Bagikan

Sodara-sodara sekalian, apa ada yang tahu artinya beatbox (baca: bitboks)? Kalau tidak mengerti, sungguh tidak mengapa. Karena pertanyaan tersebut, tidak akan jadi pitakonan kubur.

Namun, sekadar berbagi informasi, saya akan menjelaskan sedikit tentang istilah yang belakangan ngehits di dunia anak muda tersebut. Eh, anak tua juga seh. Mosok mek arek enom thok, kan yo?!

Berdasar situs serba tahu wikipedia, Beatboxing (also beatbox, beat box or b-box) is a form of vocal percussion primarily involving the art of mimicking drum machines using one’s mouth, lips, tongue, and voice. It may also involve vocal imitation of turntablism, basslines, and other musical instruments. Beatboxing today is connected with hip-hop culture, often referred to as “the fifth element” of hip-hop, although it is not limited to hip-hop music. The term “beatboxing” is sometimes used to refer to vocal percussion in general.

Bagaimana, tahu terjemahan bahasa Indonesia atau boso jowone? Artinya adalah…. nyangkem!

Yes, dan seperti umumnya orang nyangkem, bagian tubuh yang digunakan adalah mulut dan seisinya: lidah, bibir, gigi, serta rongga mulut. Tujuannya, mengeluarkan suara yang menyerupai instrumen musik seperti drum, bass, turntable, dan lain-lain.

Biasanya, musik yang dilahirkan beraroma hip hop. Tapi, tak selalu begitu. Sama seperti orang yang ngajak-ngajak nikah, biasanya berakhir di pelaminan. Tapi, tak jarang ternyata sekadar PHP.

Salah kaprah tentang beatbox

Yok opo, Rek, wes paham artine beatbox? Kalau masih belum paham ya tidak apa-apa. Tidak perlu dipikir terlalu dalam. Karena, ini tidak penting-penting amat. Isih luwih penting koen mikir yok opo carane ndang nduwe bojo, ndang kerjo, atau ndang lulus sekolah utowo kuliahmu.

Nah, persoalannya, saya sering menemukan orang-orang yang salah kaprah terkait pengertian beatbox. Ini yang perlu diluruskan. Sebab, kebenaran itu mesti disampaikan walaupun hanya satu ayat. Sedangkan yang salah, ojok kemeruh!

Salah sebuah kekeliruan definisi adalah saat ada sekelompok orang yang secara serampangan mengartikannya. Mereka bilang, beatbox terdiri dari dua kata: beat dan box. Beat diartikan sepeda motor matic, box diartikan kotak. Lengkapnya, beatbox adalah sepeda motor matic sing diwadahi kotak! Nggateli , gak?!

Wes mbuhlah. Tapi yang jelas, banyak pula anak muda kekinian Surabaya yang suka menirukan suara tabuhan drum, kendang, bass, turntable, lan sapanunggalane, karo suara cocote. Dengan harapan, menciptakan suara musik yang asyik untuk dinikmati.

Menurut saya, hal itu sangat positif. Yang penting, tidak merugikan orang lain. Jangan pernah melakukannya dengan cara mendekatkan congormu nang kuping tonggomu dalam jarak lima sentimeter. Apalagi, kuping Pak RW!

Beatbox Surabaya sudah ada sejak dulu

Selentingan kabar menyebutkan, beatbox bukan budaya asli Indonesia. Apalagi, Surabaya. Eits, tunggu dulu. Mari bicara berdasar fakta dan data.

Menurut saya, beatbox sudah ada sejak zaman dahulu kala di Surabaya. Paling tidak, sejak era bakul alias penjual krupuk keliling sudah beroperasi di kota pahlawan.

Apa buktinya? Terdapat beat ala bakul krupuk yang popularitasnya masih terdengar hingga sekarang. Bunyinya, kurang lebih demikian:

“Tong duduk blek, tong duduk blek, blek duduk tong, blek duduk tong,” (suarakan dengan tempo agak cepat atau cepat. Jangan dengan tempo rendah, apalagi sangat rendah. Kesalahan dalam pemakaian tempo membuat beat terdengar kurang maksimal)

Menariknya, beat yang saya sebutkan di atas memiliki nilai filosofi yang tinggi. Di dalamnya, terdapat unsur sastrawi yang loh jinawi #ngawur!

Kalau diterjemahkan, arti bahasa inggrisnya, “Trash isn’t Black and Black isn’t trash,”. Jeru kan artine? Ojok lali, itu masih beat kelas dulur-dulur bakul krupuk. Jik Durung beat kelas dosen Unair atau ITS, lho, Rek. Kurang sangar opo maneh iku?!

Saya akan memberi satu contoh lagi beat yang dikenal di beberapa kalangan di kota hiu dan buaya. Bunyinya, kurang lebih demikian:

“Makmu diundang makku, makmu diundang makku,” (sekali lagi, pakai tempo yang cepat. Lambat dalam pemakaian tempo membuat beat ini menjadi lembeng)

Kira-kira terjemahannya adalah “Your mother has been invited by my mom,” Nah, koen, solider dan berazas kekeluargaan banget kan, yo?! Keindahan budaya Surabaya mana lagi yang kau dustakan?

Oleh sebab itu, sayangilah yang di bumi, maka yang di langit akan menyayangimu. Sayangilah budaya mu, maka budaya akan menyanyangimu. #halah


Bagikan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here