Bagikan

Istilah Rock and Roll dalam tulisan ini tidak mengacu pada kesan negatif apapun. Sebaliknya, semangat yang dipakai adalah citra kemandirian dan keberanian.

Alkisah, falsafah Rock and Roll juga merujuk pada keyakinan terhadap apa yang dijalani sebagai pilihan absolut.

Bukan musik biasa

Bila televisi Anda dapat menangkap sinyal TV 9, mungkin sesekali, tanpa disengaja, Anda pernah melihat aksi Syekhermania yang ditayangkan di saluran itu.

Meski namanya mengandung mania seperti Bonekmania, secara legal formal, tidak ada hubungan khusus di antara keduanya. Walaupun bisa jadi, ada Syekhermania yang kebetulan Bonekmania, ataupun sebaliknya.

Syekhermania merupakan sebutan bagi penggemar sholawatan (memuji dan memohonkan kesejahteraan Nabi Muhammad pada Tuhan) yang dipimpin Habib Syekh.

Ada yang menarik bila melihat para pemilik website www.syekhermania.or.id. ini bersholawat. Apalagi, jika aktifitas itu dilaksanakan di tanah lapang seperti Tugu Pahlawan, Lapangan Flores, dan tempat-tempat lain.

Semangat dan antusiasme mereka tak ubahnya para Sobat Padi yang ikut bernyanyi saat sang Idola mengumandangkan Mahadewi atau Semua Tak Sama.

syeh
Habib Syekh (tiga dari kiri) saat “konser” sholawatan di Brebes, Jawa Tengah. (Foto: Jpnn)

Syekhermania acap terbakar suasana. Mereka kadang melepaskan suara keras. Senada dengan Habib Syekh yang bersenandung melalui speaker berkekuatan super.

Sesekali mereka menangis jika kebetulan ada lirik sholawat yang mengharukan. Beberapa kali terlihat mereka tersenyum kalau kebetulan ada lirik berisi suka cita. Hmmm, gesture yang variatif.

Dalam banyak kesempatan, mereka turut membawa dan mengibar-ngibarkan bendera plus spanduk dalam “konser” sholawat tersebut.

Rock and Roll tenan kan wong-wong iki.

Mereka menerobos kebiasaan dari kebanyakan orang. Umumnya, sholawat jamaah dilakukan di masjid/mushola atau di tempat orang hajatan.

Paling banter sambil berdiri, bersedekap atau sedikit mengeraskan suara saking khidmatnya. Kadang malah sambil menunduk dan menitikkan air mata.

Bahkan, jujur ae, onok jugak arek-arek sing ngelamun thok kerono gak hapal lirik sholawatane. Wes bah, wes syukur dheke gelem teko.

Nah, perilaku Syekhermania jelas berbeda! Mereka melakukannya di tanah lapang dengan speaker yang biasa dipakai konser musik.

Apa yang dilantunkan Habib Syekh, mereka ikuti dengan seragam. Lihatlah mulut mereka yang umik-umik alias kecapan seirama. Harmonis.

syekhermania
Para santri Pondok Pesantren Zainul Hasan (Ponpes Zaha) Genggong, Probolinggo, bersholawat dipimpin oleh Habib Syekh. (Foto: pzhgenggong.or.id)

Mereka mengibarkan bendera dan spanduk yang bertulis identitas asal. Misalnya, Syekhermania Bangil, Jogja, Sumenep, Pagerwojo Sidoarjo, Babat Gresik, dan lain sebagainya.

Mirip dengan kebiasaan Boomers yang suka mengibarkan bendera saat Boomerang manggung.

Subkultur sebagai gerakan melawan mainstream

Dalam buku kumpulan esai Menyikapi Perang Informasi yang saya terbitkan beberapa bulan silam (yuh koen, promosi colongan iki), ada satu artikel berjudul Subkultur Navicula.

Saya membahas Navicula, band asal Bali yang menjelma jadi sebuah subkultur alias budaya tanding. Para musisi itu menabrak mainstream dunia musik Indonesia yang aliran bermusiknya kebanyakan pop atau rock. Mereka memilih grunge!

Sebenarnya, di Indonesia juga tumbuh aliran jenis ini. Tapi, sangat jauh dari kata mainstream, bukan?

Tak hanya itu, band ini membuat spesifikasi semangat perjuangan: mengangkat isu lingkungan!

Menurut saya, Syekhermania dapat digolongkan sebagai sebuah subkultur. Betapa tidak, mereka bersholawat dengan cara yang tidak biasa dilakukan orang-orang.

Lebih dari itu, mereka melakukan pertunjukkan yang bukan musik biasa. Bukan musik religi biasa.

Sementara, konsep yang diaplikasikan mirip dengan konsep konser grup band non-religi pada umumnya.

Dapat dipastikan, tidak akan ada satu pun penonton yang mabuk atau berkelahi. Sebaliknya, keberadaan kaum dengan busana muslim khas arab (bersorban, jubah, cingkraang, dan jenggot) maupun nusantara (berkopiah, kemeja, dan sarung) itu menebar semangat kebersamaan.

syech-slank
Habib Syekh bersama personel Slank dalam sebuah acara Sholawatan.

Mereka berkumpul untuk mencari hiburan, beribadah, dan anti kekerasan atas nama apapun.

Jelas beda dengan konser-konser lain. Baik yang beraliran pop, rock, hingga dangdut. Potensi kisruh pasti selalu membayangi.

Lihatlah di setiap konser New Palapa, Sagita, atau grup Orkes Melayu lainnya. Pasti onok ae arek-arek sing nggawe helm sambil njogat-njoget nang tengah lapangan.

Alasannya ada dua. Pertama, takut helmnya dicuri kalau ditinggal di sepeda motor. Kedua, nek tawuran uncal-uncalan watu utowo banyu uyuh neng botol sing rupane mirip-mirip bir (kelir kuning muru-muru), kepalanya tidak kena hantaman secara langsung.

Mungkin ada yang kemudian bertanya: lha terus opo o nek Syekhermania itu subkultur?

Ngene lho rek, subkultur memiliki semangat atau esensi yang mengagumkan dan layak diteladani: orisinalitas.

Kata salah seorang dosen yang juga seniman visual art, apa yang dilakukan kawan-kawan Jember Fashion Carnival (JFC) merupakan subkultur. Ini adalah bentuk pendobrakan dunia fashion tanah air yang monoton soal catwalk.

Toh, kemudian JFC moncer dan populer di dunia internasional.

Nirvana menggugat Guns and Roses

Apa yang dilakukan Kurt Cobain Cs dengan grunge pada masanya juga merupakan geliat subkultur. Mereka menggugat lagu-lagu manis dan marketable semacam Elvis dan lagu-lagu bombastis sekelas Guns and Roses.

Hasilnya, grunge mengemuka dan pada satu titik justru menjadi mainstream.

Ada kekuatan di balik subkultur: keberanian, kepercayaan diri, dan orisinalitas. Elemen-elemen itu menolak kemapanan mainstream yang lama-lama menjemukan dan beraroma kapitalis.

Mungkin, Syekhermania tidak sengaja berangkat dari pandangan sejauh itu.

Tapi paling tidak, gerakan mereka yang unik, tidak takut bersuara lantang meski berbeda, telah menjadi bukti: terkesan asing bukan pilihan yang menyebabkan kematian. Tak sama bukan berarti keliru.


Bagikan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here