodain pacar orang.gilo aku karo wong iki mas,

  48. untuk berkarya membutuhkan pengorbanan yang besar.
    untuk membuat karya animasi akan ada biaya, tenaga dan waktu yang dikorbankan. dan jumlahnya tidak sedikit.
    sedangkan untuk berkomentar saya pastikan tidak ada yang dikorbankan, kecuali emosi dan perasaan dari subyek yang di komentari.
    untuk saya pribadi, film animasi ini sudah sangat baik untuk awal industri animasi indonesia.
    terlepas dari banyaknya kekurangan. hiburan yang disajikan saya rasa sudah bisa membayar 30 ribu rupiah yang dikeluarkan untuk nonton di XXI.
    sebagai orang Jawa timur saya mengkritisi “kata” yang digunakan Shellya Febriana A. dalam menulis komentar ini. kata-kata anda sangat emosional dan sangat merendahkan.

    saya kira penulis review ini perlu belajar untuk menjadi manusia sebelum belajar kritik seni.
    salam hormat

  49. Apik ning narasine…yo ngunuw ning…seneng aku…cek buongko cocote sing nggawe pilm iki… “Nasionalisme tembelek kingkong…” xixixi

  50. jika Shellya Febriana A. sehebat tulisannya.
    tentunya industri animasi kita sudah sangat maju.
    tapi kenapa kenyataannya tidak demikian, karena memang terlalu banyak orang seperti Shellya Febriana yang hanya bisa berkomentar.
    untuk memproduksi film animasi, ada banyak tenaga, waktu dan biaya yang dikorbankan.
    sedangkan untuk menulis komentar, cukup dengan NJEPLAK saja.
    dan menurut saya, Shellya Febriana A. hanya mampu Njeplak saja.
    sebelum Shellya belajar kritik seni, lebih baik anda belajar jadi manusia terlebih dahulu.
    jangan membawa nama Jawa timur kemudian misuh-misuh.
    gak kabeh wong jawa timur lambene NJANCUKI.
    sekolahno lambemu mbak

  51. jika Shellya Febriana A. sehebat tulisannya.
    tentunya industri animasi kita sudah sangat maju.
    tapi kenapa kenyataannya tidak demikian, karena memang terlalu banyak
    orang seperti Shellya Febriana yang hanya bisa berkomentar.
    untuk memproduksi film animasi, ada banyak tenaga, waktu dan biaya yang
    dikorbankan.
    sedangkan untuk menulis komentar, cukup dengan NJEPLAK saja.
    dan menurut saya, Shellya Febriana A. hanya mampu Njeplak saja.
    sebelum Shellya belajar kritik seni, lebih baik anda belajar jadi
    manusia terlebih dahulu.
    jangan membawa nama Jaatimur kemudian misuh-misuh.
    gak kabeh wong jawa timur lambene NJANCUKI.
    sekolahno lambemu mbak

    Note : ini adalah komen ketiga saya yang dihapus.
    kesimpulan : selain asal njeplak, penulis juga masih belum berani terima perbedaan pendapat.

  52. jika Shellya Febriana A. sehebat tulisannya.
    tentunya industri animasi kita sudah sangat maju.
    tapi kenapa kenyataannya tidak demikian, karena memang terlalu banyak
    orang seperti Shellya Febriana yang hanya bisa berkomentar.
    untuk memproduksi film animasi, ada banyak tenaga, waktu dan biaya yang
    dikorbankan.
    sedangkan untuk menulis komentar, cukup dengan NJEPLAK saja.
    dan menurut saya, Shellya Febriana A. hanya mampu Njeplak saja.
    sebelum Shellya belajar kritik seni, lebih baik anda belajar jadi
    manusia terlebih dahulu.
    jangan membawa nama Jawa timur kemudian misuh-misuh.
    gak kabeh wong jawa timur lambene NJANCUKI.
    sekolahno lambemu mbak

    Note : ini adalah komen ketiga saya yang dihapus.
    kesimpulan : selain asal njeplak, penulis juga masih belum berani terima
    perbedaan pendapat.

