Bagikan

Siapa yang tidak tau musik? Tidak ada. Bahkan, sejak bayi baru lahir, ada musik khusus yang diperdengarkan. Mungkin Mozart, Beethoven, dan musik klasik lainnya. Dan, jangan lupa, ada pula orang tua yang suka memperdengarkan lagu sholawat Burdah, Nariyah, Badar, dan syair lain pada anaknya.

Nyaris semua orang punya musik kegemaran. Mulai dangdut, jazz, rock and roll, black metal white metal, white board, serta sebagainya. Itu soal kesukaan. Jangan saling protes. Bahkan, kalau ada yang suka samroh atau rebana, biarkan saja. Lha wong kuping-kupingnya sendiri. Kenapa kita mesti repot.

Mudah-mudahan kita tidak termasuk golongan orang yang suka mengadu domba di media sosial hanya karena sekelumit perbedaan pandangan. Lha, apa hubungannya? Wes ta, ojok sembarang-sembarang njaluk dihubungno. Hubungono dewe lhak mari sih!

Folk dan Blues

Tidak semua orang tahu tentang genre musik ini. Saya pun tidak paham-paham benar. Sebagian awam mungkin menganggap ini ada hubungan darah dengan musik country. Sebenarnya, belum ada tes DNA yang membuktikan ini. Ah, kok malah guyon mekso ngene.

Yang jelas, pada 23 Januari 2016 lalu, di Oost Koffie & Thee Surabaya, digelar diskusi tentang genre tersebut. Acara yang diselenggarakan oleh TEDxTuguPahlawanSalon ini menghadirkan sejumlah pembicara. Antara lain, Bayu Dipojoewono (Bayu and Foxy Train), dan Kharis Junandharu (Silampukau).

Ada dua sesi. Pertama, pendeskripsian sejarah musik Folk dan Blues. Kedua, tanya Jawab mengenai musik. Yang menarik, keriuhan acara menyeruak tatkala disuguhkan performa petikan dan sentuhan senar gitar dari Bayu. Audiens tercengang. Mungkin ada yang bergumam, “Arek iki drijine diolesi minyak opo yo? Kok kethok lunyu-lunyu lihai ngono?”

Tepuk tangan bersahutan seusai penampilan itu. Gemercik gerimis pun tak terasa lantaran suasana makin hangat karena acara yang mengagumkan ini. #maafberlebihan

Propaganda

Lantas, arti atau sejarah Folk dan Blues apa? Saya tidak akan jelaskan. Sengaja. Monggo, saya mempersilakan pembaca nyari definisinya di literatur lain.

Artikel saya kali ini akan mengambil perspektif berbeda. Yakni, tentang propaganda yang diimplementasikan media. Kenapa saya mengambil sudut pandang ini? Ya, karena saya suka. Dan, isu propaganda media tersebut memang lagi hits. Tidak hanya soal politik atau ideologi, genre musik pun tak luput dari sentuhan propaganda, lho. Menarik disimak, kan?!

“Apa hubungannya diskusi musik dengan propaganda media?” Pertanyaan itu yang berkelebat di benak saya. Teringat yang dikatakan Kharis (Silampukau) di tengah sesi tanya jawab. Dia menjelaskan, sejarah atau unsur dari genre musik yang dipaparkan media belum tentu benar.

“Penikmat musik harus rajin mencari tahu kebenaran tentang genre tidak hanya di satu alat informasi. Tidak hanya televisi. Kan masih ada internet, koran, dan lain-lain,” urai dia.

Hemat saya, maksud dari ungkapan tersebut adalah mengajak audiens untuk gethol dalam menggali informasi. Tidak menelan satu informasi mentah-mentah begitu saja. Tapi, masih harus disaring dan direnungkan lagi. Apakah betul faktanya demikian, atau malah sebaliknya.

Parahnya, ada pula orang yang benar-benar awam dengan publikasi bertalu-talu media. Imbasnya, pengertiannya tentang musik jadi dangkal. Padahal, musik itu luas.

Setidaknya, kehadiran ragam media yang membuka wawasan membuat kita tidak terbelenggu oleh satu informasi. Juga, mampu meminimalkan pelbagai asumsi yang kurang pas. Gak pekoro opo-opo, yang dikhawatirkan, kalau-kalau kita kemeruh, tapi ternyata keliru. Lhak ngisin-ngisini tho, rek.

Seperti yang saya paparkan di atas, hingar-bingar dan desas-desus berita yang ada di media kerap terdistorsi. Tidak ada maksud menyalahkan dan memang dalam ihwal ini tidak ada yang salah. Sudah kodratnya media memberi suguhan informasi. Dan, tidak perlu dirisaukan materinya. Karena sering kali, ini soal sudut pandang. Yang penting, masyarakat sudi mencari keakuratan berita agar seimbang dengan esensinya. (*)


Bagikan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here