Bagikan

Selamat Idul Fitri, Dulur! Maaf lahir batin. Jangan lupa, minta maaf dengan orang-orang di sekitarmu juga. Wes ta lah, yakin, kita banyak dosa atau kesalahan pada sekeliling.

Salah satunya, mungkin, soal hobi nyinyir kita di media sosial. Benar atau salah sudut pandang kita saat melontarkan pendapat, kenyinyiran tetaplah sesuatu yang tidak baik. Maka itu, minta maaflah. Kalau soal yang satu ini, cara yang paling masuk akal untuk njaluk sepuro adalah dengan tidak mengulanginya. Berhentilah nyinyir.

Toh, sikap itu tidak ada gunanya. Buat apa melontarkan kebencian di media sosial. Mau mengkritisi kawan-kawan yang tidak satu opini? Alih-alih mereka merasa diberi masukan, justru mereka defensif! Bahkan, tak jarang langsung me-remove antum dari pertemanan, ya akhi ya ukhti.

Nah, bagaimana kalau kita mulai membangun pondasi kesejahteraan? Mari sama-sama berkarya. Terserah, di dunia apapun yang kita geluti. Di dunia gaib pun, oke oke sajo, sodara!

Sebab, tantangan yang paling kongkret di zaman sekarang adalah soal kesejahteraan. Aspek ekonomi yang menjadi penunjangnya, mesti diberi atensi. Dengan berkarya dan menghasilkan, lebih-lebih bila dilakukan secara berjama’ah, efek positifnya pasti terdongkrak naik.

Tapi ingat, berburu kesejahteraan bukan sama dan sebangun dengan kapitalisme. Kalau ternyata sehaluan, yo ndang kukutno ae!

Di sini, kesejahteraan adalah cikal bakal kebahagiaan. Bolehlah, kalaupun ini tidak sekadar berkutat pada aspek ekonomi. Bila ente mau idealis, mungkin cocot ente mau bilang, kebahagiaan tidak harus dengan uang. Byuh byuh byuh, jan mulyo tenan peno!

Terserahlah. Yang jelas, mari bersama raih kebahagiaan di hari yang fitri ini. Dan, di hari-hari selanjutnya.

Kesampingkan perbedaan yang kontra produktif. Beda agama, tidak menjadi halangan buat kita saling bermuamalah yang baik. Tahu artinya muamalah? Aku asline yo gak paham-paham banget. Intine, apapun agamamu, bahkan atheis pun kamu, kita semua bisa saling bantu dan mendukung. Khususnya, di bidang yang bukan soal peribadatan.

Apalagi, kalau kita satu agama. Wes ta lah, nek koen wong Islam, gak usah usil karo wong Islam liyane. Gak usah kemrungsung muni bid’ah-bid’oh. Koyok pen sahabat nabi ae.

Mok pikir wong sing mok bid’ah ne lalu jatuh hati padamu ketika kamu kritisi? Kalau jawabnya yess, berarti logika kita perlu dipertemukan untuk mendiskusikan ini. Di ruang rindu, kita bertemu #letto.

Di luar itu, mari bergandengan tangan untuk kebahagiaan, membangun kesejahteraan. Misalnya, sampean punya proyek pengepul besi tua, teman sampean punya pembeli, ya tinggal dikomunikasikan dan dibagi profitnya.

Sebagian laba, gunakan untuk membangun fasilitas umum. Atau, untuk menyumbang mereka yang memerlukan. Sesimpel itu hidup ini. Gak usah diruwet-ruwetno.

Yakinlah, dalam beberapa tahun ke depan, serial dari Turki atau India tetap mengisi layar kaca. Mereka mau nyari iklan dan menumpuk kekayaan. Kalau kita masih suka nyinyir dan debat kusir berkepanjangan, kapan kita bisa ke Turki atau India? Eh, maksudnya, kapan kita bisa kaya dan menebarkan manfaat untuk sebanyak-banyaknya manusia? (*)


Bagikan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here