  53. jika Shellya Febriana A. sehebat tulisannya.
    tentunya industri animasi kita sudah sangat maju.
    tapi kenapa kenyataannya tidak demikian, karena memang terlalu banyak
    orang seperti Shellya Febriana yang hanya bisa berkomentar.
    untuk memproduksi film animasi, ada banyak tenaga, waktu dan biaya yang
    dikorbankan.
    sedangkan untuk menulis komentar, cukup dengan NJEPLAK saja.
    dan menurut saya, Shellya Febriana A. hanya mampu Njeplak saja.
    sebelum Shellya belajar kritik seni, lebih baik anda belajar jadi
    manusia terlebih dahulu.
    jangan membawa nama Jaatimur kemudian misuh-misuh.
    gak kabeh wong jawa timur lambene NJANCUKI.
    sekolahno lambemu mbak
    Note : ini adalah komen ketiga saya yang dihapus.
    kesimpulan : selain asal njeplak, penulis juga masih belum berani terima perbedaan pendapat.

  54. Saya sebelumnya sudah membaca review tersebut. Alasan utama saya turut mengomentari adalah karena teman setongkrongan saya banyak yang bergerak di bidang animasi kreatif (animator indie). Jadi, saya sedikit banyak tahu tentang seluk beluk di bidang yang mereka geluti tersebut, meski tidak secara mendetail. Saya komen disini pun setelah semalam sempat ngopi-ngopi dan ngrobrol santai dengan mereka yang juga telah membaca review tersebut…

    Dari hasil pendangan saya pribadi, memang setiap orang berbeda dalam
    menanggapi dan menyikapi kritik. Kritik adalah hal yang membangun, tapi
    jangan lupa kapasitas kritikus itu sendiri juga harus kredibel dan
    reliable (dapat diandalkan). Apalagi ini menyangkut seni, dan dalam hal
    ini kritikus tersebut telah lupa poin mendasar bahwa apapun seni itu
    (mau musik, desain, drama, dance, dan juga tak terkecuali animasi)
    adalah satu bidang yang amat spesifik, mendetail, dan banyak unsur
    teknis di dalamnya. Karena itulah, lazimnya seorang art critic memang
    harus memiliki knowledge yang mumpuni di bidang yang ia kritisi (tak
    jarang kritikus itu juga seorang pekerja seni di bidang tersebut; atau
    minimal pernah menggeluti seni tersebut dalam waktu yang cukup lama).
    Ini poin yang amat penting, dan si penulis review tersebut jelas tidak
    termasuk di dalamnya, karena pengalaman dia di bidang animasi yg “nol
    putul” (ini fakta!, bukan opini).

    pertanyaannya:
    -jadi, apakah itu bisa disebut review? iya, sudah pasti. Tulisan itu merupakan review dari sebuah karya.
    -apakah sang kritikus orang yang terjun langsung dan bergelut di bidangnya? tidak

    Dari pertanyaan-pertanyaan diatas maka sudah jelas dapat disimpulkan bahwa
    review itu sebenarnya tidak lebih dari sebatas “opini dari sebuah karya
    oleh si penulis”. Tak ubahnya kita, sebagai masyarakat umum, yang
    mengkritisi film box offce yang sering kali kita tonton bersama
    kawan-kawan kita, semacam: Avengers, Captain America, Titanic, Fast
    Furious, Minions dll. Ada sebagian dari kita yang mengkritisi hal berbau
    teknis. Misalnya: ada special effect yang miss dari suatu adegan,
    loop-hole (dalam bahasa sederhana: “tumpang-tindih”) pada timeline
    cerita, animasi yang kurang menggebrak atau bahkan yang cuma sekedar
    ngomong: “Wah, film’e khayal”…..

    Untuk mempersingkat poin saya ini, saya ambil contoh sederhana saja: apakah
    mau Dream Theater mendengarkan review album terbarunya dari Andhika
    “Kangen Band”?
    coba bisa dibayangkan? lah padahal mereka bergelut di bidang yg sama, yaitu industri rekaman musik.
    Loh kenapa kok dianalogikan seperti itu? karena pastilah yang namanya
    kritik jelas ditujukan pada orang atau karya dari seseorang yang sedang
    ia kritisi. Lantas bagaimana menurut pendapat si pembuat animasi
    tersebut setelah membaca review dari penulis: sudah bisa ditebak.
    mengutip kata salah satu art director di film tersebut yang kebetulan
    ikut nimbrung bareng bersama kawan-kawan saya tadi malam: “Owalah, yoh
    ora popo..jenenge opini masyarakat bro…ono sing seneng ono sing
    ora…sing penting iso mlaku terus aku duwe karya iso di apresiasi, yo
    wis untung….jaman saiki, tambah uaaangeeel terjun nak dunia
    animasi…..mergone akeh faktor…sing utama mergo peminat.e sitik,
    masyarakat’e dewe yo kurang apresiatif…ditambah maneh kerjo ngene iki
    duwit’e ora sepiro”.

