Bagikan

Biasanya, apa yang terjadi di Jakarta tidak begitu diperhatikan oleh Suro CS. Bukan karena mereka tidak cinta dengan Ibu Kota. Sebaliknya, mereka sangat sayang dengan wilayah yang jadi pusat perputaran uang terbesar di tanah air itu. Konon, perputaran uang di sana mencapai lebih dari 60 persen!? Ya, begitulah kenyataannya. Sehingga jangan heran, kawasan yang sering banjir itu selalu jadi magnet ekonomi.

Topik tentang Jakarta yang dibahas kali ini adalah Pilgub DKI. Konstelasi di sana, tergiring pula ke meja Warkop Gelora di seputar Injoko. Tempat mereka cangkruk Malam Minggu lalu.

rio-oke
Rio F. Rachman. (Ilustrasi: Iwan Iwe/MakNews)

“Aku lihat di pesbuk, Ridwan Kamil mengaku tidak mau ikut Pilgub DKI. Alasannya, kurang lebih, karena dia ingin fokus di Bandung. Karena dia yakin, Bandung dan Jakarta itu sama saja. Dari Bandung pun, dia bisa bersumbangsih untuk Indonesia. Sudah tidak zamannya lagi Jakarta dijadikan barometer. Yang pinggir, mesti diketengahkan. Yang tengah, jangan dianggap segalanya. Jakarta bukan berhala. Bukan berarti Gubernur Jakarta saja yang berpeluang jadi presiden,” kata Bembem yang paling melek internet.

“Setahuku Kang Emil tidak menjelaskan sedetail itu. Kamu memberikan tafsir sendiri. Seolah-olah kamu seorang mufasirin,” sela Bolang. “Ya, kurang lebih begitu. Kalau kamu baca posting dia di pesbuk, kamu pasti sependapat dengan aku,” sahut Bembem yang langsung mencomot gorengan.

“Memangnya seberapa penting Pilgub DKI hingga mesti kita bahas hari ini? Bukankah, Jatim juga mau Pilgub? Konon, kawan kita Si Suro lagi mau diajak jadi tim sukses salah satu bakal calon. Tapi, dia menolak. Dia menyitir Sufyan Ats-Tsauri, yang kata dia ulama zuhud, yang menolak dekat dengan penguasa,” Comel membuat alternatif topik seraya menyeruput kopi hitam. Kopi hitam itu diklaim pemilik warkop asli dari Toraja. Entahlah…

“Mel, jangan fitnah. Mana mungkin aku ditunjuk jadi tim sukses. Lha wong hidupku sendiri saja belum sukses. Lagi pula, Pilgub DKI itu selalu menarik. Pemimpin DKI itu adalah gaco untuk memperbaiki Jakarta, Ibu Kota Negara kita. Macet, banjir, dan kebijakan lain termasuk soal pemindahan pusat wilayah pemerintahan ke Kalimantan,” kata Suro.

Isu dalam Pilgub DKI dianggap Suro CS sangat sexy. Ada hikmah yang bisa dipetik dari konstelasi politik, sosial, dan ekonomi di sana. Soal calon yang non Islam, non parpol, hingga non kompeten.

“Mungkin soal agama Ahok nanti juga akan kembali dijadikan tema kontroversi di Pilgub DKI,” sulut Bembem. “Sebenarnya orang yang anti Ahok dengan mengatasnamakan agama itu harus fair. Mereka menolak Ahok, mengajak orang lain untuk menolak pria keturunan Tionghoa itu, namun mereka tidak sanggup menghadirkan alternatif dari kalangan agama atau sukunya sendiri. Kan problemnya jadi kompleks,” Bolang menggigit krupuk blek. Kriuk-kriuk. Mudah-mudahan tidak ada campuran bahan berbahaya di krupuk tersebut.

Di sisi lain, media massa begitu berkuasa untuk memutar balik citra seseorang. Yang begini, dibilang begitu. Yang begitu, dibilang begini. Tidak semua masyarakat sadar dengan adanya upaya perang informasi ini. Kalau sudah begitu, realitas jadi kabur. Asumsi carut marut dan kebenaran jadi samar.

“Oh iya, bagaimana kabar Bu Risma yang konon sempat mau dicalonkan pula di DKI?,” Comel makin tergelitik bicara politik. “Tidak ada yang tahu pasti. Namun, aku dengar sekarang Mendagri yang berasal dari partai yang sama dengan dia, kerap memberinya tugas negara ke sejumlah daerah jauh. Nah, mungkin dia mau dipromosikan untuk level yang lebih luas tingkat nasional. Suatu saat kelak. Mungkin RI 1, atau R1 2, atau terserahlah. Toh, di mana pun wali kota kita itu berada kelak, kita tetap saja di sini. Cangkruk dari warkop satu ke warkop lain. Ya, mau apa lagi?!” seloroh Suro. (*)


Bagikan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here