Bagikan

MakNews – Mitos pertempuran antara ikan Suro (hiu) dan Boyo (buaya) dikenal sebagai mitos kemunculan nama Surabaya. Pertempuran itu diyakini ada oleh sebagian masyarakat. Namun pertempuran keduanya di dunia nyata jarang terlihat.

Video yang direkam pada April 2016 dari atas sungai di Taman Nasional Garig Gunak Barlu, Australia, menujukkan bagaimana seekor buaya lari dari kejaran beberapa ikan hiu yang ingin merebut makanan yang ada di mulut sang buaya. Makanan yang diperebutkan adalah seekor kura-kura.

Sebelumnya, pertarungan Suro dan Boyo pernah terjadi dan tertangkap dalam sebuah kamera turis. Kali ini turis memotret pertarungan yang jarang terjadi di antara keduanya di Taman Nasional Kakadu, Adelaide, Australia pada 2014. Negeri Kangguru maneh. Ancene…

Hiu air tawar sepanjang 5,5 meter terlihat mencaplok seekor hiu. Turis bernama Andrew Paice bersama pasangan dan putrinya menyaksikan bagaimana Brutus, nama yang diberikan masyarakat lokal kepada buaya itu, berusaha memangsa hiu dan menjadikannya santapan siangnya.

Buaya terlihat membenamkan hiu ke dalam sungai.
Buaya terlihat membenamkan hiu ke dalam sungai.

Pertarungan Suro dan Boyo sempat membuat putri Andrew kaget. Kantor berita lokal menyebut pertarungan itu dimenangkan si buaya, namun Andrew tidak yakin.

“Saat kami melintas, buaya terlihat berada di pinggir sungai dengan hiu ada di mulutnya. Ketika perahu kami mendekat, hiu itu meronta dan berusaha masuk ke sungai. Ketika mulut buaya menyentuh air sungai, saat itulah hiu itu melepaskan diri. Tidak ada darah yang terlihat. Hiu itu kemungkinan masih hidup,” kata Andrew.

Mitos Suro dan Boyo memang terus menjadi cerita legenda di masyarakat Surabaya. Ada banyak versi mengenai asal-usul mitos itu. Ada yang menyebut jika nama Surabaya berasal dari kisah pertarungan hidup mati antara Adipati Jayengrono dan Sawunggaling. Konon setelah mengalah tentara Tartar dari Tiongkok, Raden Wijaya mendirikan sebuah kerajaan di Ujung Galuh dan menempatkan Adipati Jayengrono untuk memerintah di daerah itu. Jayengrono lama-lama menguasai ilmu buaya sehingga menjadikannya semakin kuat dan berpotensi mengancam kedaulatan Majapahit. Untuk menaklukkannya, Sawunggaling yang menguasai ilmu Suro diutus. Pertarungan keduanya terjadi di pinggir Sungai Kalimas dekat Peneleh. Pertarungan itu berlangsung tujuh hari tujuh malam. Pertempuran itu berakhir tragis karena keduanya meninggal kehabisan tenaga. (iwe)


Bagikan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here