    Yang perlu digarisbawahi adalah (mengutip kata dia) “OPINI MASYARAKAT”. Dia
    tahu.. mengapa? karena yg menulis adalah bukan seorang art critic…lah
    kok bisa? ya sebabnya udah saya tulis panjang-lebar diatas. Maka review
    itu hanya jadi “selentingan”, sebatas satu dari sekian ribu masyarakat
    umum yg beropini tentang film tersebut.

    Jangan skeptis dulu dan menganggap saya membela si pembuat animasi, menurut
    saya ada banyak hal yang bisa dijadikan masukan berharga dari review
    tersebut. Yaitu si penulis sangat kritis terhadap plot dan alur cerita.
    Termasuk seluk-beluk sejarah Surabaya era perjuangan kemerdekaan.
    Detail-detail yang luput seperti ini bisa jadi bahan rujukan untuk karya
    selanjutnya. Toh meskipun, pada dasarnya secara garis besar terdapat
    perbedaan antara film layar lebar dan film animasi, terutama mengenai
    penggambaran karakter, penokohan, serta latar belakang ceritanya. Dan
    menurut saya, mengingat ini adalah film animasi yang secara sengaja
    lebih ditujukan untuk masyarakat dengan usia muda (mulai dari
    anak-anak), detail-detail seperti itu tidak jadi masalah.

    Jadi menurut saya, semua hal yang berbau “kurangnya detail-detail” dalam
    film tersebut memang dapat di jadikan bahan kritisi. Saya setuju dengan
    opini si penulis. Namun, sekali lagi yang perlu di ingat adalah ini film
    animasi, maka kritisi tersebut kurang sesuai karena seni animasi bukan
    sebuah karya yang realis, dimana di tuntut pengamatan yang mendetail
    terhadap suatu obyek sebagai bahan acuan dalam story plot suatu cerita
    faktual. Tentu beda cerita jika kritisi itu ia tujukan untuk film
    non-animasi, maka hal itu TEPAT dan SESUAI (jangan salah mengartikan,
    kedua kata ini beda makna).

    Kesimpulan akhirnya, yang bisa kita lakukan sebagai masyarakat umum adalah selalu mensupport industri kreatif kita sendiri. Kalau bukan kita, terus siapa lagi?
    karena saya sendiri sempet terjun di industri / scene indie, jadi saya paham
    betul bagaimana kerasnya “hidup” di ranah tersebut. Kritis boleh tapi
    dengan cara yg membangun. Saya sendiri sangat miris membaca gaya bahasa
    penulis yg terkesan hyperbola, mungkin supaya menarik minat pembaca. Hal ini terlihat dari judulnya. Entah demi menarik viewer atau bagaimana.
    Serta banyak lagi penggunaan kata daerah yg tak pantas untuk
    dipublikasikan di pewarta berita sekaliber nasional. Saya juga tidak
    paham, mungkin kata-kata tak pantas itu dengan sengaja diselipkan guna
    mendeskripsikan rasa geram atau kekecewaan penulis terhadap film tsb.
    Bagaimanapun juga, hal ini sangat tidak pantas dan tidak semestinya,
    seolah-olah kritikus tidak paham mengenai etika citizen journalism. Saya
    terkejut, mengingat seperti kata Mas Diro: “…Penulis artikel tersebut
    setahuku udah nulis banyak karya tulisan yang udah terbit di banyak
    media online”.

    Tulisan saya ini tak lain juga buat saling mengkritisi, mau berdebat panjang
    lebar tentang bagus atau tidaknya suatu karya adalah hal yang percuma
    karena itu sangat subyektif. Saya tidak mempermasalahkannya. Hak anda
    untuk suka atau tidak suka akan sebuah kaya. Tapi yang jelas untuk
    mengkritisi sebuah karya seni tidak bisa dikesampingkan banyak faktor.
    Karena seperti yang sudah saya utarakan diatas, seni adalah hal yang
    spesifik / mendetail. Jika hanya melihat dari satu sudut pandang saja
    maka betapa terbatasnya kita melihat wujud seni itu sendiri, apalagi
    mengkritisi hal-hal yang bersifat non-teknis yang ujug-ujug tidak sesuai
    pada tempatnya.

