Bagikan

MakNews – Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi memudahkan segalanya. Baik kejahatan, maupun kebaikan. Baik kenakalan, maupun kerajinan. Semua-muanya mudah!

Termasuk, mencari konten pornografi. Gampang bianget! Saya ingat, dulu waktu masih SD atau SMP, konten pronografi itu sulit didapat. Mungkin hanya bisa dilihat via laser disc atau video compact disc.

Melihatnya pun sembunyi-sembunyi. Itu pun, yang bisa mengakses, wong gerang thok! Arek cilik melu ndelok? Saduk ndase! Kalaupun sempat lihat, walah… awak iki langsung adem panas. Gupuh gak karuan. Magis memang.

Lhah saiki? Di ponsel saja berhamburan dan bisa ditransfer kesana kemari. Ruwetlah. Arek cilik wes mbadok barang porno. Biasa! Kabar beritanya pating keleler di media massa.

Kejahatan seksual yang dimotori ABG-ABG kecil, yang terpotret media massa, umumnya diawali dari menonton tayangan porno. Faktanya demikian. Tidak percaya? Silakan cek sendiri. Tidak mungkinlah saya yang mengecekkan untuk antum. Tambah sip ae koen, lhak an.

Bertolak dari wacana di atas, apa yang dilakukan oleh pelajar SMP dan SMA di lingkup Pengurus Daerah Muhammadiyah Surabaya Selasa (14/6) bisa dimaklumi sebagai gerakan jujur dari rakyat.

Seperti dilansir www.detik.com, ratusan pelajar menggelar aksi di depan Gedung Negara Grahadi, Surabaya. Dalam aksinya, mereka mendesak google dan youtube menutup konten pornografi.

“Kami bukannya menolak google maupun youtube. Tapi kami meminta konten porno di situs segera diblokir,” kata Dikky Syadqomullah, Sekretaris Majelis Tabligh Pengurus Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Surabaya di acara tersebut.

Ia menerangkan, fenomena akhir-akhir ini yang terjadi di Indonesia sangat menyayat hati. Banyak kasus kejahatan seksual yang dimotori anak di bawah umur.

Kabarnya, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Anak (PPA) Yohanna Yembise menyebutkan, saat ini ada sekitar 25 ribu gambar pornografi yang terkait dengan anak, beredar di dunia maya. Termasuk, lewat youtube dan google.

Kondisi tersebut dianggap sudah mencapai titik darurat seperti krisis terhadap narkoba dan minuman keras. Anak-anak kecanduan pornografi seperti kecanduan narkoba.

PD Muhammadiyah Surabaya memberikan tenggat waktu 7 x 24 jam kepada Google dan Youtube yang beroperasi di Indonesia untuk memenuhi tuntutan mereka. “Kami juga mendesak kepada Menkominfo agar menindak tegas,” tandas Dikky. Jika dalam waktu 7 x 24 jam belum ada langkah konkret, keluarga besar persyarikatan Muhammadiyah akan menggelar aksi lebih besar lagi.

Mungkin sebagian kita berdalih “The Remote is in our hand”. Kalau tidak suka  konten porno, ya jangan buka situs porno. Tapi tentu, persoalan yang disebut Ibu Menteri PPA tidak sesederhana remote tv. Begitu kompleks! Korbannya, menjalar tidak karuan.

Bayangkan, kalau anak-anak yang jadi sasaran, masa depannya benar-benar terancam (bahkan mungkin langsung rontok). Apakah suatu saat, bila ada kerabat kita yang jadi korban (na’udzubillah), kita akan hanya bilang “Ini gara-gara pelaku yang tidak memindah channel di remote-nya,” ah, tidak mungkin, bukan?! (*)


Bagikan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here