Bagikan

MakNews – Pembongkaran rumah radio Bung Tomo yang terjadi pada 3 Mei 2016 lalu menimbulkan kegeraman di kalangan masyarakat. Yo opo gak geregeten, rumah bersejarah yang telah ditetapkan menjadi cagar budaya berdasarkan Surat Keputusan Walikota Surabaya pada 1998, dengan seenaknya dibongkar untuk kepentingan pribadi. Banyak masyarakat yang kemudian melancarkan protes kepada Pemkot. Namun, permasalahan ini sepertinya akan mengambang dan tak ada solusi yang pasti.

Untuk menyegarkan ingatan kembali akan kasus pembongkaran ini, ada baiknya kita menyimak hal-hal penting yang layak untuk diketahui.

Rumah Radio Bung Tomo

Rumah di Jl. Mawar 10-12 Surabaya ini merupakan tempat tinggal Pak Amin pada tahun 1935. Tempat ini merupakan studio Pemancar Radio Barisan Pemberontakan Republik Indonesia (RPPRI) Bung Tomo. Di tempat ini juga Ktut Tantri, warga negara Amerika, menyampaikan pidatonya sehingga perjuangan Indonesia bisa dikenal di luar negeri. Sebelum jadi markas radio, rumah ini pernah menjadi asrama Nederland Indische Landbouws Maaschapij (NILM), perusahaan di bidang perkebunan. Seorang penduduk Surabaya bernama Aminhadi kemudian membelinya dan kemudian mewariskan kepada anak-cucunya. Nyaris tiap tahun, rumah ini dikunjungi untuk napak tilas 10 November, pertempuran heroik yang menelan ribuan korban jiwa dan kemudian diperingati sebagai Hari Pahlawan.

Tidak semua bangunan dibongkar

Bangunan rumah radio Bung Tomo ternyata tidak semuanya dibongkar. Masih ada sisa bangunan tua yang bernomor 12. Lokasinya tepat di belakang rumah bernomor 10 yang saat ini sudah rata dengan tanah. Namun, kondisinya sangat mengenaskan. Beberapa bagian dinding sudah lapuk dan retak. Sementara plafon dan sebagian atap sudah jebol. Di pekarangan rumah tumbuh lumut dan rumput liar yang menandakan bangunan tidak pernah dirawat.

Pelaku pembongkaran

Semua bangunan tua di lokasi telah dibeli dengan harga tinggi oleh pihak Plaza Jayanata. Rencananya, rumah akan dibongkar untuk lahan parkiran mal. Keluarga Hurin yang sebelumnya tinggal di rumah itu pindah ke Pondok Nirwana, Rungkut.

Tindakan Pemkot Surabaya

Pemkot melalui Satpol PP menyegel lokasi pembongkaran. Pagar seng berwarna hijau dengan tali kuning platik kuning bertuliskan Satpol Line tampak di lokasi bangunan. Terdapat pemberitahuan dengan tanda silang berwarna merah bertuliskan “Pelanggaran Perda Kota Surabaya, nomor 5 tahun 2005, tentang Pelestarian Bangunan/Lingkungan Cagar Budaya”. Pemkot resmi meminta pembongkaran dihentikan.

Rumah tidak pernah dapat keringan pajak

Narindrani, salah satu ahli waris rumah, mengaku tidak pernah mendapatkan fasilitas apapun dari Pemkot dalam hal perawatan rumah. Pihaknya tidak mendapat diskon Pajak Bumi dan Bangunan (PBB). Padahal seharusnya ada diskon kepada bangunan cagar budaya sesuai Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 2011. Tahun 2015, Narindrani harus membayar pajak sebesar Rp 20 juta untuk bangunan itu. Akibatnya, dia kemudian menjual bangunan cagar budaya itu kepada PT Jayanata dengan alasan tidak mampu membayar pajak.

Pelaku pembongkaran dilaporkan polisi

Sejumlah tokoh Surabaya termasuk putra Bung Tomo, Bambang Soelistomo, melaporkan kasus pembongkaran kepada Polrestabes Surabaya, 9 Mei 2016. Pelaporan dipimpin pengacara Trimoelja D Soerjadi yang juga Ketua Forum Arek Suroboyo. Mereka menyayangkan adanya penghancuran bangunan yang dilakukan pihak swasta dan digunakan sebagai sarana umum.

Polisi bentuk dua tim sidik kasus pembongkaran

Polisi membentuk dua tim untuk menyelesaikan kasus yang mendapat sorotan masyarakat ini. Tim pertama mengurusi sejarah bangunan dan tim kedua mengurusi kasusnya. Polisi beralasan jika dikerjakan dalam satu tim, maka proses penyidikannya akan berjalan lambat. Sejauh ini, polisi telah memeriksa pejabat Pemkot yaitu Wiwik Widyati, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Pemkot Surabaya dan dua petugas satpol PP yang memasang garis pembatas di lokasi bangunan. Polisi juga sudah menggelar olah TKP terkait pembongkaran. Tim Polrestabes juga melakukan pengambilan data-data awal dengan bekerjasama dengan Balai Pelestarian Cagar Budaya.

Pembongkar bangunan terancam hukuman 15 tahun penjara

Pemkot menilai PT Jayanata melanggar aturan karena membongkar bangunan cagar budaya. Berdasar UU no 11 tahun 2010 tentang cagar budaya, setiap orang yang sengaja merusak cagar budaya akan dipidana penjara selama 1 hingga 15 tahun. Pelaku juga akan didenda paling sedikit Rp 500 juta dan maksimal Rp 15 Miliar.

PT Jayanata siap bangun kembali rumah radio Bung Tomo

PT Jayanata, pembeli lahan dan bangunan, mengaku siap membangun kembali rumah yang telah mereka hancurkan. Menurut Lilik Wahyuni, Store Manager PT Jayanata, pembangunan kembali rumah itu akan mengacu pada rekomendasi Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Trowulan serta Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surabaya.

Risma siapkan seminar untuk atasi kasus pembongkaran

Wali Kota Surabaya, Risma Trimaharani, menyarankan untuk menggelar seminar terkait kasus pembongkaran rumah radio Bung Tomo. Tujuan seminar adalah mendapatkan kajian yang akan menjadi landasan apakah bangunan rumah radio Bung Tomo bisa dibangun kembali atau tidak. Selama menunggu digelarnya seminar, lahan bekas bangunan diputuskan di-status quo-kan tanpa batas waktu. (iwe)


Bagikan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here