Bagikan

Rek, pada Minggu 22 November mendatang, akan dilaksanakan event seru di Perpustakaan Bank Indonesia alias Ex Museum Mpu Tantular. Kegiatan bertajuk Suroboyo Nyel tersebut mengambil tema Social Movement.

Acara ini mengajak warga Surabaya, khususnya anak-anak muda, untuk mengeksplorasi dan memanfaatkan kelebihan yang dia punya. Tujuannya, memberikan dampak dan citra positif bagi Kota Pahlawan tercinta.

Kreatifitas dan passion yang berbeda-beda akan diakomodasi sedemikian rupa. Kolaborasi sangat dimungkinkan. Semua memiliki gol yang sama. Yakni, supaya arek-arek Suroboyo lebih kenal, sayang, dan peduli pada kota ini.

Tugu Pahlawan menjadi icon

Kalau melihat deskripsi event yang ada di poster, selebaran, maupun media promosi lain, tampak kalau Surabaya merupakan kota gemerlap. Menariknya, di sana ditunjukkan icon Tugu Pahlawan yang lebih moncer dibandingkan gedung-gedung pencakar langit lain.

Moncer iku artine opo tho, Mbak? Wes mbuhlah. Sing jelas, Tugu Pahlawan terlihat paling menonjol dan gagah.

Adapun tema Social Movement dipakai agar arek-arek Suroboyo tergerak untuk melakukan gerakan sosial. Senada dengan semangat kultur maupun karakter orang-orang di kota berlambang Suro dan Boyo ini.

Suro dan Boyo iku artine opo tho, Mbak? Kebacut koen nek gak ngerti! Takoko Mbahmu kono! Syukur nek gak malah diseneni simbah.

Gedung Perpustakaan Bank Indonesia. (Foto: ayorek.org)
Gedung Perpustakaan Bank Indonesia. (Foto: ayorek.org)

Surabaya memang merupakan kota yang kaya akan kuliner, sejarah, cagar budaya, kreatifitas yang variatif, khazanah gagasan, dan nilai-nilai positif lainnya.

Meski demikian, kota ini harus tetap menjadi wilayah yang non-individualistik. Surabaya mesti menjadi metropolitan yang mengedepankan kebersamaan.

Suroboyo Nyel Sebenarnya merupakan kalimat spontan yang diucapkan 12 anak muda yang tergabung dalam tim konseptor. Mereka menerima tantangan dari dosen pembimbing mata kuliah Manajemen Event di kampus untuk membuat kegiatan yang asyik oke punya lah pokoke.

Yang ada di pikiran mereka waktu itu adalah, bagaimana mengangkat tema kesurabayaan yang paling prinsip.

Ibaratnya, bagaimana menyatukan kultur Surabaya lewat kebiasaan mesoh, mangan es dawet srintil nang blauran, nyamil tjantik tjakep semanggi Suroboyo, nyucup kuah lontong balap nang kenjeran ditemani angin semilir di senja sore karo muter lague Silampukau, utowo melbu nang Gelora 10 November gawe mbonek.

Bisa juga melalui penyatuan semangat drama kolosal Surabaya Membara, Parade Juang, dan Parade Bunga sing dilaksanakno tiap tahun. Kira-kira begitulah, dan masih banyak sudut pandang lain yang menjadi dasar pemikiran acara ini.

Mungkin termasuk di antaranya, penyatuan rasa para jomblowan dan jomblowati supaya bisa segera bersanding di pelaminan dan memiliki keturunan arek-arek cilik Suroboyo. Lhak gak nyambung….

Intinya, nyel yang dimaksud bukan nyelnya agar-agar atau kolang kaling gembuk. Namun, nyel yang membawa kesan kemurnian suatu kultur dalam isme-isme yang menghinggapinya. *macak intelek malah kok kroso mekso

Ada seminar dan aneka kompetisi

Cak-Ning sekalian perlu datang ke acara ini. Apalagi, melbune gratis, tis! Kurang yes, opo maneh iki, Rek?! Sing mbayar mung biaya pendaftaran melu kompetisi ambek seminar.

Hari Minggu adalah hari keluarga. Apa salahnya membawa keluarga Anda untuk hadir di acara ini, wahai saudara-saudaraku yang baik hatinya.

Nah, bagi kamu yang belum berkeluarga atau belum menikah, bawa serta kawan-kawanmu sebanyak-banyaknya. Ceg uripmu tambah rame.

Siapa tahu, ada pengunjung lain yang ternyata bisa kamu ajak berkenalan. Baik untuk nambah teman, atau malah jadi calon pasangan di kemudian hari. #yonekdhekegelem #pastineyogaksegampangomonganku

Event ini akan digelar mulai pukul 10.00 hingga 16.00. MC yang memandu acara adalah pemuda yang guwantenge gak entek-entek, Aiman Ricky. Dia adalah aktor yang kerap mengisi layar hatimu, eh layar tivimu melalui program FTV-FTV. Sing tau jadi Mas Karyo asli Jowo nang sinetron Islam KTP.

poster-suroboyo-nyel
Courtesy Suroboyo Nyel!

Nantinya, akan ada pula komunitas-komunitas koyok tho Utek Bocor Mural, Askneck Grafitty, Souncloud Surabaya (komunitas musik), KRN-GAP Lettering sing isie arek wedok loro unyu, dan Serbuk Kayu (komunitas sing melok jadi bagian coca colabs Biennale Jatim).

Seminar sing bayare slawe ewu repes, free snack and certificate, mendatangkan pembicara dari Komunitas Soerabaia Roode Burg: Ady ”gepeng” Setyawan.

Tak ketinggalan, creative sharing seputar dunia fotografi dengan Cak Mamuk Ismuntoro. Juga, bazaar yang menjual makanan, pakaian, dan lain sebagainya.

Ada pula Live akustik dari Pathetic Experience, SORA, Starfish, yang masing-masing gawakno 4 lagu (3 lagu bebas dan 1 lagu tradisional).

Kompetisi yang dihelat juga beragam. Misalnya, kompetisi karaoke Suroboyo (dengan lirik lagu diganti boso Suroboyoan), fotografi, video maker (sing nampilno Suroboyo sebagai objek. Entah kekhasan makanan, bangunan, bahasa, monumen, dan lain sebagainya).

Ada pula kompetisi livetagram. Syaratnya, kamu harus ada di venue dengan follow IG dari Bonafide (selaku penyelenggara), terus selfie nang booth Suroboyo Nyel. Ojok lali, diunggah nang IG, tag Bonafide, diberi hestek #suroboyonyel .

Yok opo, wes penasaran koyok lagune Bang Haji, sungguh mati aku jadi penasaran? Lha mangkane, eman lak awakmu gak teko, Rek!


Bagikan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here