Bagikan

Sudah jamak di Endonesa ini kalau logat Jawa (baca: medok) dijadikan bahan guyonan oreng-oreng Jakateh sono. Biasanya di TV nasional. Kalau logatmu nggak seragam dengan selebriti-selebriti kebanyakan tunggu saja komentar-komentar yang nyerempet bully segera terlontar. Sekurang-kurangnya logat medok itu akan ditiru-tirukan dan kemudian ditertawakan.

Tulisan ini terinspirasi artikelnya Mbak Chairunissa yang sempet ilfil pas denger suara calon suaminya medok (Baca: Cerita Gue Pacaran dengan Arek Suroboyo).

Sekarang dia malah nikah sama cowok medok itu. Kapok koen kuwalat karo wong medok! Tak dungakno ketularan medok. Dan tiga tahun lagi kalau ketemu temen-temennya di Jakarte sana, dianya yang menyapa dulu. “Heii! Gimane kabar loe! Jancok banget dah loe! Rasakno!

Guyon, Mbak. Bojoku yo wong Jakarta. Kalau Mbak enam bulan menikah, saya enam tahun. Selama itu pula saya selalu meracuni dia ngomong yang elek-elek biar medok sekalian. Dan sukses. Yes!

Ini sebenarnya masalah kronis ibu kota yang disebarkan masif melalui media-media mainstream. Media yang memang Jakarta sentris. Semua kalau ga Jakarta ga keren. Parahnya lagi semua budaya kejakartaan itu disebar luas dengan mudah dan gratis melalui televisi.

Jadi jangan heran kalau ketemu anak-anak SMP di lyn jurusan Joyoboyo ngomong loe-gue dengan gaya medok. Contoh: “Eh ntar sore loe iso ga jalan ke TP?”. “Bisa dong, Cyiin”. “Oke kalo gitu ntar tak tunggu di enggok-enggok an yoo…”.

Untung di Surabaya ini ada JTV. Meskipun rodok ngawur lek nerjemahno, saya apresiasi ide mereka sebagai counter culture. Budaya perlawanan terhadap Kejakartaan itu. Sekarang setiap berhenti di traffic light Surabaya peringatan untuk tidak melanggar lampu merah dilantunkan dalam bahasa jawa Suroboyoan. Yes! Dadaaahh, lo-gue.

Sebenarnya cara berbicara yang jamak dipakai selebriti-selebriti tanah air (dan juga tanah abang) itu juga bukan bahasan Indonesia baku. Bahasa tersebut adalah hasil akulturasi bahasa Indonesia dan logat Betawi. Tapi anehnya kalau ada orang yang berbicara Betawi dengan logatnya yang khas kenapa tidak seorangpun menyebut dia medok?

Ya, bahasa Indonesia sudah disepakati sebagai bahasa nasional. Soal logat dalam penyampaiannya tidak ada satupun undang-undang, peraturan pemerintah, perda, permen, per kopling dan lain-lainnya yang mengatur. Jadi ya BEBAS, LEPAS, KUTINGGALKAN SAJA SEMUA BEBAN DI HATIKU. Lagune Iwak Pe iki, eh, Iwa K. Aseek.

Kalau saudara-saudara kita dari Indonesia timur punya logat berbeda dari dialog di sinetron Ganteng-Ganteng Serigala ya kita apresiasi. Begitu juga dari Aceh atau Makassar. Semuanya Indonesia. Bisa ga membayangkan kalau dulu founding parents kita ternyata bersepakat menjadikan Bahasa Jawa sebagai bahasa nasional mungkin gue-elo mu itu yang sekarang ini dibilang medok.

Dadi yo, Rek. Andai kata satu hari nanti kalian mengalami pengalaman yang mirip-mirip suaminya Mbak Chaerunissa itu, ojo sampe minder, ojo isin. Kalau kalian ditanya sama cowok atau cewek yang kenalan di Facebook, BBM, Twitter, atau Friendster lalu telpon-telponan, “Eh kamu medok banget sih?” Jawaben, Rek, “Nek aku medok, kon kate lapo?”. This is the power of MEDOK, Rek.


Bagikan

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here