Bagikan

Apa sih yang pertama kali terlintas saat ngomongno Surabaya, Rek? Gang Dolly yang legend itu? Deretan wisata kuliner yang menggugah selera? Atau patung suro dan boyo di depan bonbin (KBS)?

Beberapa yang nasionalis mungkin menjawab sejarah pertarungan akbar arek-arek Suroboyo melawan penjajah era tahun 1940-an. Beberapa lagi mungkin malah sama sekali ga terkesan sama kota yang panasnya ngalah-ngalahno lihat mantan kawin disikan ini.

Surabaya sekarang ga sejadul dulu sih. Ga ndeso-ndeso amat. Makanya sekarang sebutan Surabaya adalah kota metropolis, kota terbesar kedua di Indonesia (tapi kabarnya masih kalah gaul sama anak Jakarta). Perekonomian kota ini menggeliat, begitu juga industri di dalamnya.

Di bidang investasi dan properti juga ketok naiknya. Ini bisa dilihat dengan banyaknya ruko-ruko, apartemen-apartemen baru, sampe mall-mall yang menjamur. Tempat-tempat cangkruk kekinian semakin banyak dan kemungkinan muncul foto-foto ngopi cantik sambil selfie akan bakal terus membanjiri Instagram kamu :D.

Bukan cuma itu tok sih. Sisi positif yang bisa dibanggakan adalah industri kreatif arek-arek Suroboyo juga bisa dipastikan meningkat pesat sejak tahun 2000-an.

Kembang kempis sebelum era social media

Tren industri kreatif yang saat itu menonjol adalah munculnya distro-distro. Mereka menjual produk-produk lokal Indonesia (kebanyakan masih produk dari Jakarta dan Bandung). Selain itu, ada juga band-band indie yang semakin punya pasar di kalangan anak muda Surabaya.

Seiring waktu, tren ini mulai bergeser dan beberapa distro di Surabaya yang tidak bisa bertahan dalam himpitan ekonomi (halah) akhirnya tutup.

Band-band indie yang sempat suwangar juga akhirnya ga muncul lagi. Apalagi era kaset dan CD saat itu mulai ditinggalkan dan orang-orang beralih ke musik digital dan download ilegal (sampe sekarang sih… Hehehehe ngaku).

Sekitar tahun 2005-2010, industri kreatif dan anak-anak Surabaya itungannya agak melempem. Mungkin yang baru lulus kuliah pada fokus kerja kali ya, atau kawin, atau merantau ke negeri orang, atau mungkin depresi dan menyendiri…

Anyway, anak-anak muda ini mulai bangkit lagi sejak social media santer digunakan. Dari Facebook, Twitter, Instagram, LinkedIn, Path, sampai blog-blogan. Friendster jangan dihitung ya… (tulis testi dong kak!)

Facebook yang awalnya jadi ajang reuni cari teman-teman lama (sekalian cari jodoh juga sih) dan menjalin pertemanan baru mulai ga cantik. Sebab, Facebok jadi tempat dagang atau jualan. Hal yang sama juga berlaku untuk Twitter dan Instagram. Kasian mereka jadi katut… (Cek IG kita ya, Sis!)

Perang kreativitas melawan Jakarta dan Bandung

Tapi dengan banyaknya cara berjualan dan persaingan bisnis, anak-anak muda Surabaya mulai terpacu untuk mencari sesuatu yang baru. Mereka mulai mengembangkan ide-ide bisnis menjadi lebih fresh, fun, dan menghasilkan (uang ya, bukan jodoh).

Dengan social media yang memfasilitasi jualan-jualan ini, mereka mulai bergerilya mendapatkan pelanggan, dan pengakuan. Promo bisa dilakukan dengan meng-endorse selebtwit/selebgram, bikin akun khusus testimonial, hingga promo dagangan dengan cara paid promote (ini kalo ada modal lebih ya, soalnya berbayar).

Industri kreatif Surabaya pun mulai ngetril alias melejit. Para entrepreneur muda juga semakin banyak dengan bisnis-bisnis yang awalnya kecil tapi kemudian berkembang dan terus berinovasi.

Sebut aja La Reia Cake, Revolt Industry, Gae Koen Tok, Broadway Barbershop, café-café hitz seperti Kabinet, Monopole, Communal, Three O’ Six, Sego Jamur, Dim Sum Mbledos, dan banyak lainnya.

Pokoke anak-anak Surabaya sekarang ga kalah kreatif dan sukses dibanding anak Jakarta atau Bandung lah. Nyenengno liate. Apalagi kalo doyan belanja online kan lumayan bisa hemat ongkir dengan COD-an.

Baiklah, sebelum tulisan ini jadi agak-agak delusional dan mengarah ke online shop, saya akan kembali ke jalur.

Anak-anak Surabaya ini jelas punya potensi besar menggerakkan kota tercintanya dengan hal-hal yang positif. Masih akan ada banyak bisnis-bisnis kreatif baru, local heroes, event-event seru, dan penggiat seni dan budaya yang secara vokal mengembangkan Surabaya.

Ga perlu jauh-jauh berkiblat ke Jakarta dan Bandung yang lebih dulu start-nya, kita hanya cukup fokus di sini, di tempat kita tinggal dan tumbuh.


Bagikan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here