Bagikan

Apa berita politik paling  umup di Surabaya saat ini? Anda benar, Pilwali yang akan diundur hingga 2017 dan Risma yang terancam tidak bisa ikut kontestasi pada tahun tersebut.

Setelah sempat di-PHP partai Demokrat-PAN saat Pak Haries Purwoko “kabur” dalam pendaftaran calon wakil wali kota mendampingi Dhimam Abror, publik dapat sedikit lega. Pasalnya, dua partai itu punya jagoan baru: Rasiyo-Dhimam Abror. Horeee!

Pasangan itu digadang-gadang menjadi penantang incumbent Risma-Wishnu Sakti.

Lah dhalah, tidak seperti badai yang pasti berlalu, ternyata PHP dua partai itu masih belum berlalu. Rasiyo-Dhimam Abror dinyatakan tidak memenuhi syarat oleh KPU Surabaya.

Opo’o seh partai-partai iku nggak nyiapno syarat-syarat dengan seksama dan dalam tempo sesingkat-singkatnya? Terlepas dari langkah hukum yang akan ditempuh mereka, kejadian ini tetap menunjukkan kalau ada proses yang kurang rapi.

Di sisi lain, oleh karena hanya punya satu calon, dengan amat berat hati, wahai arek-arek Suroboyo yang ngguanteng dan uayu, Pilwali kemungkinan besar akan benar-benar diundur pada 2017.

Iyo seh, KPU memperpanjang masa pendaftaran pada 6-8 September mendatang. Dan sebagai warga yang baik, tentu perlu melakukan doa bersama agar Pilwali dapat dilaksanakan tepat waktu.

Dari PKB kembali mencuat sosok Syamsul Arifin dengan pasangan yang masih tanda tanya. Dalam hitungan hari ke depan, pasti muncul wacana pasangan-pasangan lain.

Ya, mudah-mudahan tidak hanya berstatus wacana atau janji manis.

Bu Risma vs Pakde Karwo

Saat Pak Haries Purwoko tidak jadi mendaftar dengan alasan tidak ada restu keluarga, gosip tentang kerenggangan hubungan Risma-Soekarwo kembali mengemuka. Mereka berdua kerap tidak beriringan dalam menjalankan pemerintahan.

Salah satunya adalah soal pembangunan proyek tol tengah kota. Risma emoh diSurabaya ada tol yang biayanya memberatkan warga. Sedangkan Pakde Karwo ngotot dengan alasan itu sudah menjadi amanat pemerintah pusat.

Kalau Risma tidak jadi wali kota lagi, apakah mega proyek dengan anggaran triliunan itu kembali bergulir? Bisa jadi iya.

Memang, untuk mengisi kekosongan kursi wali kota dalam rentang September 2015-Februari 2017, Pakde Karwo berwenang menunjuk pejabat sementara (meski harus tetap mendapat restu Mendagri).

Namun, bukankah setelahnya Pilwali akan kembali berjalan dan Bu Rismabelum tentu ikut? Dan, sosok wali kota masa depan itu bisa saja bertolak belakang dengan Si Doktor Honoris Causa. Mungkin saja dia mau meneken persetujuan tol tengah.

Nah koen, sido onok sing digusur maneh, sido tambah macet nang sekitar pintu-pintu tol iki, Rek!

Risma belum tentu masih punya pamor kuat dua tahun mendatang karena dia sudah tidak punya “panggung”. Di samping itu, PDI Perjuangan belum pasti kembali mengusung Risma.

Sudah menjadi rahasia umum, partai berlambang banteng bercongor putih ini kerap tidak sepaham dengan Sang Wali Kota Perempuan.

Bahkan, salah satu kawan wartawan sempat menggambarkan sebuah momen saat Risma-Wishnu Sakti mendaftar ke KPU. Salah satu politisi senior PDI Perjuangan Surabaya secara kontroversial berteriak “Dukung Whisnu tanpa Risma!” Politisi berpengaruh asal PDI Perjuangan lain, Bambang DH, juga diketahui sudah nggak mau dekat-dekat Risma.

Risma masih memiliki nilai tawar karena dia adalah idola ibu semesta PDI Perjuangan: Megawati. Namun, dua tahun mendatang kondisi bisa sangat berubah. Bagaimanapun juga, Risma bukan kader yang lahir procot dari rahim partai Pak Jokowi ini.

Yo opo dengan partai lain, mungkinkah mereka mengusung Risma? Mungkin saja. Tapi, lebih mungkin lagi, tidak!

Lhak bener seh. Kader partai lain pasti marah kalau partai yang selama ini dia cintai tiba-tiba memilih Risma sebagai kandidat wali kota. Analoginya, saat Anda sudah bertahun-tahun berpacaran, mok jak ngelencer nang ndi-ndi, ternyata saat mau menikah, dia memilih orang lain. Gelem ta?

Syukur-syukur kalau sampean tidak langsung njegur Kali Rolak Gunungsari sebagai upaya bunuh diri.

Pendekatan politik Risma

Kalau soal regulasi, rakyat memang sulit untuk mendesak agar Pilwali tetap berlangsung dengan satu calon. Itu bisa dilakukan dengan melakukan judicial review ke MK. Tapi, sangat memakan waktu.

Di sisi lain, kalau Pilwali tetap diundur hingga 2017 dan warga Surabaya masih ingin Risma meneruskan kepemimpinannya, mereka harus melakukan pendekatan pada PDI Perjuangan. Entah, seperti apa bentuknya.

Yang jelas, partai ini masih mungkin mengusung Risma jika memang ditopang gerakan masyarakat yang masif. Lobi politik dari Risma dan tim juga mesti aktif dilakukan. Apalagi, sampai saat ini, DPP PDI Perjuangan masih kepincut dengan pesona lulusan ITS ini.

Oh iyo, jangan lupakan pendekatan dengan pers: pilar keempat di negeri demokrasi.

Risma mungkin saja masuk lewat alur independen. Tapi untuk kota sekaliber Surabaya, bertengger di pucuk pimpinan tanpa dukungan politik sangatlah riskan. Lha wong Risma saja pernah “digoyang” partai pengusungnya sendiri.

Duh, Bu Risma. Terjal nian langkah politik dikau. Padahal, seandainya Pilwali dilaksanakan tahun ini, lawanmu di-back up Pangeran Arab dengan anggaran super seperti Manchester City pun, engkau pasti tetap tak terkalahkan.


Bagikan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here