    Plus yang paling disesalkan, kata-kata tak pantas yang sengaja di jadikan
    “bumbu” si kritikus guna menarik viewer yang sejatinya itu pun masih
    sebatas opini pribadi dia belaka. Dengan bersenjatakan kata-kata tak
    pantas itu sebagai judul, maka sengaja ia perlihatkan ke para pembaca
    yang banyak di antaranya “terkecoh” akibat penggiringan opini publik
    yang ia buat, baik secara sadar maupun tidak.
    Saya yakin, banyak diantara pembaca yang dalam bahasa Jawanya, “Ladalah, tiwas tak klik. Tibak’e isine mung ngene tok”.
    Ini yang saya maksud dengan kritis akan suatu karya seni tapi tidak sehat,
    salah kaprah, apresiatif namun dengan cara yang tidak pantas. Jangan sampai untuk kedepan nantinya anda di cap seperti kata peribahasa TONG KOSONG NYARING BUNYINYA.

    • sependapat, garisbawahi ini
      “Plus, yang paling disesalkan, kata-kata tak pantas yang sengaja di jadikan
      “bumbu” si kritikus guna menarik viewer”

    • “Jangan sampai untuk kedepan nantinya anda di cap tong seperti kata peribahasa TONG KOSONG NYARING BUNYINYA” nice advice mas tapi bukan lg jangan sampai ke depannya, dari dulu ini orang yang namanya shellya febriana a ini memang udah jadi bahan olokan dan tong kosong di kampusnya dan orang sekelilingnya mas. Tanya aja sekarang dia umur berapa, sudah rampung belum kuliahnya, punya kerjaan apa nggak?. Nol kosong gak berprestasi, gak ada sumbangsihnya buat negara selain kata-kata kasar dan asal njeplak yang keluar dari mulutnya

  55. memang, lebih mudah untuk menjatuhkan daripada membangun. seperti artikel anda, lebih ke kritik menjatuhkan daripada kritik membangun. artikel ini seperti cuma buat ngedongkrak rating anda, biar meledak dan semacamnya, hihihi jangan jadi kritikus asal jeplak tanpa solusi 🙂

    • Disekolahno mas, tapi deweke sekolah puluhan tahun durung lulus, biasa pengacara, pengangguran banyak acara. Yo iki acarane nulis artikel nyinyiran gini ben terkenal

  56. Memang sekarang lagi booming nih film BoS yang mengangkat peperangan Surabaya 10 Nopember 1945.

    Salut sama yang kasih kritik ini, cuman bisa bilang ” Jancok, kritikmu suroboyoan tenan Ning” celetukan-celetukan khas Surabaya lebih terasa di artikel ini dibanding dialog yang ada di Film BoS. Waktu sebelum launching perdana di Indonesia, kami juga sempat promosiin film ini juga lho yang banyak mendapat penghargaan dari luar negeri sampe2 ceritanya Disney ikutan bantuin nih film http://www.ceritasurabaya.com/2015/08/keren-disney-bantu-film-battle-of.html.

    Terlepas dari penghargaan yang diberikan oleh orang luar, memang beberapa point di artikel ini benar, harusnya melibatkan lebih banyak Arek-Arek Suroboyo, setting tempat dan lokasi serta pelafalan dialognya kudune dipertimbangkan secara serius agar film ini benar2 terasa Suroboyonya itu seperti Judulnya. Saya rasa kritikan Ning Shellya bagus banget jadi masukan bagi film2 Indonesia selanjutnya baik animasi atau bukan yang ceritanya mengangkat satu daerah tertentu.

    Namun diluar itu semua, kami merasa berterima kasih dengan adanya film ini sedikit banyaknya sudah mengenalkan Surabaya ke dunia. dan apresiasi harus tetap diberikan kepada siapapun yang berkontribusi di film ini. Karena harus kita sadari tidak ada awal yang sempurna, semoga film ini bisa menjadi AADC nya film Animasi di Indonesia.

    • Ijinkan saya mengomentari poin terakhir, Tuan, “Namun di luar itu semua, kami merasa berterima kasih dengan adanya film ini sedikit banyaknya sudah mengenalkan Surabaya ke dunia.”

