Bagikan

Apakah Anda penduduk ber-KTP Surabaya? Atau Anda hanya numpang kos untuk kuliah atau bekerja di kota ini? Ga masalah. Saya hanya mau tanya apakah tahu slogan logo branding Kota Surabaya ini?

Saya yakin, banyak yang belum tahu atau bahkan tidak tahu kalau Surabaya punya slogan dan logo yang ditetapkan sejak tahun 2006. Itu sudah lama sekali! Lagi pula, gaungnya juga sudah hilang bahkan untuk warganya sendiri.

Sparkling Surabaya. Ya, ini adalah slogan dan logo kota kita tercinta. Masih bingung kan? Yang mana logo-nya? Lha wong saya saja kadang bingung. Padahal sudah 9 tahun logo dan slogan ini dicanangkan.

Surat penetapan logo dan slogan ini dituangkan dalam surat Wakil Walikota yang saat itu dijabat Wak Gus Arif Afandi No: 510/4286/436.5.12/2006 tanggal 14 Juli 2006 tentang Memasyarakatkan Sparkling Surabaya sebagai Logo dan Slogan Kota Surabaya.

Tujuan adanya slogan dan logo ini seperti kota lain. Di antaranya untuk sosialisasi atau materi promosi wisata di berbagai media cetak, online, billboard, banner, dan berbagai pernik souvenir.

Sparkling Surabaya gak Suroboyo banget

Logo dan slogan ini berupa tulisan Sparkling Surabaya dengan 5 bintang warna-warni di ujung atas kanannya. Ide awal logo ini adalah untuk city branding. Menuju kota yang metropolitan dan berkilau.

Bintang emas mewakili Surabaya Selatan yang ditempati kawasan industri, Kebun Binatang, yang berdampingan dengan bangunan kuno di sepanjang Jalan Darmo.

Bintang biru mewakili Surabaya Utara. Kawasan ini berdekatan dengan laut dan pusat pemerintahan tempo dulu di Kembang Jepun. Selain itu, ada juga Masjid Ampel, Kampung Arab, dan Pecinan.

Bintang kuning mewakili Surabaya Timur. Kawasan ini memiliki pantai dengan adanya Pantai Kenjeran, Jembatan Suramadu, dan pusat IT terbesar di Indonesia Timur di THR.

Bintang oranye mewakili Surabaya Barat yang merupakan daerah hunian, pusat belanja, pusat kuliner plus sejumlah lapangan golf di perumahan mewah.

Bintang merah mewakili Surabaya Pusat yang merupakan pusat bisnis dan pemerintahan.

Konsep ini kelihatan sekali kurang tersosialisasi atau tidak menyentuh masyarakat secara umum. Gampangannya, ga Suroboyo banget! Terutama bahasanya.

Coba lihat di berbagai toko souvenir. Yang banyak terpampang di kaos atau mug bukan logo dan slogan itu. Tapi lebih banyak ke ikon kota seperti Tugu Pahlawan, Jembatan Suramadu, Taman Bungkul, Gedung Grahadi, bahkan kawasan Dolly.

Kota wisata terkenal seperti Jogjakarta saja menggarapnya dengan serius. Baru-baru ini mereka mengganti logo dan slogan. Kota Gudeg itu juga melibatkan semua kalangan untuk terlibat mendesain logo dan peruntukannya.

Bagaimana dengan Surabaya? Tahun ini sepertinya bu walikota dan para jajarannya lagi sibuk jelang pilkada. Gak sempat mikir hal gini. Warga juga sepertinya tenang-tenang saja.

Surabaya memang semakin indah. Taman kota semakin banyak. Kebersihan kota dan trotoar jalan di tengah kota bagus. Papan nama jalan diganti lebih besar dan apik. Gang-gang perkampungan juga tertata. Trus kurang apa? Kurang tempat piknik yang asik dan souvenir yang ciamik.

Jika saudara saya ditanya, “ Opo sing enak ndek Surabaya?” Serempak mereka hanya bilang makannya enak-enak dan harga terjangkau. Gak ada tempat jalan-jalan yang asik dan gak ada oleh-oleh yang khas kecuali sambel Bu Rudi.

Menuju 2016 nanti, tidak ada salahnya mulai sekarang semua pihak mulai mendiskusikan lagi yo opo enake logo dan slogan Surabaya ke depan. Ayo dimulai dari sekarang. Baik oleh tokoh masyarakat, akademisi, pengusaha, seniman, dan siapa saja yang cinta kota ini.

Tak usah berorientasi dapat Adipura atau apa. Yang penting bisa menjual Surabaya beserta isinya dengan elegan dan memberikan rasa bangga dan memiliki bagi warga dan tamunya.

Surabaya bisa jadi kota wisata keluarga yang nyaman aman dan murah.

Bagaimana Bu Risma? Oh iya E-KTP saya sudah 8 bulan belum jadi lho, Bu. Sampai mbahas logo padahal KTP masih kabur. Hiks.


Bagikan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here