Bagikan

SURABAYA – UN-Habitat adalah organisasi sayap PBB yang membahas soal isu-isu permukiman. Mereka menggelar pertemuan setiap 20 tahun sekali.

Pertemuan perdana digelar di Vancouver, Kanada, pada 1976. Pertemuan kedua di Turki pada 1996 di Istanbul, Turki. Dalam setiap pertemuan, mereka akan membahas isu apa yang akan digarap dalam program peningkatan permukiman umat manusia di dunia.

Nah, dalam UN Habitat ketiga yang akan digelar di Ekuador pada 17-20 Oktober 2016, ada beberapa isu yang akan dibahas.  Kebetulan, Kota Surabaya bakal jadi kota tempat persiapan para panitia (Preparatory Committee) untuk acara di Ekuador tersebut.

Sebagai tuan rumah, kita wajib tahu dong apa saja isu yang akan dibahas di UN Habitat nanti.

Tujuan dan strategi UN-Habitat:

UN-Habitat terus mendorong agar kota-kota di dunia memiliki perencanaan dan pengelolaan yang bagus dan efisien. Sebenarnya tidak hanya kota, tapi semua tempat yang menjadi tempat tinggal manusia. Nek gak percoyo, ndang diwoco nang website resmi UN-Habitat.

Kenapa permukiman umat manusia penting untuk dibahas?

Mau tidak mau, “ancaman” di depan mata akan datang. Ledakan populasi, kualitas air dan tanah yang terus menurun, dan pemanasan global. Jika permukiman manusia tidak diatur dengan efektif dan efisien, umat manusia yang akan jadi korbannya. Sebab, mau nggak mau harus diakui bumi yang kita miliki ya cuma satu.

Dengan perencanaan dan pengelolaan yang bagus, organisasi tersebut ingin agar manusia mendapatkan perumahan dan infrastruktur yang layak. Manusia harus diberikan akses yang mudah terhadap pekerjaan dan kebutuhan dasar seperti air, energi, dan sanitasi.

Setuju!

Hal-hal di atas itu sudah menjadi kesepakatan dalam UN-Habitat 1996. Dari situ lantas diputuskan beberapa strategi yang akan dilakukan per enam tahun. Strategi yang dipakai saat ini memiliki masa rentang 2014-2019.

Pada masa 6 tahun itu, ada tujuh isu yang mau dibahas:

Tujuh Isu UN-Habitat 2014-2019:

  • Pengelolaan tanah kawasan perkotaan
  • Perencanaan dan desain kawasan kota
  • Ekonomi kota
  • Pelayanan dasar kota
  • Perumahan dan pengentasan kawasan kumuh
  • Pengurangan risiko dan rehabilitasi
  • Penelitian dan peningkatan kapasitas

Awakmu mesti bertanya-tanya, Rek. Kenopo seng dibahas kok mesti kota? Bukan desa? Sebab, dibanding desa, kota menanggung “nyawa” lebih besar. Atau dengan kata lain, penduduk kota memiliki tingkat kepadatan yang sangat tinggi.

Pada 2050, menurut TIME, sekitar 70 persen populasi penduduk dunia akan tinggal di kota!

Bayangkan betapa besar beban kota-kota di dunia. Jika tidak dikelola secara efektif dengan perencanaan yang matang, kota bisa menjadi barbar, tak teratur, dan warganya hidup tidak efisien (macet, penyakitan, pendapatan ludes buat transportasi).

Makanya, kota-kota di Indonesia dan dunia, termasuk Surabaya, bisa jadi kota gagal dan bangkrut jika tidak dikelola dengan perencanaan yang baik. Kalau kota sudah gagal, wes gak athek negoro-negoroan, Rek. Buyar ae kabeh.

Makane, yok opo nasibe anak cucu awak dewe engkok.

Halah, Cak. Mikirno anak cucu. Sampeyan duwe pacar ae gak! 🙁 #dunanges

 

 


Bagikan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here