      Posisi Surabaya dalam literatur modern dan juga pop-kultur cukup penting. Bertolt Brecht, seorang dramawan Jerman, menulis lagu yang berjudul Surabaya Johnny dalam Komedi-Musikalnya (https://en.wikipedia.org/wiki/Happy_End_(musical)). Dalam film King Kong (2015), nama kapal yang mengangkut rombongan film-maker ke pulau terpencil di mana King Kong ditemukan, bernama “Soerabaia”.

      Dunia sudah cukup mengenal Surabaya. Kota ini telah menjadi salah satu pusat perdagangan yang sangat strategis sejak jaman Kolonial. Adalah orang-orang dari seluruh penjuru dunia yang berbondong datang ke Surabaya, bukan sebaliknya. Sekedar “memperkenalkan” Surabaya menjadi sebuah usaha yang kadaluarsa, kita tidak sedang terasingkan dari dunia.

      • Terima kasih mas Kharis atas koreksinya, mohon maaf kalau ada penggunaan bahasa yang kurang tepat. Masih harus banyak belajar lagi.

  57. “Karya anak bangsa” sebagai tagline jawara untuk mengajak orang2 nonton film ini terhitung paten. Walau beberapa temen animator (mungkin termasuk saya) jujur kurang tertarik. Kalaupun pengen cuma karna penasaran. Seharusnya film2 indo yg melibatkan cg animasi dari dulu mesti ada “karya anak bangsa” supaya laris. Tapi boleh juga untuk pembuka jalan film animasi yg lain. Dengan syarat, tolong kualitasnya ditingkatkan. Terlepas dari semua itu, saya juga mau dong dikodein mbak shellya ini.

  58. Tapi lek kritike koyok ngene, wong2 yo maleh aras2en ndelok e -_- yo untung2an pisan ono sing iso ndadikno sampe wujud film bioskop. Gak film2 pendek setengah jadi.

    Lek samen pingin ngritik jor-joran ngene, kudune samen pm ae rumah produksine, mbakyu: “Film samen iku kurang iki iku iki iku. Tulung dibenerno. Cek luwih kroso suroboyone.”

  59. Dari keprihatinan tulisan diatas….sy lebih prihatin dengan orang2 yg cuman bisa protes doang..tp kontribusinya cuman sebatas mengkritisi aja….. kasihan…. negara ini hanya disesaki oleh orang2 yg cuman bisa beretorika tanpa ada karya nyata… kekurangan teknis dalam film ini menurut sy masih dalam kewajaran sesuai dgn kemampuan kelasifikasi animasi Indonesia….tp semangat utk memberikan kontribusi utk film animasi Indonesia patutlah di acungi jempol….

  60. aku sih salut ama film Battle of Soerabaja, yg membuat salut bukan makna yang terkandung dalam film, atau nasionalisnya akan tetapi salut karena mendapat banyak dukungan dan lagi proses dubbing bioskop luar negri, klo dibilang sukses film ini emang sukses, sukses dalam meraup RUPIAH, tp klo dinilai dari segi nasionalis yang sebenarnya ingin dijadikan pesan moral dalam film ini, aku anggap sih produk gagal, tapi 2 jempol dah bt ni film, nb. semakin banyak pro dan kontra maka semakin tinggi ratenya, rate n kualitas mn yang jadi pilihan kalian?? lol

  61. Ini postingan ter TULUL yang pernah saya baca.
    sepertinya orang” seperti ini masih banyak di Indonesia yang pikirannya sempit kaya orang ini.

    Saya pribadi emang ga cocok dengan marketing BoS yang cara penyampaiannya seperti itu, itu membuat image yang sangan buruk, bahkan membuat ilfil. tapi kalau orang ini berkomentar tentang cerita dan detail film nya, aku rasa ga pantas. Emang orang yang posting ini udah buat karya apa ??? Cuma komentar cek cok doang tapi skill AMPAS saya kira.

    Film ini ber Genre Fiksi, bukan Dokumenter jadi kalau ada cerita atau detail yang ga sesuai ya wajar aja kalau ada yang dirubah. sEKEPENAKE SING GAWE KARO SING NDANAI. Kalau mau detail filmnya sesuai keinginanmu yang Buat sendiri pake uangmu, pake orang – orang SU ROBOYO yang katanya bisa bikin film lebih bagus dari ini (hahaha,,,,ENTUT KUCING).

    Ni orang yang bikin Post pernah liat film ga si ???

    Trus kalau dia liat film yang diliat apanya ???

    Survey dulu sebelum komentar saya kira.

    Pernah nonton Film “Abraham Lincoln Vampire Hunter” ???

    ni saya kasih link filmnya https://www.youtube.com/watch?v=wZp7eBStN1U

    Entah orang ini pernah liat atau engga. film ini juga ga nyata tapi membawa karakter nyata dan sedikit perjuangannya. Sukses di pasar

    Intinya masih banyak orang TULUL di indonesia yang kaya gini, jangan hiraukan. Maju terus Animasi Indonesia.

  62. Sah-sah saja bila ingin memberikan penilaian pedas dan tajam di depan publik agar industri kita semakin menggeliat.

    Semangat para kritikus untuk memberikan cambuk agar karya selanjutnya menjadi lebih baik pun bisa dipahami sebagai bagian dari proses pengembangan diri.

    Hanya saja, kita perlu paham bahwa industri animasi kita masih sangat belia bila dilihat dari bilangan film animasi 2D yang sudah pernah tayang di layar perak. Kalau mau merujuk bahwa “Battle of Surabaya” (2015), adalah salah satu karya animasi 2D layar lebar pertama bangsa kita, tapi berhasil memperoleh apresiasi positif dan beberapa penghargaan termasuk dari luar negeri, menunjukkan bahwa film ini bukanlah karya main-main, apalagi sekedar film asal jadi.

    Effort dari para leader yang sudah membidani film inipun juga tidak bisa dipandang sebelah mata, karena mampu menghimpun 180 animator yang terdiri dari mahasiswa, dosen, alumnus, serta beberapa animator yang memang profesional di bidangnya untuk mau terlibat di dalamnya hingga proyek ini selesai.

    Bila kita mau melihat dari sisi negatifnya, maka kita perlu ingat bahwa hampir setiap judul film punya bloopers atau goofs. Film animasi sekelas “Spirited Away” (2001) ataupun “Up” (2009) sekalipun, tetap saja menyimpan celah munculnya kesalahan adegan.

    Tidak tepatnya pemakaian Dialek Suroboyo memang terasa mengganggu, apalagi bila penontonnya asli Arek Suroboyo. Tapi kalau kita mau melihat kenyataan bagaimana bahasa dipakai di dalam film, lihatlah contoh di dalam lebih dari 20 film-film tentang Yesus sejak “The Life and Passion of Jesus Christ” (1902) hingga saat ini, nyatanya baru “The Passion of The Christ” (2004) yang berupaya menggunakan bahasa aslinya SEPRESISI MUNGKIN dengan riset yang dalam, yaitu menggunakan Bahasa Latin dan Bahasa Aramaic yang direkonstruksi dari abad ke 4.

    Kitapun perlu kembali mengingat bahwa dalam film “The Last Emperor” (1987) yang menggunakan setting di Forbidden City, juga porsi bahasa Chinanya masih terasa sangat kurang mendominasi film tersebut. Belum lagi ratusan film-film sci-fi dengan alien yang masih tetap menggunakan Bahasa Inggris dibandingkan menggunakan bahasanya sendiri.

    Kurang sesuainya film ini dengan sejarah jangan sampai membuat kita lupa bahwa dalam film-film lain yang bertemakan sejarah, juga banyak kita rasakan jauhnya cerita dalam film dari realitas sebenarnya seperti “Gladiator” (2000) atau “Pearl Harbour” (2001).

    Bukan bermaksud untuk membela habis-habisan film ini, apalagi lantas kemudian menjadi bersemangat nasionalisme buta, hingga harus membujuk bahkan mendesak untuk memilih melihat “Battle of Surabaya” (2015) dibandingkan “Inside Out” (2015) atau film luar lainnya. Tapi kita tetap perlu sadar dan menyadari bahwa film ini merupakan “ADAPTASI” dari kejadian yang mungkin terjadi di masa tersebut.

    Apresiasi mungkin lebih kita butuhkan saat ini, mengingat bahwa ini adalah karya anak bangsa, yang sedikit banyak budaya Hollywood dan Anime ikut mewarnai karya ini, seperti budaya India dan Arab, atau kekayaan Hindu dan Islam yang mewarnai budaya wayang kita.

    Maka menurut hemat saya, dalam menyikapi karya-karya yang masih berupa embrio, prinsip mendidik usia dini yang mengedepankan apresiasi daripada kritik, perlu kita terapkan dalam menyemangati karya pionir ini, sebagaimana balita yang senantiasa diberi semangat ketika belajar berjalan, bukan dicemooh atau dijatuhkan.

    Kritik pedas mungkin diperlukan suatu saat, tapi menurut saya bukan saat ini, di awal animasi layar lebar Indonesia mulai menapakkan kaki.

    Tetap semangat untuk terus berkarya saudara-saudara…!!!

    Salam Animasi…!

  63. Dari awal mbaca, tak bayangi sing nulis wong kenthir, ireng, dekil.. Ternyata cah ayu bening tur ciamik.. Shellya Febriana dapet salam dari om Agi.. Wong Bandung..
    Tulisannya jancuk tenan.. Ngguya ngguyu ra sampun sampun..

  64. jalan cerita memang jelek.
    tapi gaperlu sampe dihina hina juga kan? tembelek kingkong? sampeyan iso gawe koyo ngene gak? nek iso ayo dibantu gawe le apik, kui ameh didanai disney juga lho.
    disney wae kepincut sampeyan le arek suroboyo asli gak ono menghargaine blas.
    aku asli jogja, duwe konco akeh wong suroboyo pisan . 🙂

  65. ketoke sejarahe ragnar lothbrok sing mempersatukan viking digawe film ditambahi bumbu macem macem, okeh sing menyimpang tapi le do protes ra nganti koyo ngenen

  66. Yah komen saya dihapus, gak papa deh tak posting lagi. Jangan jadi tukang kritik tapi anti kritik mbak… Ojo ngisin-ngisini

  67. hargailah sebuah proses,….bagaiamanapun ini karya anak bangsa.!!!!sedikit berbagi penghargaan kok kayaknya susuh amat !!!! emang omong itu mudah kok!!!!watak orang indonesia gaweane nyacat…bukan mendekat memberikan masukan..!!!!!!

  68. lha itu jawabannya mana kreator surabaya ???
    apa cuma bisa mengkritisi ???
    indonesia sudah bersatu tp kok skrang kliatan terpecah !!
    mengkritisi gak harus mencaci maki
    inilah yang salah kita selalu mencari-cari siapa yang SALAH dan tidak pernah berfikir mencari jln keluar
    apa memperkenalkan sejarah menurut arek surabaya itu salah dan tembelek ??
    jawabanya pasti tidak
    kalau begitu perbaiki ikutlah memperbaiki dan hormati kerya orang lain salam hormat saya juga anak surabaya dan saya yakin anak surabaya bisa berbuat lebih baik

  69. Rek, ojok serius2 ta rek… Sakno lho mbak’e wis ngetik dowo2 gawe MakNews. Jujur rek, aku durung ndelok film iki. Tapi, terlepas teko kekurangan sing onok nduk film iki, aku tetep mengapresiasi kabeh anak bangsa sing wis ngrewangi nglestarikno dan ngleluri sejarahe kutho-tercinta-ne awakdewe kabeh. Intine, rek ayok saling menghargai masio film iki jare mbak penulis’e nasionalisme ala tembelek kingkong, tapi alangkah tembelek-nya awakdewe iki sing arek Suroboyo asli tapi gak gelem nguri-uri sejarah Suroboyo mbarek njogo Suroboyo ben dadi kutho sing isok selalu dibanggakno. Nedho nrimo yo rek. Salam Satu Nyali!

  70. cuk, ngereview isine nyacat thok, arek suroboyo iso gawe koyok ngene iki ker? iki wes lumayan, ditolak akeh stasiun TV malah dadi film box office INDONESIA. su!

  71. sori bukan ikut2an sok komen, tp itu empunya film pak M.Suyanto dulu dosen saya, beliau pernah bercerita, memang film BoS itu tidak segalanya mengambil cerita dari perang surabaya, so contoh saja si Musa, itu hanya aktor fiktif, tidak ada dalam perang surabaya yang sesungguhnya, kemudian Danu dan Yumna juga fiktif, kemudian dari poster dan trailer, kenapa yang lebih di sorot si musa dan yumna, karena film ini memang lebih menceritakan kebranian dan patriot si Musa seorang anak tukang semir sepatu, dengan latar belakang perang di surabaya. kalo soal animasi studio dan animatornya sudah saya liat dengan mata saya sendiri, hingga cara pembuatan.

  72. review apaan nih, yang bikin orang surabaya ya, kok kayaknya gak terima banget yang bikin filmnya orang jawa, kalo gak terima mbok ya yang kreatif animasi ini di buat oleh orang jawa, soalnya orang surabayanya gak nyali buat kerja keras dan ngusahaain bikin film yang latarnya ”rumah” merka sendiri, dan kalo masalah bahasa liat film” yang make sejarah nasional lain, apa bahasanya terlalu ”ke-dulu-duluan” banget, enggak, merka pake bahasa yang mudah diterima sama masyarakat luas, dan ini cerita kan bukan dokumenter yang harus sama persis dengan yang sebenarnya, kalo mau ”ngajak GOBL*K” jangan yang baca gak gitu juga caranya, ternyata ini tho sumber kenapa sumber daya manusia di negri ini masih ancur, ada sesuatu yang bagus malah di bikin keliatan jelek, padahal cuma gara” iri gak bisa buat

  73. “Sayangnya, lokasi gunung-gunungan di Surabaya seperti Gunungsari maupun
    Gunung Anyar belum bisa dijadikan tempat menikmati keindahan kota dari
    ketinggian yang signifikan”

    kalo untuk lokasi ini, di surabaya ada lokasi gunung2an yg kemungkinan dulu (belum byk bangunan) masih bisa dijadikan tempat menikmati keindahan kota dari ketinggian. Lokasi yang saya maksud ada di daerah Pakis (pakis tirtosari, pakis gunung, juga wonokitri dekat radio SS).

  74. kalau saya harus bangga karena ini film animasi buatan anak negeri, ya saya bangga.

    tapi dengan judul seperti itu, ekspektasi kita tentu tidak akan terpuaskan hanya oleh fakta bahwa ini film animasi karya anak negeri thok.

    anak saya aja bilang, ini di surabaya kok orangnya kayak detective conan..!
    (itu jujur kata anak saya yang kelas 5 SD)

    dan, siapalah saya, saya cuma penonton……….!

  75. Lek nuruti karepmu.. Sak indonesia gak bakal paham film iki… Film iku di buat agar org terpaku pada critanya.. Lek koe duwe budget dewe yo ndang gaweo dewe film grammar suroboyo nak festival film.. Angger njeplak ae rek..

  76. ambil kritikane, ambil hikmahe, perbaiki filme, dodolan film iki ning luar negeri, entuk duit akeh, terus investasi nggo film selanjute sing luwih joss, suwe2 rak yo maju industri animasi awake dhewe iki. merdeka!

  77. Shellya endi kowe?? Kok ora metu nak?? Opo pura2 gak ngewoco?? Kenopo kabeh akun sosmedmu di kunci?? Takut di bully?? Ladalah, wani mbully abis2an karyane uwong tapi nek artikel.e dewe nek di bully / di counter-critic malah ndelik…apakah dikau seorang PENGECUT nak?? Ah, apalah dayaku..aku hanyalah seorang penikmat seni yg masih muda dan rupawan :))

  78. Mosok kenek kripik eh kritik super pedes ngene ae wes podo mewek fanboy e, sampek nyinggung ranah personal e penulis review, padahal sing gawe film biasa ae….

  79. Alhamdulillah … masih ada orang belum ngerti … :’)
    Semoga MSV Pictures tetap diberi kemudahan untuk memperbaiki diri …
    Next Movie should be better … 🙂

  80. Yeah, soal animasinya, Ghibli wannabe.. :/ Tapi gak ada komentar lain lah. Ini karya audio-visual. Sori, karya cerita-audio-visual. Siapapun juga bebas menilai. 🙂
    mung.. zaman sekarang, orang bisa nulis pendapat apa aja di dunia maya.
    mung.. zaman sekarang, pendapat bisa jadi bahan bullyan.
    lucu baca komentar2 di bawah yang “berusaha” ngebully.. :3

  81. yang di kritik adalah dari segi cerita, geografis dan realita yang ada… setuju banget kalo emang ternyata ada ketidak-akuratan, harusnya survey-nya bisa lebih mendalam

    tapi kalo dari segi visual, alhamdulillaah sudah ada kemajuan lahh… bisa bikin film animasi kyk gini… walaupun ada bloopersnya…
    toh film sekelas hollywood yang bukan animasi juga masih banyak bloopers-nya 🙂

  82. yaowoh. sakno banget awakmu, Shel. wis usaha nonton, nulis, tetep dipisuhi, dikon nggawe animasi, njuk dikuliti karo kanca kampus.

    semangadh eaph!

    hihi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here